SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Jumat, 19 September 2014



Pilih-Pilih Asuransi Syariah,mau
yang Reguler atau Unit Link?

Saat ini semakin banyak produk-produk asuransi jiwa syariah yang ditawarkan ke khalayak luas masyarakat. Mulai dari perusahaan asuransi jiwa syariah lokal, sampai perusahaan asuransi jiwa asing yang mempunyai cabang/divisi syariah di Indonesia, semuanya sama-sama bersaing guna menawarkan produk-produk asuransi jiwa syariah mereka dengan kelebihannya masing-masing.
Saat ini, produk asuransi jiwa syariah yang marak ditawarkan ke khalayak masyarakat luas di tanah air adalah produk asuransi jiwa syariah unit link. Keberadaan produk asuransi jiwa syariah satu ini, semakin memperkaya ragam pilihan produk yang termasuk dalam program pengelolaan perencanaan keuangan bagi keluarga.
Menurut perencana keuangan – Mike Rini Sutikno dari MREdu (Mike Rini &
Assosiates – Financial Counselling & Educations ), dengan karakteristiknya yang menggabungkan prinsip perlindungan, maupun juga investasi (two in one), maka produk asuransi jiwa syariah unit link merupakan produk yang layak dipertimbangkan oleh khalayak masyarakat luas, yang menginginkan bisa memiliki kedua instrumen asuransi dan investasi berlabel syariah itu, namun dana mereka terbatas. Dengan memiliki produk asuransi syariah unit link, maka bagi para pribadi tak perlu capai-capai menyiapkan dana asuransi sendiri, maupun dana investasi sendiri, karena semuanya sudah tercakup didalam produk tersebut.
Lebih lanjut, jelas Mike Rini, produk asuransi syariah unit link ini memang produk keuangan syariah yang menarik bagi para pribadi, maupun keluarga di tanah air.
“Menarik, karena seseorang mungkin dananya tidak terlalu besar untuk bisa membeli kedua-duanya, yaitu asuransi sekaligus berikut investasi. Lalu, pengetahuan seseorang terhadap masing-masing produk asuransi maupun investasi itu, mungkin juga dia tidak tahu terlalu banyak, atau masih terbatas. Sehingga kenapa orang-orang membeli produk gabungan ini? Biasanya yang dituju adalah sifatnya kepraktisan,” demikian papar Mike Rini, menjelaskan fenomena masyarakat luas di tanah air yang sekarang mulai banyak tertarik membeli produk asuransi jiwa syariah berkarakteristik unit link.
Lebih lanjut, menurut Mike Rini, produk asuransi jiwa syariah unit link syariah ini lahir, karena strategi antisipasi resiko keuangan keluarga itu harus ada didalam perencanaan keuangan masing-masing keluarga.
“Siapapun yang memiliki tanggungan dan juga kewajiban, yaitu terhadap anak-anak, maupun pasangan, maka untuk tanggung-jawab secara finansial, dia sudah harus memiliki asuransi. Antisipasi resiko ini diperlukan guna mengantisipasi pengeluaran tak terduga, serta kondisi ekonomi yang serba tidak pasti di masa depan. Namun itu saja belum cukup. Sebuah keluarga juga harus memiliki rencana, bagaimana mempersiapkan masa depannya yang sejahtera. Nah, ini bisa dicapai dengan yang namanya investasi. Namun masalahnya adalah, terkadang sebuah keluarga memiliki keterbatasan dana. Kalau misalnya mereka harus membeli asuransi sendiri, lalu investasi sendiri, apakah dana mereka akan cukup? Dan bukan saja apakah dananya cukup, namun apakah waktu dan pengetahuan mereka juga cukup? Karena itulah muncul yang namanya produk 2 in 1 ini, asuransi syariah plus investasi syariah, atau lebih dikenal dengan nama unit link,” papar Mike Rini lebih jauh.
Namun, menurut Mike Rini, produk asuransi jiwa syariah plus investasi unit link ini, belum tentu disukai oleh semua kalangan keluarga.
“Jadi, konsep keuangan atau perencana keuangan yang cocok untuk seseorang, atau sebuah keluarga belum tentu cocok untuk seseorang yang lain. Karena ada orang yang nggak suka dengan produk yang bersifat two in one. Jadi, pembeli unit link itu sebenarnya bergantung kepada kecocokan pribadi si nasabah, atau profil si investor. Misalnya, seseorang yang memang punya waktu dan punya pengetahuan yang cukup tentang berinvestasi di pasar modal syariah, maka mereka mungkin lebih nyaman untuk membeli asuransinya secara tersendiri dan investasinya juga sendiri. Namun, bagi mereka yang awam tentang reksadana syariah, Jakarta Islamic Index, dan sejenisnya, maka dia tidak disarankan untuk membeli produk investasi sendiri yang berasal dari pasar modal syariah. Karena memang beresiko buat mereka membeli suatu produk yang tidak diketahui. Jadi mereka bisa membeli unit link syariah ini,” papar Mike Rini lagi bersemangat.
Menurut Mike Rini, produk unit link syariah ini memang disarankan bagi seseorang yang berniat investasinya untuk jangka panjang. Artinya, dia memiliki dana yang menganggur. Namun tidak bagi mereka yang berniat berinvestasi jangka pendek, yang mana dana mereka juga tidak menganggur.
“Nah, kalau misalnya dananya itu ternyata mau dipakai, setahun atau dua tahun lagi, itu sama sekali nggak cocok di unit link syariah ini. Apalagi jika unit link itu mengenakan biaya-biaya, yang memang dipotong di awal dan diambil dari uangnya si nasabah. Jadi, kalau seseorang yang mempunyai dana, tapi dananya itu bukan dana menganggur, dalam artian dia ingin pakai kembali dalam satu atau dua tahun ke depan, maka lebih baik dia memilah-milah penempatannya, yaitu untuk asuransi sendiri, dan juga tabungan sendiri. Kenapa tabungan? Maksud saya, ini untuk yang belum mengerti tentang reksadana atau saham,” lanjut Mike Rini.
Mike Rini lalu menambahkan, meskipun keberadaan asuransi jiwa syariah unit link ini cukup menarik minat masyarakat, namun demikian unit link syariah ini tidak akan menggeser secara drastis keberadaan asuransi jiwa syariah yang reguler.
“Kalau orang membeli asuransi jiwa syariah yang murni, artinya tanpa investasi, berarti dia hanya butuh proteksi saja, dan dia tidak butuh investasi. Atau alasannya, bisa jadi karena dana dia pas-pasan. Atau karena horizon investasi mereka memang untuk jangka pendek, sehingga nggak cocok untuk unit link syariah. Jadi, pasar asuransi jiwa syariah murni masih tetap akan ada,” demikian Mike Rini Sutikno menutup perbincangan dengan Mysharing.