SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Rabu, 15 Oktober 2014



TEORI DAN ANALISIS PRODUKSI

A. Pendahuluan
            Produksi adalah bagian terpenting dari ekonomi Islam bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu dari rukun ekonomi disamping konsumsi, distribusi, redistribusi, infak dan sedekah. Karena produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfaatkan oleh konsumen. Pada saat kebutuhan manusia masih sedikit dan sederhana, kegiatan produksi dan konsumsi dapat dilakukan dengan manusia secara sendiri. Artinya seseorang memproduksi barang/jasa kemudian dia mengonsumsinya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan beragamnya kebutuhan konsumsi serta keterbatasan sumber daya yang ada (kemampuannya), maka seseorang tidak dapat lagi menciptakan sendiri barang dan jasa yang dibutuhkannya, akan tetapi membutuhkan orang lain untuk menghasilkannya. Oleh karena itu kegiatan produksi dan konsumsi dilakukan oleh pihak-pihak yang berbeda. Dan untuk memperoleh efisiensi dan meningkatkan produktifitas lahirlah istilah spesialisasi produksi, diversifikasi produksi dan penggunaan tehnologi produksi.  
Dalam Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, saw. konsep produksi barang dan jasa dideskripsikan dengan istilah-istilah yang lebih dalam dan lebih luas. Al-Qur’an menekankan manfa’at dari barang yang diproduksi. Memproduski suatu barang harus mempunyai hubungan dengan kebutuhan hidup manusia. Berarti barang itu harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan bukannya untuk memproduksi barang mewah secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia, karenanya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut dianggap tidak produktif. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an yang tidak memperbolehkan produksi barang-barang mewah yang berlebihan dalam keadaan apapun. (Afdzalurrahman, 1995; 193). Oleh karena itu, konsep produksi yang dianggap sebagai kerja produktif dalam Islam adalah proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang sangat dibutuhkan manusia. Dan kerja produktif semacam ini dapat diistilahkan sebagai ‘amal saleh’ yang mengandung banyak kemaslahatan dan keberkahan. 
Maka dalam hal ini, prinsip fundamental yang harus diperhatikan dalam produksi adalah prinsip tercapainya kesejahteraan ekonomi. Selanjutnya Mannan menyatakan: “Dalam sistem produksi Islam, konsep kesejahteraan ekonomi digunakan dengan cara yang lebih luas, konsep kesejahteraan Islam terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dari hanya barang-barang berfaedah melalui pemanfa’atan sumber-sumber daya secara maksimum baik manusia maupun benda demikian juga melalui ikut-sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi”. (Eko Suprayitno; 2008: 178-179). Dengan demikian semakin bertambahnya income pendapatan manusia dan semakin banyaknya unsure manusia yang terlibat dalam kegiatan produksi maka kesejahteraan manusia akan dapat terwujud secara lebih luas. Oleh karena itu strategi yang yang tepat dalam peningkatan kesesajahteraan manusia adalah strategi kelayakan hidup manusia dalam istilah ekonomi Islam disebut dengan “Haddul kifayah”. Karena dalam batas minimal inilah ekonomi Islam dapat dikatakan berhasil sebagai ilmu yang dapat mengantarkan manusia menuju kesejahteraan hidup.      


                        
A. Atribut Fisik dan Nilai Dalam Produk
            Suatu produk yang dihasilkan oleh produsen akan menjadi berharga atau bernilai jika produk tersebut memiliki atribut fisik dan nilai yang dipandang berharga bagi konsumen. Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Kelvin Lanscarter pada tahun 1966 M. maka sebelum teori atribut fisik ini dilahirkan, teori-teori sebelumnya masih menggunakan asumsi bahwa yang diperhatikan oleh konsumen adalah produknya. Maksud atribut fisik dalam suatu barang adalah; bahan baku barang, kualitas keawetan barang, bentuk atau desain barang dan lain-lain. Atribut suatu barang pada esensinya sangat menentukan peran fungsional dari barang tersebut dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Sedangkan nilai suatu barang akan memberikan kepuasan pesikis kepada konsumen sebagai pemanfaat produk barang tersebut. Sedangkan nilai ini berbentuk dalam citra atau merk barang tersebut, sejarah, reputasi produsen, dan lain-lain.
            Misalkan; dua barang yang memiliki atribut fisik sama belum tentu memiliki harga sama di hadapan konsumen kerena perbedaan nilai yang ada dalam barang tersebut. Contoh saja dua stick olahraga golf yang memiliki spesifikasi teknis sama, tetapi harganya berbeda karena merknya berbeda. Stick olahraga golf bermerk terkenal harganya lebih mahal dibandingkan yang tidak terkenal, meskipun bahannya sama, desain modelnya sama dan tentu saja fungsinya sama. Tekadang harga barang bisa jauh melampui nilai fungsionalnya karena tingginya nilai non-fisik yang ada padanya. Sebagai contoh adalah stick pegolf terkenal tingkat dunia yang dilelang dengan harga yang sangat tinggi dan tidak masuk akal untuk sebuah stick olahraga golf. Maka dalam hal ini, konsumen tidak melihat stick golf ini sebagai atribut fisik yang berfungsi untuk olahraga golf saja, akan tetapi nilai sejarah yang melekat pada stick golf tersebut sebagai penyandang puncak kesuksesan pemiliknya. Maka dengan adanya nilai sejarah pada stick golf inilah yang menjadikan harga stick golf ini menjadi sangat mahal dan sangat berharga bagi konsumen.
            Atribut fisik suatu produk pada dasarnya bersifat objektif yang dapat dikomparasikan dengan jenis produk lainnya, akan tetapi nilai produk itu bernilai subjektif sehingga faktor inilah yang membedakan harga suatu produk. Dalam pandangan ekonomi Islam produk merupakan kombinasi dari atribut fisik dan nilai (value). Konsep ekonomi Islam tetang atribut fisik suatu produk tidak berbeda dengan pandangan ekonomi konvensional pada umumnya. Dalam teori ekonomi Islam tentang atribut fisik ini terdapat dalam Hadis Rasulullah, saw. yang telah dijadikan sebagai kaidah fiqih yang mengatakan: “Laa Dzarara Wa La Dzirara”, yang berarti: Tidak melakukan sesuatu yang bermadzarat dan tidak melakukan sesuatu yang menimbulkan kemadzaratan. Dari kaidah Fiqih ini, apabila kita aplikasikan dalam sistem ekonomi Islam maka akan melahirkan sebuah kaidah: “Tidak boleh melakukan transaksi ekonomi pada sesuatu yang bermadzarat dan tidak boleh melakukan sesuatu yang akan menimbulkan kemadzaratan”. Dari kaidah di atas ada dua hal yang patut dicermati bersama, yaitu: “Tidak boleh melakukan transaksi ekonomi pada sesuatu yang bermadzarat” berarti menjelaskan pada intrinsik produk ekonomi. Sedangkan “... dan tidak boleh melakukan sesuatu yang akan menimbulkan kemadzaratan”, kaidah ini dapat dikatakan bermaksud pada sebuah faktor eksternal diantaranya adalah atribut fisik suatu produk. Maka dalam hal ini secara mafhum mukholafah (konteks kontraproduktif) dalam sebuah transaksi ekonomi yang berkenaan dengan harga berarti boleh melakukan sesuatu yang menjadikan nilai itu bermanfaat, dalam sebuah statemen pasar berarti boleh menjual sesuatu yang mempengaruhi produk itu menjadi mahal.
Otomatis atribut fisik ini boleh diperjual belikan yang melekat pada produk itu sehingga harga sebuah produk ini menjadi mahal karena faktor atribut fisik ini. 
Sedangkan konsep nilai yang harus ada dalam setiap barang harus sesuai dengan syariah. karena nilai suatu produk dalam Islam itu sangat berbeda dalam pandangan konvensional. Menurut ekonomi konvensional setiap produk yang dapat diperjual-belikan di pasar maka produk itu berarti memiliki nilai. Sedangkan dalam Islam tidak demikian, karena suatu produk bisa dikatakan bernilai apabila produk itu halal. Dan secara intrinsik produk itu halal secara syariah apabila tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Menurut Jumhur Ulama’ suatu produk bisa dikatakan bernilai apabila secara intrinsik produk itu halal artinya tidak kejadian dari suatu yang haram. Maka apabila produk itu kejadian dari yang haram maka produk itu dianggap tidak bernilai dan tidak bermartabat. Dengan demikian setiap barang dan jasa dalam Islam adalah bernilai dan bermartabat, maka barang/jasa itu mengandung keberkahan dan akibatnya membawa kemaslahatan bagi manusia. Maka setiap produk (barang/jasa) yang tidak bernilai, maka produk (barang/jasa) tidak mengandung keberkahan sehingga tidak dapat memberikan kemaslahatan, sebab berkah merupakan elemen penting dalam konsep maslahah.
            Dari sisi lain yang terdeskripsikan dalam proses pembuatan produk, misalkan adanya dua merk stick golf yang mana satu jenis stick golf diproduksi oleh sebuah perusahaan M yang melakukan eksploitasi terhadap tenaga kerjanya, sedangkan perusahaan yang lainnya T sangat menghargai tenaga kerjanya. Sebagaimana telah diketahui bahwa eksploitasi terhadap tenaga kerja sangat bertentangan dengan nilai-nilai dalam ekonomi Islam. Meskipun atribut fisik kedua stick golf tersebut sama, tetapi kedua raket tersebut akan dihargai berbeda. Stick golf yang diproduksi oleh perusahaan M tidak mengandung berkah karena proses produksinya tidak sesuai dengan syariah yaitu dengan melakukan bentuk eksploitasi, maka produk ini tidak berharga sehingga tidak mengandung maslahah, sehingga para konsumen emoh memilihnya.
            Dengan demikian sangat jelas bahwa suatu produk harus memiliki atribut fisik yang halal dan proses pembuatan produksi juga halal, sehingga akan menjadikan berkah yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan lingkungannya. Dengan penjelasan di atas kuantitas produk dapat diekspresikan dalam sebuah rumus, sebagai berikut:
(Qm =   qf  +  qb)
Dimana

Qm      :   Barang yang memiliki maslahah
qf         :   Atribut fisik barang
qb        :   Berkah barang tersebut.

B. Input Produksi dan Berkah
            Aktifitas produksi membutuhkan berbagai jenis sumber daya ekonomi yang lazim disebut input atau faktor produksi, yaitu semua bentuk faktor yang memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam sebuah proses produksi. Maka faktor-faktor produksi ini terdeskripsikan dalam faktor sumber daya alam, faktor finansial, faktor sumber daya manusia dan faktor waktu. Misalkan dalam sebuah perusahaan produksi mobil. Pemroduksian mobil tidak bisa dibuat hanya dengan tersedianya besi atau karet saja, atau ada tenaga kerja saja, atau ada pengusaha mobil saja, tetapi merupakan kombinasi antara berbagai faktor produksi sebagai input produksi.
Sebuah mobil dapat sampai ke tangan konsumen didukung oleh kombinasi dari berbagai macam faktor produksi diantaranya harus tercukupinya bahan-bahan; besi, karet, aluminium dan lain-lain yang diolah secara manual maupun dengan dibantu mesin, dan kemudian setelah menjadi mobil dijual atau disalurkan oleh para distributor kepada konsumen. Maka dalam proses pemroduksian mobil tersebut selain membutuhkan koordinasi manajerial seorang manajer dan juga gagasan-gagasan dan ide-ide para usahawan yang dalam hal ini adalah masuk dalam faktor sumber daya manusia. Dan untuk menggerakkan semua faktor itu membutuhkan modal finansial dalam rangka membiayai semua proses produksi tersebut. Demikian pula barang-barang sederhana lainnya yang bernilai rendah, misalnya benang jahit, sesungguhnya juga membutuhkan proses yang panjang dengan melibatkan berbagai faktor produksi untuk menghasilkannya.
            Dalam kaitannya dengan hal ini, sebenarnya tidak ada kesepakatan yang bulat tentang klasifikasi faktor produksi. Perbedaan dasar klasifikasi faktor produksi ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, contohnya ketidaksamaan dalam pembuatan definisi, karakteristik, maupun peran dari masing-masing faktor dalam menghasilkan output, atau bentuk harga atau biaya (cost) atas suatu faktor produksi. Contoh terakhir ini misalnya dalam ekonomi konvensional harga atau biaya dari tanah adalah sewa disebut dengan (rent), biaya yang dihasilkan dari tenaga kerja disebut upah/gaji (wage) dan biaya atau hasil dari investasi modal finansial adalah bunga (interest), yang menurut ekonomi Islam sistem bunga adalah haram hukumnya sehingga ekonomi Islam memberikan alternatif lain bahwa hasil dari investasi modal finansial adalah berupa bagi hasil kerugian dan keuntungan (profit and loss sharing).
            Secara mendasar, faktor produksi atau input ini secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu; input manusia (human input) dan input non-manusia (non human input). Yang termasuk dalam input manusia adalah semua bentuk manajerial, ide-ide, gagasan pemikiran, tenaga, perasaan dan hati yang bersumber dari diri manusia. Sedangkan yang termasuk dalam input non-manusia adalah sumber daya alam (natural resources), kapital (financial capital), mesin, alat-alat, gedung dan input-input fisik lainnya (physical capital). Maka klasifikasi input menjadi input manusia dan non-manusia ini didasarkan pada argumen-argumen sebagai berikut, yaitu:

1. Manusia adalah faktor produksi terpenting dari faktor-faktor produksi lainnya. Dan manusia juga dikatakan sebagai faktor produksi utama (main input), karena manusia adalah sebagai faktor produksi yang dapat menggerakkan semua faktor produksi lainnya termasuk menggerakkan faktor produksi manusia lainnya untuk dapat memberdayakan semua potensi ekonomi yang dimilikinya sehingga dapat bekerja sesuai dengan kompetensinya. Maka manusia adalah faktor produksi yang memiliki inisiatif atau ide, mengorganisasi, memproses dan memimpin semua faktor produksi sehingga menghasilkan suatu produk yang bermanfa’at untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan faktor non-manusia adalah input pendukung (supporting input) sebagai faktor terpenting kedua setelah manusia. Karena manusia tidak dapat hidup dan berekonomi kecuali didukung oleh faktor non-manusia (Faktor materiil). Oleh karena itu, dalam menghasilkan output secara maksimal manusia membutuhkan faktor produksi materiil, akan tetapi tanpa manusia barang dan jasa tidak akan optimal dalam memberikan manfa’at. Misalnya: Petroleom yang masih berada di dasar bumi dalam bentuk aslinya tidak akan memberikan manfa’at apabila tidak ditambang dan diolah oleh manusia.
Demikian juga tambang batu bara yang masih berada di perut bumi tidak akan dapat memberikan kebermanfa’atan tanpa sentuhan tangan-tangan terampil manusia. Demikian juga tambang emas yang masih di dalam perut bumi tidak menjadi perhiasan yang berharga tinggi apabila tidak diolah dan dikelola oleh manusia yang terampil. Oleh karena itu usaha manusia adalah faktor terpenting dalam pengelolaan barang dan jasa sehingga benar apa yang dikatakan Ibnu Khaldun (1263-1328) yang menganggap bahwa manusia adalah faktor terpenting dan merupakan sumber utama nilai barang dan jasa.

2. Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki berbagai macam karakteristik yang tidak dimiliki oleh faktor-faktor produksi lainnya. Manusia adalah ciptaan Allah yang diberikan kemulyaan Allah sebagai khalifah di muka bumi ini. Sehingga memiliki karakteristik yang sangat istimewa yang membedakan faktor-faktor produksi lainnya. Manusia pasti tidak dapat disamakan dengan sumber daya alam, gedung, uang dan faktor produksi fisik lainnya. Secara umum sumber daya non-manusia dapat diperdagangkan sesuai dengan mekanisme pasar maka sumber daya non-manusia dapat disebut sebagai barang/jasa. Sedangkan manusia adalah manusia yang tidak berupa harta benda (barang/jasa) maka tidak dapat diperjual-belikan dalam mekanisme pasar. Karena harta benda (barang/jasa) menurut definisi Mustafa Ahmad Zarqa’ adalah: Segala sesuatu yang mempunyai nilai materi di kalangan masyarakat. Maka manusia tidak termasuk di dalamnya, sehingga jika terjadi perdagangan manusia (human smugling) maka hukumnya haram dalam perspektif ekonomi Islam.

Maka ketika harta benda (barang/jasa) itu halalan tayyiban, keberkahan pun akan menyertainya. Halalan tayyiban maksudnya adalah halal secara nilai intrinsiknya, halal proses dan halal dampak dari proses transaksinya sehingga keberkahan akan menyertai barang dan jasa itu. sehingga menjadikan output bahwa barang/jasa yang berkah akan berdampak kepada kemaslahatan. Oleh karena itu, bagaimanapun sistem pengklasifisiannya bahwa berkah harus dimasukkan dalam input produksi. Karena berkah tersebut melekat pada setiap input yang digunakan dalam berproduksi dan juga melekat pada proses produksi sehingga output produksinya akan mengandung berkah. Memasukkan berkah sebagai input produksi adalah rasional, sebab berkah mempunyai andil (share) nyata dalam membentuk output. Dalam alam kasat mata input berkah memang tidak bersifat materi sebagaimana faktor-faktor produksi lainnya, akan tetapi input human capital juga tidak bersifat materi dan bisa dimasukkan dalam input produksi. Dengan demikian, produk yang dihasilkan dengan menggunakan human capital yang kualitasnya rendah akan menghasilkan produk yang berkualitas rendah juga, demikian juga sebaliknya, produk yang dengan mempergunakan human capital yang berkualitas tinggi akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Demikian halnya, barang/jasa yang diproduksi dengan input berkah akan menghasilkan output yang bertambah berkah sehingga nilai kemaslahatannya semakin bertambah, demikian juga sebaliknya barang/jasa yang diproduksi dengan input yang tidak berkah akan menghasilkan output yang tidak berkah bahkan berdampak pada kemadzaratan dan kerusakan.

C. Kemuliayaan Harkat Kemanusiaan Sebagai Karakter Produksi
            Tujuan produksi dalam Islam adalah untuk memberikan kemaslahatan yang optimum kepada konsumen dan manusia secara umum. Dengan kemaslahatan yang optimum ini, bertujuan untuk mendapat falah  sebagai tujuan akhir dari kegiatan ekonomi yang juga merupakan tujuan akhir hidup manusia.
Yang hal ini telah dijelaskan secara detail pada pembahasan terdahulu, dan falah adalah bentuk keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat yang akan memberikan kebahagiaan yang hakiki bagi manusia. Dan kebahagiaan yang hakiki inilah merupakan wujud dari tercapainya kemulyaan bagi kehidupan manusia. Maka dengan memahami alur tujuan kegiatan produksi ini, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa karakter penting produksi dalam ekonomi Islam adalah perhatiannya terhadap kemuliaan harkat dan martabat manusia, yaitu mengangkat kualitas dan derajat hidup kemanusiaan manusia. Kemuliaan harkat kemanusiaan harus mendapat perhatian besar dan utama dalam semua aktifitas produksi, maka keseluruhan kegiatan produksi yang tidak sesuai dengan pemuliaan harkat kemanusiaan dapat dikatakan kontradiktif dengan ajaran-ajaran Islam.
            Penjelasan karakter produksi diatas membawa implikasi penting dalam teori produksi, sebagai contohnya dalam memandang kedudukan manusia khususnya tenaga kerja (human capital) dengan modal finansial (financial capital). Dalam perspektif konvensional, tenaga kerja dan kaptal finansial memiliki kedudukan yang setara dimana keduanya adalah substitusi sempurna. Artinya penggunaan tenaga kerja sama dengan harga dalam penggunaan kapital finansial yang dapat dipergunakan secara penuh berdasarkan pertimbangan efesiensi dan produktifitas. Seandainya penggunaan teknologi padat kapital (capital intensive) lebih murah daripada teknologi padat tenaga kerja (labor intensive), maka produsen akan memilih dan mempergunakan teknologi yang padat kapital. Sebaliknya, jika teknologi padat tenaga kerja lebih menguntungkan, maka produsen akan lebih memilihnya daripada teknologi padat kapital. Dalam praktek empiris, implementasi konsepsi substitusi ini telah menimbulkan berbagai permasalahan ekonomi sosial yang kompleks. Eksploitasi upah buruh, pemutusan hubungan kerja dan berbagai bentuk dehumanisasi kegiatan produksi merupakan implikasi nyata dari konsep substitusi ini.
            Dalam ekonomi Islam, sangat berbeda dengan konsep ekonomi konvensional, karena ekonomi Islam lebih menitikberatkan faktor manusia sebagai perhatian terpenting dalam teori produksi. Maka dalam hal ini, ekonomi Islam lebih memilih faktor tenaga kerja (human capital) dari pada faktor modal finansial (financial capital). Karena dalam perspektif ekonomi Islam tenaga kerja memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada faktor modal finansial. Dan seandainya penggunaan teknologi padat capital (capital intensive) sama harganya dengan penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive), tentu lebih memilih penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive), karena penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive) lebih melihat pada sisi keuntungan dari berbagai dimensi, tidak hanya dari pihak produsen akan tetapi juga sangat memperhatikan pihak tenaga kerja, output tenaga kerja dan kepuasan konsumen. Di pihak produsen bagaimana proses produksi ini harus tetap menguntungkan secara finansial kepada produsen. Dalam ekonomi Islam, tidak melihat pada nilai finansial keuntungan produsen saja akan tetapi produsen juga akan mendapatkan pahala akhirat karena telah dapat memberikan penghidupan bagi tenaga kerjanya secara ikhlas. Disisi lain, kebahagiaan bathiniyah bagi produsen telah terpenuhi karena telah memberikan kontribusi untuk kehidupan para tenaga kerjanya dan juga sekaligus mereka menjadi teman kerja yang dapat membantu kegiatan proses produksi para produsen.
            Dari sisi pihak tenaga kerja, ekonomi Islam memandang bahwa penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive) memiliki nilai keberkahan yang lebih dari teknologi yang hanya mengandalkan mesin padat capital, karena sentuhan tangan manusia yang ikhlas lebih memberikan rasa lebih terhadap keberkahan dan keuntungan output produksi.
Dengan semakin banyaknya teknologi yang berbasiskan padat tenaga kerja akan dapat memberikan income pendapatan bagi kehidupan manusia yang sekaligus menyelamatkan mereka dari kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi yang sekaligus menyelamatkan aqidah mereka. Dan ini merupakan bagian dari tujuan-tujuan ekonomi Islam. Disisi lain, karena para tenaga kerja yang ikhlas dan profesional akan selalu mendo’akan keberhasilan proses produksi sehingga keberkahannya melekat pada hasil produksi yang akan memiliki daya tarik tersendiri dalam hati para konsumen.
            Berkaitan dalam hal ini dapat diklasifikasikan bahwa substitusi antara manusia/tenaga kerja dengan modal kapital dibagi menjadi dua jenis, yaitu: (1) Substitusi natural dan (2) Substitusi yang dipaksakan (forced substitution).
            Untuk mendapatkan deskripsi yang lebih jelas tentang jenis substitusi tersebut dapat kita gambarkan kembali pada masa kehidupan kuno tatkala manusia masih rendah kualitas ketenagakerjaannya. Dapat kita asumsikan bahwa manusia dalam kondisi tersebut jumlahnya amat banyak sehingga tingkat upah yang didapatkannya sangatlah rendah. Maka dalam situasi seperti ini kegiatan produksi akan menggunakan banyak tenaga kerja. Selanjutnya ketika manusia-manusia tersebut telah mampu hidup lebih baik dari hasil pendapatan yang mereka peroleh sehingga dapat meningkatkan kualitas ketenagakerjaan anak-anaknya melalui pendidikan dan peningkatan keahlian, maka mereka akan bisa lebih menggunakan sumber daya ketenagakerjaan mereka dengan lebih baik. Seorang anak petani yang diberi bekal baik tidak akan lagi bekerja di sektor pertanian yang hasilnya minim karena mereka mampu memasuki pasar tenaga kerja yang memberikan kompensasi yang lebih tinggi. Sebagai konsekuensinya mereka akan memperoleh kompensasi yang lebih besar atas pekerjaan mereka.
Proses tersebut terjadi terus menerus dari generasi ke generasi sehingga jumlah manusia yang mempunyai keahlian yang rendah menjadi sangat sedikit. Sebagai akibatnya, pada suatu saat tingkat pemberian kompensasi menjadi sangat tinggi.
            Dengan kualifikasi manusia yang sudah tinggi seperti ini, maka menjadi tidak bijaksana jika manusia-manusia dengan kualifikasi tinggi ini digunakan untuk memproduksi barang-barang yang remeh, bernilai rendah. Mereka tentu akan diarahkan untuk memproduksi barang-barang yang mempunyai nilai tinggi sehingga bisa meningkatkan harkat hidup dan kemanusiaan. Pada tahap ini maka akan timbul masalah, yaitu ketika setiap manusia sudah dimanfa’atkan untuk produksi yang menciptakan nilai kemaslahatan yang tinggi, maka siapa yang akan menangani pekerjaan-pekerjaan yang remeh atau bernilai rendah di atas?. Disinilah manusia menciptakan peralatan, yang notabene sebagai kapital, untuk menggantikan manusia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh yang sudah ditinggalkan manusia. Kalau kita melihat pada titik terakhir ini saja tanpa melihat proses yang terjadi di belakangnya, maka kita hanya bisa melihat bahwa telah terjadi substitusi dari kapital untuk manusia (tenaga kerja). Namun, jika kita lihat dalam perspektif yang panjang sebagaimana yang dipaparkan di muka maka sebenarnya yang tampak sebagai substitusi ini hanyalah equipping.
            Hal ini manusia dibekali/dilengkapi (equipped) dengan peralatan agar bisa mengatasi masalah yang dihadapi dalam rangka menciptakan nilai maslahah yang lebih tinggi. Tanpa adanya equipping ini maka bisa dipastikan akan terjadi pemborosan sumber daya. Sumber daya manusia yang bernilai sangat tinggi dalam contoh ini terpaksa harus menjalankan produksi barang-barang yang remeh (meskipun remeh, tetapi tetap juga menjadi kebutuhan manusia sehingga tetap harus diproduksi).
           
Dengan melihat ilustrasi di atas, kita dapat mengatakan bahwa equipping tersebut sebagai substitusi yang natural. Substitusi natural ini banyak dijumpai dalam banyak kehidupan manusia. Islam sangat merekomendasikan terjadinya substitusi natural ini karena sifat substitusi natural ini adalah untuk mendapatkan maslahat yang lebih besar bagi manusia secara keseluruhan.
Sebaliknya Islam tidak merekomendasikan adanya substitusi yang dipaksakan (forced). Hal ini disebabkan karena substitusi yang dipaksakan akan menimbulkan kesengsaraan hidup manusia yang justru menurunkan harkat kemanusiaan manusia, yang tentu saja bertentangan dengan tujuan Islam itu sendiri. Pandangan konvensional tentang tenaga kerja adalah substitusi sempurna, hal ini merupakan bentuk substitusi yang dipaksakan. Ketika ketersediaan tenaga kerja masih cukup banyak, tingkat upah yang manusiawi juga masih bisa dijangkau, dan perusahaan tidak dalam kondisi darurat, maka penggunaan kapital untuk mensubstitusi tenaga kerja adalah merupakan bentuk substitusi yang dapaksakan.
            Dengan mendasarkan diri pada hal ini, maka perlu dicari atau dibentuk suatu konsep produksi yang mendudukkan manusia sebagai pusat dari semua kegiatan produksi. Substitusi natural prosesnya terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, konsep produksi yang menunjukkan adanya substitusi natural antara kapital dan manusia (tenaga kerja) adalah merupakan konsep dengan horison waktu jangka sangat panjang. Sementara paradigma berproduksi sebenarnya adalah paradigma jangka pendek atau bahkan jangka sangat pendek. Dengan demikian, menjadi tidak tepat jika konsep produksi jangka sangat panjang digunakan untuk menggambarkan perilaku yang sebenarnya jangka pendek.
  
D. Eksplorasi dan Pembentukan Konsep Produksi
            Dengan memperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, maka dibutuhkan sebuah konsep yang sama sekali lain dari apa yang selama ini sudah ada. Konsep ini dilandaskan pada nilai-nilai Islam yang kemudian dirumuskan menjadi suatu konsep produksi.

1. Eksplorasi Nilai dan Prinsip Islam dalam Produksi
            Semangat produksi untuk menghasilkan maslahah maksimum perlu dituntun dengan nilai dan prinsip ekonomi Islam. Nilai dan prinsip pokok dalam produksi adalah amanah dan profesionalisme. Dua prinsip pokok ini diambil dari ayat Al-Qur’an yang mengatakan: “..."Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. 28: 26).
            Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan ayat diatas bahwa maksud dari kuat (al-qawiyyu) lagi dipercaya (al-amin) adalah profesional dan amanah (trust). Yang kedua prinsip pokok ini merupakan sebuah piranti untuk mewujudkan maslahah yang maksimum, yang akan kita jelaskan sebagai berikut:

a. Amanah untuk Mewujudkan Maslahah Maksimum
            Sifat amanah adalah salah satu nilai penting dalam Islam, yang diambil dari nilai dasar kekhilafahan, yang harus terus dijunjung tinggi. Pengertian amanah dalam konteks ini adalah penggunaan sumber daya ekonomi untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu keberuntungan (falah). Sedangkan sumber daya yang ada di alam semesta ini oleh Allah diamanahkan kepada manusia. Manusia tidak diperbolehkan untuk mengeksplorasi/mengeksploitasi sumber daya ekonomi ini dengan cara yang bathil.
Selanjutnya, pemanfa’atan sumber daya tersebut tidak boleh digunakan untuk usaha-usaha yang bertentangan dengan tujuan khilafah, yaitu: terciptanya kemakmuran di atas bumi. Untuk mewujudkan kemakmuran, manusia diberi hak penguasaan dan kebebasan dalam memanfa’atkan sumber daya yang semua itu akan dipertanggungjawabkan kepada Allah, swt. sebagai pemberi amanah.
Secara singkat, dapat diatakan bahwa amanah di sini dimaknai sebagai usaha untuk memanfa’atkan sumber daya yang ada dengan cara yang sebaik-baiknya dalam arti sesuai dengan syariah untuk mencapai kemakmuran manusia di muka bumi.
            Dengan demikian, sebagai konsekuensi dari nilai amanah tersebut, maka manusia butuh pemanfa’atan sumber daya yang ada sebagai input dalam berproduksi. Memang, dalam nilai amanah ini tidak disebutkan sebagai sumber yang membawa maslahah. Sumber daya bisa berasal dari tempat yang dekat maupun dari tempat yang berjarak jauh. Namun, Islam mengajarkan manusia agar memulai suatu kebaikan berasal dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar dan seterusnya meluas hingga masyarakat luas dalam sekup negara dan bangsa. Dengan berdasar pada prinsip ini, maka manusia akan terbantu dalam memilih sumber daya mana yang akan dipilih menjadi input produksi. Kegiatan produksi harus memanfa’atkan dengan sebaik-baiknya sumber daya yang melimpah yang ada di sekitarnya. Ketika di lingkungan sekitar tidak ada sumber daya yang bisa dimanfa’atkan, maka manusia bisa mencari sumber daya pada lingkungan yang lebih luas dan pada sektor lain yang lebih luas, demikian seterusnya. Sehingga prioritas produksi dalam Islam adalah dengan memanfa’atkan sumber daya lokal yang melimpah.

b. Profesionalisme
            Dalam ajaran Islam, setiap muslim dituntut untuk menjadi pelaku produksi yang profesional, yaitu memiliki profesionalitas dan kompetensi di bidangnya. Segala sesuatu harus dikerjakan dengan baik, karenanya setiap urusan harus diserahkan kepada ahlinya. Hal ini memberikan implikasi bahwa setiap pelaku produksi Islam harus mempunyai keahlian standar untuk bisa melaksanakan kegiatan produksi. Implikasi lebih jauh dari hal ini adalah bahwa produsen harus mempersiapkan karyawannya agar memenuhi standar minimum yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan produksi. Maka tidak lain dengan cara menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan secara intensif sehingga profesionalitas dapat tercapai bagi sumber daya manusia yang dibutuhkan.        
            Dalam kaitannya dengan meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, yang mana walaupun setiap tenaga kerja sudah memenuhi standar minimum dalam melaksanakan produksi, namun ia harus selalu belajar terus untuk meningkatkan kemampuannya dalam hal-hal yang terkait dengan produksi. Pembelajaran ini merupakan amanat sepanjang hidup (long life learning) dari ajaran Islam, artinya: bahwa setiap agen muslim perlu terus-menerus belajar. Adapun media untuk belajar bisa berupa pendidikan formal dan informal dimana dan kapanpun dia berada, misalnya tempat bekerja (working place). Dari tempat bekerja ini berangsur-angsur tenaga kerja akan bisa memperoleh keahlian dalam berproduksi sehingga kemampuan kerjanya semakin meningkat. Dengan semakin meningkatnya kemampuan, maka jumlah barang/jasa yang bisa dihasilkan juga semakin besar, sebab ia bekerja semakin efisien. Selain itu frekuensi kesalahan dalam melaksanakan kegiatan produksi juga semakin menurun. Akibatnya jumlah barang yang gagal (cacat) menjadi semakin kecil yang berarti penggunaan input per unit output juga semakin menurun. Hal ini semua yang disebut sebagai efek learning curve yang bisa ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut:





 

















Gambar  7.1.
  Learning Curve
Dengan demikian, dapat kita perhatikan bahwa sumbu vertikal dalam kurva di atas menunjukkan jumlah input yang digunakan untuk menghasilkan output, sementara sumbu horizontal menunjukkan jumlah output. Jika input, misalnya tenaga kerja, bersedia untuk melakukan kegiatan pembelajaran terus-menerus, maka produktifitasnya akan semakin meningkat. Untuk menghasilkan lebih banyak output, maka jumlah input yang digunakan semakin sedikit. Ajaran Islam mengharuskan umatnya untuk melakukan long life learning sehingga meningkatkan produktifitasnya sebagaimana telah diilustrasikan dalam learning curve di atas, yang hal ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi, saw. “Carilah kalian ilmu pengetahuan dari ayunan sampai ke liang kubur”.

E. Produksi Dengan Teknologi Konstan
            Berdasarkan semua pembahasan di atas, didapatkan bahwa konsep produksi yang sesuai dengan nilai Islam adalah konsep yang menganggap bahwa teknologi berproduksi adalah sudah ‘given’ atau konstan, dalam arti bahwa teknologi yang digunakan adalah teknologi yang memanfa’atkan sumber daya manusia sedemikian rupa sehingga manusia-manusia tersebut mampu meningkatkan harkat kemanusiaannya. Selain itu sebagai implikasi dari nilai amanah, maka kegiatan produksi harus menggunakan input setempat (locality) yang tersedia baik dalam bentuk sumber daya mentah, setengah jadi atau yang sudah jadi (siap pakai).
            Sebagai konsekuensi dari premis dasar di atas, maka permasalahan produksi tidaklah mencari teknologi produksi sedemikian rupa sehingga memberikan keuntungan maksimum, melainkan mencari jenis ouput apa, dari berbagai kebutuhan manusia, yang bisa diproduksi dengan teknologi yang sudah ada tersebut. Permasalahan produksi akan memfokus pada pemilihan kombinasi output, berapa jumlah output yang satu dan yang lainnya harus diproduksi sehingga dapat memperoleh nilai maslahah yang maksimum. Pengertian maksimum di sini tentu saja ada faktor kendalanya, yaitu input yang jumlahnya sudah tertentu. Dengan lebih tegas bisa dikatakan bahwa permasalahan produksi di sini adalah mencari kombinasi produk yang bisa dihasilkan dengan sumber daya yang ada guna memperoleh maslahah yang maksimum.
Misalnya, adanya sumber daya yang tersedia berupa batu hitam. Alternatif produk yang bisa diproduksi dengan menggunakan batu tersebut adalah bermacam-macam, antara lain adalah untuk digunakan sebagai sebagai batu pondasi rumah, untuk koral campuran aspal, koral campuran beton cor, pasir giling sebagai bahan campuran cor kualitas tinggi sampai digunakan untuk batu aksesoris dinding atau lantai rumah. Pemilihan mengenai produk mana dan dengan kuantitas berapa yang akan diproduksi dengan batu tersebut tentu akan didasakan pada alternatif maslahah yang terbaik yang bisa dihasilkan.
            Contoh lain bisa dideskripsikan bahwa ketika seorang agen melihat banyaknya tenaga kerja di daerahnya, maka dia akan berpikir bagaimana memanfa’atkan tenaga kerja tersebut agar mereka bisa memperoleh pendapatan yang layak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya sebagai makhluk Allah yang tertinggi. Ada banyak alternatif yang bisa dipilih dari pertanian, perkebunan, kerajinan, industri, perdagangan dan jasa-jasa lainnya. Begitu juga ketika agen ekonomi Islam melihat banyaknya insan yang mempunyai kualitas tinggi dan menguasai teknologi, dia akan berpikir bagaimana memanfa’atkan faktor produksi yang berupa skill tersebut. Ada beberapa pilihan produk yang bisa dihasilkan oleh faktor produksi tersebut, mulai produk-produk berteknologi rendah sampai produk berteknologi tinggi.

1. Kurva Isoinput
            Dengan mendasarkan pada konsep seperti di atas, maka kita dapat mendeskripsikan konsep tersebut menjadi suatu gambaran yang lebih konkret, misalnya dalam bentuk grafis sebagaimana gambar 7.2. Kita asumsikan produsen memiliki dua alternatif barang yang bisa dihasilkan dengan menggunakan input tertentu, yaitu barang X dan barang Y. Sumbu vertikal menunjukkan jumlah barang Y, sementara sumbu horisontal menunjukkan jumlah barang  X. Selanjutnya kita dapat menggambarkan kurva isoinput, yaitu kurva yang menggambarkan alternatif produk yang bisa dihasilkan (X dan Y) dengan input tertentu. Untuk mengetahui seluk-beluk mengenai kurva isoinput ini, maka dibawah ini disajikan pembahasan mengenai sifat dan karakteristik kurva isoiput.


 














Gambar  7.2

a. Input yang Sama
            Isoinput adalah persamaan input (karena iso berarti sama), maka semua titik di sepanjang kurva isoinput menunjukkan jumlah input yang digunakan untuk produksi adalah sama.
Dengan jumlah input yang sama ini produsen bisa menghasilkan berbagai kombinasi output sepanjang kurva tersebut, yaitu  Y saja, atau  X  saja, atau sejumlah kombinasi  X  dan  Y. Dengan kata lain, kurva isoinput bisa didefinisikan sebagai tempat kedudukan (locus) dari berbagai output yang berbeda yang bisa dihasilkan oleh jumlah input yang sama.
            Pada gambar  7.3. bisa dilihat bahwa setiap titik yang berada sepanjang kurva isoinput, diantaranya adalah titik  A  dan  B, menunjukkan kombinasi output  X  dan  Y yang menggunakan semua input yang tersedia untuk produksi. Dengan kata lain, input telah digunakan secara optimal untuk menghasilkan output. Sementara itu, titik yang berada di dalam kurva insoinput, katakanlah titik C, belum menggunakan semua input yang tersedia untuk berproduksi sehingga pada kondisi seperti ini masih ada sisi input yang belum digunakan. Jika produsen memilih kombinasi ini (C) maka bisa dikatakan bahwa produsen belum memanfa’atkan semua input yang tersedia secara maksimum, dan oleh karenanya bisa dikatakan bahwa dia tidak mencapai maslahah yang maksimum. Sementara kombinasi produk yang berada di luar kurva isoinput, sebut saja kombinasi D, merupakan kombinasi yang tidak mungkin dicapai oleh produsen karena jumlah input yang tersedia untuk memproduksinya tidak mencukupi.






 

















Gambar  7. 3.
b. Output yang Lebih Besar Memerlukan Input yang Lebih Besar
            Secara intuisi dikatakan bahwa jumlah input yang lebih banyak yang dimasukkan ke dalam produksi akan menghasilkan jumlah output yang lebih banyak. Sebaliknya juga bisa dikatakan dengan sama benarnya jika dikehendaki jumlah output yang lebih besar, maka pasti memerlukan jumlah input yang lebih besar pula. Hal ini bisa dilihat dalam gambar 7. 4. Pada titik A jumlah yang bisa diproduksi dari input yang ada adalah sebanyak X1 untuk barang  X  dan sebanyak  Y1 untuk produk Y.  Pada titik  A’ jumlah yang bisa diproduksi adalah sebanyak  X2 untuk barang  X  dan sebanyak  Y1 untuk produk  Y.  Jika kita bandingkan antara kombinasi output yang ada pada titik  A dan titik A’ maka secara pasti dikatakan bahwa kombinasi A’ mempunyai kandungan output yang lebih besar.


Hal ini disebabkan karena keduanya mempunyai kandungan Y  yang sama, namun kombinasi  A’  mempunyai kandungan  X  yang lebih besar dari kombinasi A.





 




















c. Kurva Isoinput yang Lebih Tinggi Menyediakan Input yang Lebih Tinggi
            Berdasar pada sifat kedua di atas bisa disimpulkan bahwa kombinasi A’  mempunyai kandungan output yang lebih besar dari kombinasi A. Konsekuensinya kurva isoinput dimana kombinasi A’ berada menyediakan input yang lebih besar dibanding dengan kurva isoinput dimana kombinasi A berada. Dalam gambar terlihat bahwa kurva isoinput dimana kombinasi A berada menyediakan jumlah input sebanyak 10 (IT10), sementara kurva isoinput dimana kombinasi A’ berada menyediakan input sebesar 20 (IT20). Dengan melihat posisi kurva isoinput  (IT30)  yang lebih tinggi, maka bisa dikatakan bahwa semakin tinggi posisi kurva isoinput (IT), maka semakin besar input yang tersedia bagi produsen untuk melakukan kegiatan produksi.

d. Transformasi Input
            Pada gambar-gambar kurva isoinput tersebut di atas terlihat bahwa kurva isoinput ini mempunyai slope yang negatif. Slope negatif ini memberikan makna adanya substitusi antara barang   X  dan barang  Y.  Pada gambar terlihat bahwasanya pergerakan dari titik  A  ke titik  B  telah terjadi substitusi dari barang  X  untuk barang Y. Pada titik  A  jumlah barang  X  dan  Y  yang bisa diproduksi adalah sebesar  (X1, Y1). Pada titik B jumlah barang  X  dan  Y  yang bisa diproduksi adalah sebesar  (X2, Y2). Padahal, pada kedua titik  A  dan  B  tersebut  jumlah input  yang dipakai adalah sama. Oleh karena itu, gambar tersebut mengatakan bahwa pergerakan dari titik A ke titik B mengakibatkan turunnya jumlah barang  Y  yang bisa diproduksi yaitu dari  Y1 ke  Y2. Sebaliknya pergerakan ini di lain pihak menyebabkan naiknya jumlah barang  X  yang bisa diproduksi yaitu dari  X1  ke   X2. Disini bisa disimpulkan bahwa kenaikan jumlah barang X  yang diproduksi adalah merupakan kompensasi atas turunnya jumlah barang  Y  yang diproduksi.  Dengan demikian, terlihatlah di sini adanya substitusi dari barang  X, yang meningkat, untuk barang Y  yang menurun.
Sebagai implikasi dari adanya substitusi ini adalah input yang dipakai untuk memproduksi barang Y ditransformasikan sebagai input yang digunakan untuk memproduksi barang  X.

e. Tingkat Marginal Transformasi Input
            Kurva isoinput pada dua gambar di atas berlereng negatif yang menunjukkan adanya substitusi antara kedua barang  X  dan  Y. Hal ini juga berarti bahwa telah terjadi transformasi input, yaitu dari penggunaan input untuk memproduksi Y  menjadi penggunaan input untuk memproduksi barang  X. Dengan kata lain, terjadi transformasi penggunaan input dari barang X ke barang Y. Tingkat transformasi input marginal/marginal rate of input transformation (MRIT) menunjukkan besarnya jumlah input yang digunakan untuk memproduksi barang Y yang ditarik dan kemudian digunakan untuk memproduksi barang X. kemampuan ini ditunjukkan oleh besarnya slope dari kurva isoinput di atas. Secara aljabar, slope dari kurva isoinput bisa dilihat pada penurunan ekspresi di bawah ini:


                                   Slope IT =  dY   =  MRIT                            (7.6)   
                                                                      dX           

Jika mengambil derivative  total dari fungsi isoinput di atas maka diperoleh:

dI =    I    dX  +    I      dY
X              Y

Maka dapat disimpulkan bahwa derivative total di atas menunjukkan perubahan yang terjadi pada input sepanjang kurva isoinput. Padahal perubahan input sepanjang kurva isoinput adalah sebesar nol, karena jumlah input yang tersedia adalah sama di semua titik pada kurva tersebut. Dengan demikian, bisa kita lanjutkan lagi penurunan tersebut menjadi:
    0  =  dI  =   I    dX   +     I    dY
                      X                X
             I   dY   =   I     dX
             Y              X
                                I
                dY   =      X
                dX          I
                              Y

dY    =  slope IT  =   Input marginal  X/  Input  marginal  Y
Dx






            Dengan demikian dapat dilihat bagaimana perubahan slope tersebut di atas jika jumlah produksi barang   X   meningkat.  Hal ini bisa dilihat pada gambar di bawah ini:





 





















Gambar  7. 5.

            Gambar anak tangga diatas menunjukkan besarnya slope dari kurva isoinput. Jika kita berada pada posisi Y  yang tinggi, pada kiri atas, dan kemudian berjalan menuruni anak tangga tersebut terlihat bahwa anak tangga tersebut semakin lama semakin landai dan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah input yang diambil dari produksi barang  Y dan dialihkan untuk memproduksi barang  X  sebesar satu unit semakin menurun. Hal ini sebenarnya menunjukkan adanya efek dari learning curve dari input sebagaimana ditunjukkan pada gambar  7.1. Learning curve ini juga sekaligus menunjukkan adanya efisiensi penggunaan input. Namun, karena kemampuan manusia terbatas maka efek learning curve pada jumlah produksi semakin lama juga semakin menurun. Dan pada titik tertentu yang ditunjukkan oleh titik besar efek tersebut sudah menjadi nol. Pertambahan produksi barang  X  pada tahap selanjutnya dilakukan dengan efisiensi yang menurun. Dalam gambar 7.5. penurunan efisiensi tersebut mulai terjadi setelah melalui titik belok (pada titik besar). Setelah titik belok tersebut maka jumlah input yang harus diambil dari produksi barang  Y menjadi semakin besar untuk memproduksi barang X sebesar satu unit.

2. Implikasi Konsep Produksi Islam Pada Kegiatan Produksi
            Ajaran-ajaran Islam yang dipaparkan di depan akan memberi dampak pada produksi yang dilakukan oleh agen muslim. Beberapa dampak yang langsung dari hal ini adalah adanya penurunan tambahan penggunaan input (marginal input) dan efisiensi produksi.



a. Penurunan Input Marginal
            Sebagaimana disebut di depan ketika output produksi meningkat, maka penggunaan input juga meningkat. Namun, jumlah tambahan input untuk memproduksi satu unit output ini, yaitu marginal input, semakin lama akan semakin menurun sebagai akibat dari adanya efek learning curve. Penurunan ini akan berhenti dan berubah menjadi menaik ketika efek learning curve sudah berhenti, sebagaimana tampak pada gambar.

b. Efisiensi dan Tingkat Efisiensi Penggunaan Input
            Penurunan marginal input juga mengimplikasikan telah terjadi efisiensi penggunaan input, sebab dengan output yang sama jumlah input yang dibutuhkan semakin sedikit. Dengan kata lain, efisiensi ini adalah merupakan tingkat penurunan dari marginal input. Karena penurunan marginal input ini terjadi karena efek learning curve, maka dapat juga dikatakan bahwa efek learning curve meningkatkan efisiensi. Perlu dicatat lagi disini bahwa efek dari learning curve tidak terjadi terus-menerus sepanjang waktu, namun learning curve mempunyai batas-batas. Ketika kemampuan tenaga kerja telah mencapai tingkat jenuh maka efek learning curve sudah menjadi nol. Dengan kata lain, tenaga kerja sudah tidak bisa meningkatkan kemampuan mereka di luar batas tersebut, dengan demikian kemampuannya menjadi stagnan dan terjadi penurunan.
            Dengan mempertimbangkan batas-batas (boundary) dari efek learning curve, maka bisa dikatakan bahwa efisiensi terjadi pada rentang produksi dimana tenaga kerja masih bisa meningkatkan kemampuan mereka. Pada rentang ini tingkat efisiensi bisa ditunjukkan oleh adanya penghematan input yang ditunjukkan oleh menurunnya tingkat penggunaan input pada masing-masing unit produksi terakhir. Secara Aljabar, hal ini bisa ditunjukkan oleh ekspresi di bawah ini:

d²I   =    d     dI    <   0
dX       dX    dX

Sebagaimana bisa dilihat dari sifat derivative di atas bahwa tingkat penurunan dari input marginal semakin lama akan menjadi semakin berkurang, dan pada titik tertentu hal ini akan berhenti turun. Dalam kondisi seperti ini nilai marginal input sudah akan tidak berubah, berapapun jumlah barang yang diproduksi.

3. Kombinasi Output Maksimum
Setelah mendiskusikan semua hal yang perlu, maka sampailah kita pada masalah utama, yaitu menggambarkan bagaimana proses produsen muslim dalam mencapai mashlahah yang maksimum melalui kegiatan produksi yang mereka lakukan.
            Tujuan dari produsen yang ingin memaksimumkan mashlahah bisa diekspresikan menjadi :

            M = f (X,Y)                                                                                        (7.5)
           
Pada fungsi diatas ditunjukkan bahwa mashlahah yang diperoleh oleh produsen bersumber dari produksi barang X dan barang Y yang dihasilkannya. Perlu di lihat di sini bahwa fungsi mashlahah diatas sama seperti fungsi mashlahah yang ada pada teori konsumen.
Hanya saja, dalam kasus sekarang  ini terma – terma X dan Y menunjukkan jumlah barang yang diproduksi, tidak terdapat pada jumlah barang yang dikonsumsi. Dengan demikian, presentasi geometris dari fungsi mashlahah ini sama dengan yang ada dalam teori konsumsi, yaitu yang ditunjukkan oleh kurva iso- mashlahah, yaitu kurva yang menunjukkan kombinasi barang X dan Y yang memberikan tingkat mashlahah  yang sama.
            Disisi lain, kondisi input yang dihadapi oleh produsen diasumsikan konstan sehingga fungsi kendalanya adalah banyaknya input  yang besarnya sudah tertentu, yaitu kurva isoinput. Fungsi kendala ini bisa di ekspresikan sebagai berikut ini :

                        I = i (X, Y)
Secara grafis proses maksimisasi mashlahah ini disajikan dalam gambar 7.6. anggaplah dalam upaya mencapai maksimum mashlahah dalam kegiatan produksinya, seorang produsen menghadapi pilihan arrangement mashlahah yang besarnya bertingkat-tingkat, sebagaimana ditunjukkan oleh kurva iso- mashlahah IM1, IM2, IM3. Tentu saja produsen akan memilih tingkat mashlahah  yang paling tinggi yaitu kombinasi produk yang berada pada kurva iso- mashlahah IM3, anggap misalnya D. Namun, tentu saja usaha produsen tersebut terkendala dengan jumlah imput yang tersedia. Jumlah input yang tersedia sudah tertentu besarnya yang ditunjukkan oleh kurva isoinput. Dengan demikian, pilihan untuk berproduksi pada kombinasi output D merupakan pilihan yang tidak realistis karena pilihan tersebut tidak bisa dicapai.
            Dalam keadaan seperti ini alternatif terbaik yang memberi mashlahah optimum bagi produsen adalah kombinasi B karena kombinasi B tepat berada pada kurva isoinput. Meskipun sama-sama berada pada kurva isoinput yang sama dengan kombinasi B, kombinasi A,  dan C tidak merupakan kombinasi yang tepat karena keduanya berasal dari kurva iso- mashlahah yang lebih rendah yang berarti menawarkan jumlah mashlahah yang lebih rendah dibanding dengan jumlah mashlahah yang ada pada kombinasi B. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa untuk memperoleh mashlahah yang optimum, maka teknik yang perlu dipakai adalah mencari titik singgung antara kurva iso- mashlahah dan kurva isoinput. Pada titik singgung ini slope (gradient) dari kedua kurva adalah sama. Sifat inilah yang nantinya bisa dikembalikan untuk memperoleh rumusan perilaku produsen.






 














Gambar 7.6.
   Titik Maslahah Optimum Produsen

Maka, setelah menelusuri proses yang ditempuh oleh produsen dalam melakukan usaha optimalisasi mashlahah kegiatan produksi, sekarang kita perlu untuk mengetahui rumusan baku yang bisa dimengerti mengenai bagaimana seorang produsen melakukan hal tersebut. Mengingat bahwa pemaparan geometri seperti di atas tidak bisa memberikan tuntutan yang tegas mengenai hal ini, maka bisa digunakan pendekatan matematis.
            Untuk memperoleh nilai mashlahah yang maksimum, maka fungsi tujuan dan fungsi kendala perlu dipadukan dalam satu fungsi lagrangian berikut ini :

L     =   m  (X, Y)  +  l [ I -  i  (X, Y) ]                                                                          (7.8)

L   =  m’  (X)   -    li’ (X)  =  0                                                                                    (7.9)
X

L   =   m’  (Y)  -  l i’   (Y)  =  0                                                                                 (7.10)
Y

L   =  I  -  i  (X, Y)  =   0                                                                                           (7. 11)
l
Persamaan (7. 9) dan persamaan (7.10) bisa ditulis kembali menjadi:

m’ (X)   =    l                                                                                                             (7. 12)
i’ (X)

m’ (Y)   =    l                                                                                                              (7. 13)
i’   (Y)
Menyamakan persamaan (7. 12) dan persamaan (7. 13) didapat:
m’ (X)   =   m’  (Y)                                                                                                      (7. 14)
i’ (X)          i’   (Y)
atau

m’  (X)   =     i’ (X)                                                                                                      (7. 15)
m’ (Y)            i’ (Y)


            Nilai-nilai m’(X)  dan m’(Y) adalah nilai mashlahah marginal yang diperoleh dari memproduksi barang X dan barang Y berturut-turut. Adapun terma-terma            

i’ (X)  =    dl    dan    i’   (Y)  =     dl                                 
               dX                                dY

adalah nilai-nilai input marginal dari barang X dan barang Y  berturut-turut.

            Berdasar definisi tersebut bisa diberikan penafsiran terhadap persamaan (7.15) yaitu bahwasannya jika perusahaan ingin memaksimumkan mashlahah yang mereka peroleh dari kegiatan produksinya, maka kondisi yang harus dipenuhi adalah bahwa dia harus mampu menyamakan nilai rasio mashlahah marginal barang X dan mashlahah marginal barang Y sama dengan rasio input marginal dalam memproduksi barang X dan input marginal dalam memproduksi barang Y. Inilah optimum mashlahah condition yang harus dipenuhi oleh produsen.
            Selanjutnya, marilah kita cari alternatif lain dalam menafsirkan hasil yang disajikan pada persamaan (7.15). untuk keperluan ini persamaan (7.15) diubah menjadi :
                    dl
i’   (X)  =   dX
i’  (Y)         dl
                 dY

i’  (X)  =   dY
i’  (Y)       dX

i’ (X)  d X   =    i’   (Y)  dY                                                                                    (7. 16)
           
Penafsiran yang bisa diberikan kepada persamaan (7.16) diatas adalah jika perusahaan ingin mencapai mashlahah yang maksimum maka mereka harus menetapkan tambahan mashlahah yang dihasilkan dari tambahan satu unit input terakhir untuk memproduksi masing-masing barang harus sama. Dengan kata lain, satu unit input terakhir harus menghasilkan mashlahah yang sama baik jika digunakan untuk memproduksi barang X ataupun barang Y.

F. Produksi Dengan Modal Tetap
            Maka di depan sudah dijelaskan argumen mengenai mengapa Islam tidak memperkenankan substitusi yang dipaksakan antara modal (capital intensive) dan manusia (tenaga kerja/labor intensive). Sebagai implikasi dari hal ini, maka disini akan di eksplorasi lebih jauh mengenai teknologi berproduksi yang memposisikan modal sebagai input tetap dan manusia (tenaga kerja/labor intensive) sebagai input variabel.

1.   Fungsi Produksi
Dalam hal ini, fungsi produksi menunjukkan berapa besar output, dengan kandungan berkah tertentu, bisa diproduksi dengan input-input yang disuplai kedalam  proses produksi dan dengan jumlah modal/kapital yang tertentu. Fungsi produksi seperti ini bisa dilihat di bawah ini :

ßQ   =   T   f (K, HK, L, E, M, B)                                                                                 (7.17)

Fungsi produksi sebagaimana yang disampaikan di atas bisa direduksi, untuk keperluan analisis, menjadi sebagai berikut :

ßQ   =   T  f (K, HK, L, B)                                                                                           (7. 18)

Mengingat bahwa human capital melekat kepada tenaga kerja, maka ekspresi diatas bisa ditulis dalam bentuk sebagai berikut :

ßQ  =  T  f (K, L, B)

Selanjutnya dengan mengingat bahwa berkah melekat pada setiap input yang lain, maka fungsi produksi bisa ditulis menjadi :

ßQ   =   ßT  f (ßK, ßL)

Foresubcript B dalam ekspresi di atas menunjukkan adanya kandungan berkah di masing – masing input.
Selain keberadaan berkah yang harus ada dalam setiap produksi, Islam memandang bahwa manusia merupakan faktor produksi yang sangat penting. Manusia mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan input-input yang lain.

2. Produktivitas Rata-Rata
            Produktivitas rata-rata biasanya selalu terkait dengan produktivitas dari suatu input. Produktifitas rata-rata input ini menunjukkan kemampuan suatu unit input tertentu dalam mengasilkan output, secara rata-rata. Definisi dari Produktivitas rata-rata adalah sebagai berikut :
APi =   Q                                                                                                               (7.22)
           Ii  
Karena dalam produksi semua input digunakan secara bersama-sama (simultan), maka konsep Produktivitas rata-rata ini akan menghasilkan suatu ukuran yang kurang teliti, sebab kontribusi dari faktor dengan faktor lain diasumsikan sama. Mengenai hal tersebut bisa dilihat dalam pembahasan selanjutnya.
            Perlu dilihat di sini bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja secara langsung akan meningkatkan ataupun menurunkan nilai Produktivitas rata-rata dari tenaga kerja tergantung pada tahap mana produksi berada. Sementara di pihak kapital hal ini justru meningkatkan nilai produktivitas kapital rata-rata. Untuk mengetahui hal ini marilah kita ambil lagi persamaan (7.19) dengan mempertimbangkan aspek fisiknya saja.

                                Q = f(K,  L)                                                                                           (7.23)   
Dengan ekspresi seperti pada persamaan (7.23) di atas, maka bisa diperoleh Produktivitas rata-rata kapital sebagai berikut :

AP1 K :  1  Q   :   1  f  (K,  L)                               
          K            K


AP1 L :  1  Q   :   1  f  (K,  L)                                                                                     (7. 24)
            L            L
            Marilah sekarang kita telusuri akibat yang ditimbulkan dari peningkatan tenaga kerja pada nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja. Hal ini bisa dilihat pada pemaparan berikut ini :

d   APL      =    fL  (K, L) L-f (K, L)
dL                        L

d     APL  =   1    [   fL   (K,  L)  -  f   (K,  L)  ]
dL                L                                  L

d    APL   =   1   (fL   (K,  L) -   APL )                                                                                 (7. 25)
dL               L
Dari ekspresi dalam persamaan (7.25) di atas terlihat bahwa setiap kenaikan tenaga kerja satu unit akan menambah nilai produk sebesar nilai produk marginal fisik di satu pihak sebagaimana diperlihatkan terma pertama dalam ruas kanan. Namun, kenaikan tersebut berjalan dengan tingkat kenaikan yang menurun. Di lain pihak peningkatan jumlah tenaga kerja ini akan menurunkan nilai Produktivitas rata-rata tenaga kerja sebagaimana terlihat pada terma kedua dalam ruas yang sama. Tanda negatif yang ada pada terma tersebut menunjukkan penurunan nilai. Ekspresi di atas menunjukkan bahwa sebagai akibat tambahan jumlah tenaga kerja maka perilaku dari nilai Produktivitas rata-rata tenaga kerja akan mengalami kenaikan pada awalnya dan kemudian akan mengalami penurunan sebagaimana disebutkan di depan. Secara grafis hal ini bisa di paparkan dalam gambar berikut ini :


 
















                                                                                    
Gambar 7.7
Produktifitas Rata-rata dan Marginal (MP)


3. Marginal Physical Of Input Dalam Islam
             Marginal Physical Of Input (MPP) adalah kenaikan jumlah output fisik sebagai akibat dari adanya kenaikan salah satu input fisik, sementara jumlah input fisik lainnya adalah konstan.

a. Penyebab Berubahnya Marginal Physical Of Input
            untuk melihat hal ini marilah kita ambil derivitive total dari persamaan (7.17) diatas sebagai berikut :

dQ  =     f    dK  +    f    dHK   +   f   dL  +    f   dE   +    f   dM  +    f  dB
              K             HK                L                E              M             B 

Anggap bahwa hanya tenaga kerja saja yang mengalami perubahan sementara yang lain jumlahnya tetap. Dengan situasi yang seperti ini maka ekspresi diatas akan menjadi :

dQ  =    f   dL
             L
dQ  =     f
dL         L

dengan cara yang sama kita bisa memperoleh ekspresi dari nilai produk fisik marginal sebagai berikut :

dQ    =   f
dK         K
dQ    =     f
dHK      HK
dQ    =    f
dL          L
dQ    =    f
dE         E
dQ   =   f
dM       M

Dengan demikian, ekspresi dalam persamaan 7. 27 diatas menunjukkan nilai produk marginal fisik dari tenaga kerja, kapital, human capital, energi dan material yang nyata-nyata diperoleh dengan cara meningkatkan jumlah masing-masing input dan membiarkan jumlah input yang lain tetap konstan.
Sebagai ilistrusi adalah suatu proses produksi yang menggunakan dua tahap : tahap I dan tahap II. Dalam tahap I peralatan yang digunakan adalah adalah peralatan I dan pada tahap II peralatan yang digunakan adalah adalah peralatan II. Asumsikan bahwa waktu yang digunakan menyelesaikan pada masing-masing tahap adalah sama dan jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam proses produksi ini hanya satu. Dalam situasi seperti ini maka bisa dibayangkan bahwasannya terdapat kapitas peralatan yang menganggur. Ketika tenaga kerja sedang menangani proses pada tahap I, maka peralatan II menganggur demikian juga ketika tenaga kerja sedang menangani proses tahap II pelatan tahap I menjadi tidak terpakai. Dengan cara produksi seperti ini, maka jumlah produksi adalah 10 unit per hari.
            Sekarang dengan tambahan tenaga kerja satu orang lagi, sementara hal-hal yang lain tetap konstan, maka jumlah produksi bisa meningkat sebesar 18 unit dalam satu hari. Kita lihat disini terjadi adanya peningkatan output dari 10 unit menjadi 18 unit. Peningkatan ini mudah ditelusuri asal-muasalnya. Hal ini berasal dari terpakainnya semua peralatan baik peralatan I maupun peralatan II sepanjang waktu secara bergantian diantara semua tenaga kerja yang ada. Ketika tenaga kerja pertama mengerjakan proses I dan menggunakan peralatan I, pada waktu yang sama pekerja kedua mengerjakan proses II dan menggunakan peralatn II, atau sebaliknya. Hal ini terjadi terus menerus secara bergantian yang menyebabkan semua peralatan terpakai sepanjang waktu.
            Dalam situasi seperti ini besarnya nilai produk fisik marginal adalah 8 unit. Hal ini berarti bahwa tambahan satu unit tenaga kerja dalam proses produksi mampu menambah 8 unit output. Ini bisa dikatakan bahwa tenaga kerja terakhir yang masuk memberikan konstribusi dalam produksi sebesar 8 unitboutput per hari.

b. Penurunan Marginal Physical Product
            Dijelaskan bahwa nilai produk marginal fisik dari suatu input akan mengalami penurunan sebagai akibat dari penambahan jumlah input tersebut ke dalam produksi. Sebagai ilustrasi marilah kita lihat kembali ilustrasi di atas. Dengan menambah satu unit  (orang) tenaga kerja, maka pekerja I tidak bisa lagi sebebas sebagaimana pada waktu sebelumnya dalam hal menggunakan peralatan yang ada. Adakalanya bahwa dia harus menunggu sebentar untuk menggunakan peralat yang ada karena peralatan yang bersangkutan masih dalam pemakaian oleh pekerja lainnya. Munculnya waktu tunggu inilah yang menyebabkan jumlah output fisik marginal turun. Jika jumlah pekerja ditambah lebih banyak lagi, maka akan menyebabkan semakin panjangnya waktu tunggu tersebut. Hal ini akan menyebabkan output per kepala menurun dan secara praktis bisa dikatakan bahwa tambahan tenaga kerja yang terakhir dalam proses produksi menyumbangkan tambahan jumlah produksi yang semakin sedikit. Inilah yang menjadi latar belakang menurunnya jumlah nilai produk marginal fisik. Hal ini bisa ditunjukkan melalui ekspresi berikut ini :

Q       >   0
Ii

² Q      <  0                                                                                                                (7. 28)
I²i
c. Hubungan Antara Produktivitas Rata-Rata Dan Produktivitas Marginal
            Dalam kesempatan ini, marilah kita melakukan analisis mengenai tambahan tenaga kerja sebagaimana ilustrasi yang telah disampaikan di atas. Jika dalam kasus tersebut kita hadapkan kepentingan tenaga kerja di satu sisi, dengan kepentingan pemilik modal  di sisi lain, akan terlihat bahwa marginal produk fisik dari tenaga kerja mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya jumlah tenaga kerja dalam proses produksi. Sebaliknya, di pihak pemilik modal akan mengalami peningkatan efesiensi penggunaan modal yang semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena modal yang dalam kasus di atas adalah peralatan produksi akan terpakai sepanjang waktu bahkan tanpa terjadi waktu tunggu bagi peralatan tersebut. Gambaran ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah produk marginal fisik dari tenaga kerja sebagai akibat dari penambahan tenaga kerja justru meningkatkan produktivitas rata-rata dari modal. Untuk melihat hal ini, marilah kita lihat lagi fungsi produksi pada persamaan (7.19) dalam perspektif jangka pendek dan melihat dari sisi fisiknya saja sehingga :

Q  =    f (K, L)                                                                                                             (7. 29)

Dengan ekspresi seperti pada persamaan (7.29) di atas, maka bisa diperoleh nilai produktivitas rata-rata kapital sebagai berikut :

AP1k   =   1   Q   =    1   f  (K, L)                                                                                (7. 30)
                K               K

Jika sekarang jumlah tenaga kerja ditambah sebanyak dL menjadi L’, maka output akan bertambah sebanyak dQ menjadi Q’. padahal pertambahan Q sebanyak dQ bisa dilihat melalui cara yang lain yaitu :
dQ  =   f    dK  +  f     dL                                                                                       (7. 31)
           K              L
            Dalam kasus ini tenaga kerja bertambah sementara jumlah kapital di kekang untuk tidak bertambah (Dk = 0) sehingga persamaan (7.31) akan berubah menjadi :

dQ  =     f     dL                                                                                                          (7. 32)
              L
dengan menggunakan persamaan 7.32 kita bisa mendapatkan nilai Q’.  Q’ =  Q  +  dQ

Q’  =   Q  +    f      dL                                                                                                (7. 32)
                      L
Dari persamaan (7. 33) bisa diperoleh nilai produktivitas rata-rata dari kapital yag baru yaitu:

1  Q’ =    1      {   Q  +  f   dL  }
K            K                    L


1  Q’  =    1     Q   +    1      f    dL
K              K                K     L
Hasil dari ekspresi (7.35) bisa ditulis kembali menjadi :

AP2k  =  AP1k  +   1      f     dL
                           K     L
Dari persamaan (7. 35) di atas bisa dilihat bahwa trjadi peningkatan produktivitas kapital dari nilai yang semula (sebelum terjadinya kenaikan jumlah tenaga kerja), AP1K. namun, sekaligus bisa dilihat adanya kenyataan bahwa kenaikan produktivitas kapital rata-rata ini berasal dari tambahan jumlah tenaga kerja, dL pada terma kedua diruas kanan dalam persamaan (7. 35). di sini menunjukkan bahwa penambahan jumlah tenaga kerja disatu pihak menurunkan nilai produk marginal fisik dari tenaga kerja, tetapi di pihak lain justru meningkatkan nilai produktivitas rata-rata kapital. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kenaikan produktivitas rata-rata kapital tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kenaikan jumlah tenaga kerja yang mengoperasikan kapital, peralatan produksi, tersebut.
Dari pembahasan diatas menyajikan diskusi mengenai akibat yang diciptakan oleh penambahan jumlah input tenaga kerja pada nilai produk marginal tenaga kerja dan pada nilai produktivitas rata-rata dari kapital. Maka, sekarang akan di lihat lebih jauh bagaimana dampak dari penambahan jumlah tenaga kerja tersebut pada nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja sendiri. Untuk kepentingan ini marilah kita ambil lagi persamaan (7.19) dengan mempertimbangkan aspek fisiknya saja. Dengan demikian, kita bisa memperoleh nilai produktiviatas rata-rata kapital sebagai berikut :

AP1K  =    1  Q    =      1   f  (K, L)
                K                K
                                                                                                                                   (7. 36)
AP1L  =    1  Q    =     1   f  (K, L)
                 L               L
Dengan penjelasan di atas, sekarang kita telusuri akibat yang ditimbulkan dari peningkatan tenaga kerja pada nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja. Hal ini  bisa dilihat pada pemaparan berikut ini:
d   APL  =    fL   (K,  L) L  -  f  (K, L)
dL                                 

d   APL  =   1     [   fL  (K,  L)    f  (K, L)  ]
dL              L                                 L

d   APL  =    1   ( fL  (K,  L) – APL)
dL               L                                                                                                             (7. 37)
Dari penjelasan persamaan (7. 37) tersebut dapat kita simpulkan bahwa setiap kenaikan dari tenaga kerja satu unit akan menambah nilai produk sebesar nilai produk marginal fisik tenaga kerja sebagaimana diperlihatkan oleh terma pertama dalam tanda kurung pada ruas kanan. Namun, kenaikan tersebut berjalan dengan tingkat kenaikan yang menurun sebagaimana diterangkan dalam seksi sebelumnya. Di lain pihak peningkatan jumlah tenaga kerja ini akan menurunkan nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja sebagaimana terlihat pada terma kedua dalam ruas yang sama. Tanda negatif yang ada pada terma tersebut menunjukkan penurunan nilai. Ekspresi di atas menunjukkan bahwa perilaku dari nilai produktivitas rata-rata input akan mengalami kenaikan pada awalnya dan kemudian akan mengalami penurunan ketika tambahan yang dihasilkan oleh nilai produk marginal fisik sudah tidak mampu lagi mengurangi penurunan yang disebabkan oleh penurunan nilai produktivitas rata-rata dari input yang bersangkutan.











Referensi:

  • Afzalurrahman, “Doktrin Ekonomi Islam Jilid I”, PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995. Yogyakarta.
  • Al-Jamal, Muhammad, “Mausu’atu al-Iqtishad al-Islamy”, Dar al-Kitab al-Mashry, tahun 1980.
·         Al-Masry, Rafiq Yunus, “Ushulul Iqtishad al-Islamy”, hal. 89.
·         Al-Washoby, Abdul Wahab, “Al-Barakah Fi Fadhli as-Sa’yi wal Harakah”, Maktabah Khanji, Kairo, Dar Syuruq, tahun 2005.
·         Ar-Razy, Abu Bakar Ahmad bin Ali, “Al-Jashash Fi Ahkamil Qur’an”, juz. 3, hal. 165.
  • Chapra, M. Umar, “Islam dan Tantangan Ekonomi”, GIP dan Tazkia Institute, cet. I, tahun 2000, Jakarta.
·         Dunya, Syauqi Ahmad, “Al-Islam wa at-Tanmiyah al-Iqtishadiyah”, hal. 28.
  • Eko Suprayitno, “Ekonomi Mikro Perspektif Islam”, UIN-Malang  Press, Cet. I 2008, Malang.
  • Fanjary, Muhammad Syauqi, “Al-Madzhab al-Iqtishadi Fil Islam”, Al-Haiah Al-Mashriyah Al-Ammah, 2006, Kairo.
·         Hamzah Al-Jumai’I ad-Damuhy, “Awamilul Intaj Fil-Iqtishad al-Islamy”, Dar Thib’ah Wan-Nasyr al-Islamiyah.
·         Ibnu Taimiyah, Imam, “As-Siyasah as-Syar’iyah”. Tanpa tahun.
  • Ibrahim Lubis. “Ekonomi Islam Suatu Pengantar”, Kalam Mulia, Cet.I, 1995, Jakarta.
  • Kahf, Monzer, “Ekonomi Islam; Telaah Analitik Terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam”, Pustaka Pelajar, Cet. I, 1995, Yogyakarta.
  • Karim, Adiwarman Azwar, “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam”, Raja Grafindo Persada, 2006, Jakarta.
·         Mahmud, Mushtafa, “Al-Marksiyah Fil Islam”, hal. 75.
  • Manan, M. Abdul, “Teori dan Praktek Ekonomi Islam”, PT. Dhana Bhakti Wakaf, Yogyakarta.
·         Masyhur, Nikmat Abdul Lathif, “Az-Zakat; Al-Asar al-Inmaiy wa at-Tauzi’I”, hal. 143.
  • Misanan, Munrokhim, dkk. “Ekonomi Islam”, P3EI, UII Yogyakarta, cet. Raja Grafindo, Jakarta, 2008.
·         Muhammad, Abdul Halim Umar, “Al-Manhaj al-Islamy Fi Majali al-Intaj”, dalam Kitab al-Qiyam al-Ahlaqiyah al-Islamiyah wal Iqtishad”. Pusat Riset Ekonomi Islam, Shaleh Kamil, Univ. AL-Azhar, April, tahun 2000.
·         Mustafa Edwin Nasution, Budi Setyanto, dkk. “Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam”, Kencana Prenada Media Group, Cet. II, 2007, Jakarta.
·         Syaibani, Muhammad Imam, “Al-Iktisab Fir Rizqi al-Mustathab”, Maktabah Nasyru Saqafah Islamiyah, Kairo, tahun 1357 H/1938 M.
·         Yusuf, Abu, “Al-Khorroj”, hal. 93  dan setelahnya.
·         BPS, Sensus Pertanian, 2003.
·         Kementerian Kehutanan RI, Statistik Kehutanan, 2009.
·         Kementerian Kehutanan RI, Statistik Kehutanan, 2000 dan 2009