SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Jumat, 19 September 2014



Perbankan Syariah Kini Jadi Acuan
Negara-Negara Pecahan Uni Soviet
Para ahli telah menghitung bahwa asset industri perbankan syariah di seluruh dunia akan menjadi 2,1 triliun USD, pada akhir 2014. Karena itu, Pemerintah di seluruh negara-negara pecahan bekas Uni Soviet semakin tertarik untuk menggunakan sistem perbankan syariah sebagai sistem perbankan yang sah.
Kazakhstan, negara pecahan Soviet, sangat antusias menerapkan sistem perbankan syariah Seperti halnya di Rusia. The Russian Banking Association (RBA) telah melobi Pemerintahnya untuk mengadopsi hukum federal yang mengatur pertumbuhan yang positif di bidang keuangan pada Federasi Rusia. Sehingga nantinya layanan perbankan di negara itu akan melarang perolehan pendapatan dari penjualan barang yang dilarang oleh Islam, seperti unggas babi, alkohol, senjata, serta juga melarang penerapan suku bunga pinjaman. RBA juga melobi untuk pembentukan Komite Syariah Pusat guna mengembangkan pedoman bagi perbankan syariah dan perizinan dengan prosedur Islam.
Persetujuan dari legislasi nasional pada subjek yang diajukan tersebut, telah membuat bank-bank Rusia berkembang pesat. Pada bulan Januari 2014, misalnya, bank AK Bar di Republik Otonomi Tatarstan mampu menarik 100 juta USD dari para investor Timur Tengah dan Teluk Persia.
Muslim Rusia sendiri diperkirakan akan meningkat hingga 20% dari total populasi pada tahun 2030, yang juga mencerminkan tren di Eropa Barat. Selain itu, isolasi terhadap Federasi Rusia dari lembaga keuangan Barat sebagai akibat dari sanksi, pelarian modal, dan peringkat kredit yang lebih rendah, telah menyebabkan negara itu mencari alternatif sumber kredit. Dan negara-negara Teluk telah membuktikan, bahwa Rusia adalah semenarik Negara-negara Asia Timur untuk melakukan investasi.
Kemajuan penerapan sistem  perbankan syariah di Rusia di atas, sesungguhnya mencerminkan minat yang lebih besar pada sektor perbankan syariah ini, di negara-negara eks pecahan Uni Soviet. Negara-negara pasca-Soviet seperti; Azerbaijan, Kazakhstan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Turkmenistan, memang telah bergabung dengan the Organization of Islamic Cooperation (Organisasi Kerjasama Islam) dan the Islamic Development Bank (IDB), sejak mereka merdeka, yang telah memfasilitasi pertumbuhan keuangan Islam di Kaukasus dan Asia Tengah.
Organisasi-organisasi ini juga telah menjadi sumber penting bagi pendanaan pembangunan bagi daerah-daerah di Negara-negara pecahan Sovyet. Dengan IDB baru-baru ini memberikan pinjaman kepada Uzbekistan dana sebesar 100 juta USD untuk proyek-proyek perumahan, melanjutkan pinjaman sebelumnya senilai 100 juta USD yang digunakan untuk memodernisasi beberapa stasiun tenaga air pasca Soviet-era.
Negara-negara pecahan Soviet memang sangat concern dengan sistem Perbankan Syariah. Contohnya saja, Kazakhstan. Baru-baru ini, Presiden Malaysia telah mengunjungi Presiden Kazakhstan – Nursultan Nazarbayev pada akhir Mei 2014 guna mendiskusikan potensi mengubah bekas ibukota Kazakhstan- Almaty menjadi pusat perbankan syariah untuk Asia Tengah, dengan mengambil pengalaman dari Malaysia sebelum ini. Nazarbayev berharap untuk mengubah bekas ibukota Kazakhstan – Almaty menjadi pusat perbankan syariah pada tahun 2020.
Lalu Al Hilal Bank, yang merupakan bank negara Abu Dubai, telah membuka tiga cabang di Kazakhstan sejak tahun 2010, dan the Islamic Bank for the Development of the Private Sector (ICD) telah bermitra dengan Kazakhstan’s Zaman Bank untuk mendirikan Islamic Finance Leasing Company pertama di negara tersebut dengan modal dasar 36 juta USD.
Negara-negara pecahan Soviet lainnya juga telah mengikuti tren perbankan syariah. Seperti Kyrgyzstan yang telah menyetujui peraturan baru dan undang-undang yang memperluas akses bagi warganya ke layanan perbankan syariah pada tahun 2013 lalu. Sedangkan Tajikistan juga telah mengeluarkan undang-undang yang sama pada Mei 2014.
Uzbekistan sendiri, mulai tahun lalu mulai meng-hire para ahli dari pusat Pengembangan Perbankan Syariah Pakistan untuk merampingkan pengembangan sektor perbankan syariah di Negara tersebut.
Di Azerbaijan, bank negara Azerbaijan telah membentuk Departemen Perbankan Syariah dan telah memberikan pembiayaan senilai 180 juta USD. Legislatif di negara ini telah mengatur sistem perbankan syariah untuk negara dengan mayoritas penduduknya 9 juta kaum Muslim Syiah tersebut, yang diharapkan regulasi tersebut akan selesai musim semi berikutnya.