SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Jumat, 19 September 2014



47 Produk Lolos Sertifikat Halal MUI

Lembaga Pangkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) mengaudit 47 produk yang lolos sertifikat halal. Produk tersebut adalah makanan, minuman dan kosmetik.
Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetik Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) mengaudit 47 produk yang lolos sertifikat halal. Diantaranya 11 produk baru, 10 produk pengembangan dan 26 produk perpanjangan sertifikat halal. Produk yang lolos sertifikat halal tersebut adalah makanan, minuman dan kosmetik.
Hal itu terungkap dalam rapat harian LPPOM MUI yang dipimpin oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Prof Dr. Hasanudin AF dan Wakil Direktur LPPOM MUI Muti Arintawati serta anggota komisi fatwa, di aula gedung MUI Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Hasanudin mengatakan pengusaha tentu ingin melakukan usahanya dengan jujur dan halal. Adanya kepercayaan antara konsumen dan produsen atau sebaliknya akan berdampak pada perkembangan usaha tersebut. “Dengan melakukan sertifikat halal akan mampu mendatangkan keuntungan bagi pengusaha,” tegas Hasanudin.
Keuntungan lain bagi pengusaha yang telah mendapatkan sertifikat halal adalah memperoleh rasa tenang. Pengusaha akan merasa kalau konsumennya terpuaskan dengan produk yang dipasarkannya.
Menurut Hasanudin, sertifikat halal diperlukan agar konsumen mendapatkan ketenangan dalam mengkonsumsi produk atau makanan. Karena bahan-bahan dan proses pengolahan produk tersebut sudah teraudit oleh LPPOM MUI. Namun demikian, tegas Hasanudin, biasanya pengusaha enggan mengajukan sertifikat halal karena mereka sudah merasa produknya tidak akan lolos uji.”Dalam komposisi produknya ada yang meragukan, tapi bisa saja tidak haram, Tapi pengusaha enggan mendaftarkan untuk sertifikat halal,” ujarnya.
Oleh sebab itu, tambah Hasanudin, hal utama dalam sertifikat halal adalah adanya keyakinan dari pihak pengusaha dalam memasarkan produknya adalah halal. Keyakinan tersebut membuat pengusaha bisa diverifikasi oleh LPLPOM MUI dengan menurunkan tim ahli yang sudah terlatih. Jika LPPOM sudah mengaudit, MUI akan memberikan fatwa halal berupa sertifikat halal sehingga produk tersebut aman dikonsumen konsumen.
Terkait dengan audit 47 produk yang lolos sertifikat halal dalam bahasan rapat LPPOM MUI, Rabu (10/9/2014), Hasanudin mengatakan produk baru, pengembangan produk maupun perpanjangan sertifikat halal, proses auditnya sama. Yang intinya sudah melalui proses audit oleh LPPOM MUI baik bahan-bahan, proses pengolahan, proses kemasan, dan sebagainya. Sehingga produk tersebut sangat aman dikonsumsi konsumen.
Adapun terkait 11 produk baru adalah pengusaha yang bersertifikat halal, dan 10 pengembangan adalah perusahaan yang bersertifikat halal tersebut mengembangkan produk dengan menambahan bahan-bahan yang sudah diaudit LPPOM MUI dan dinyatakan halal. Sedangkan perpanjangan sertifikat halal, adalah perusahaan yang memperpanjang sertifikat halalnya pada tahun berikutnya.