SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Rabu, 05 November 2014



Memahami Maqashid Syariah
Oleh: Eddy Suwarno 
 
Salah satu kegiatan bisnis di bank syariah. Industri syariah mengedepankan Maqasid Syariah dalam bisnisnya. Foto: Bank Syariah Bukopin
Maqashid syariah… Sudah banyak mungkin pembaca mysharing.co yang mendengar tentang istilah satu ini. Namun demikian, mungkin banyak pembaca yang masih belum mengeerti mengenai arti istilah ini? Bahkan juga bagi mereka yang bergerak di industri perbankan syariah, yang nota bene seharusnya sudah sangat paham mengenai istilah ini, karena terkait erat dengan pekerjaan mereka sehari-hari.
Lalu apakah itu maqashid syariah? Menurut Abdul Muqsith Ghazali, maqashid syariah adalah sumber hukum pertama dalam Islam. Lebih lanjut Ghazali, maqasid syariah adalah kulminasi dari keseluruhan ayat-ayat Al-Quran dan hadits. Maqashid syariah merupakan inti dari totalitas ajaran Islam yang menempati posisi lebih tinggi dari ketentuan-ketentuan teks-teks syariah apabila teks-teks itu berdiri sendiri dan bersifat parsial. Maqashid merupakan sumber inspirasi tatkala Al-Quran hendak diterapkan secara legal-spesifik di lapangan.
Karena itulah, maqashid syariah selama ini djadikan acuan dalam rangka mengembangkan hukum yang terkait dengan permasalahan-permasalahan ekonomi dan bisnis syariah dewasa ini. Karena hukum ekonomi syariah tidaklah bersifat statis. Ia selalu bergerak dan berubah mengikuti format, bentuk roda kehidupan ekonomi. Karena itu, maqasid syariah dan maslahat sebagai sumber hukum Islam, memang sangat penting untuk diterapkan dan dikembangkan demi terwujudnya ekonomi syariah yang hidup, aktual, relevan dan unggul di tengah kemajuan jaman.
Menurut pakar ekonomi syariah – Agustianto, maqashid syariah sangat diperlukan untuk merumuskan kebijakan-kebijakan ekonomi makro (moneter fiscal, public finance), produk-produk perbankan dan keuangan syariah, serta teori-teori ekonomi lainnya.
“Maqashid syariah juga sangat diperlukan dalam membuat regulasi perbankan dan lembaga keuangan syariah. Tanpa maqashid syariah, fiqih muamalah yang dikembangkan, regulasi perbankan dan keuangan akan kaku dan statis, akibatnya lembaga perbankan dan keuangan syariah akan sulit berkembang apalagi mengalahkan perbankan konvensional,” demikian papar Agustianto.
Lebih lanjut Agustianto, dalam disiplin ilmu ushul fiqh, maqashid syariah menempati urgensitas tersendiri melebihi terma-terma ushul fiqh yang lain. “Seorang ilmuwan Muslim, ulama ataupun ekonom Muslim, harus menguasai maqashid syariah dalam melakukan ijtihad untuk menyelesaikan berbagai problematika yang muncul sepanjang zaman. Maqashid syariah adalah inti terpenting dari ilmu ushul fiqh. Maqashid syariah dirumuskan para ulama dari keseluruhan ayat-ayat Al-Quran dan sunnah. Maka tidak berlebihan dikatakan, bahwa maqashid syariah adalah saripati dari Al-Quran dan sunnah,” ujar Agustianto.
Namun demikian, lanjut Agustianto, keberhasilan penggalian hukum ekonomi Islam dari dalil-dalil Al-Quran dan hadist sangat ditentukan oleh pengetahuan tentang maqashid al-syariah yang dapat ditelaah dari dalil-dalil tafshili (Al-Quran dan sunnah). Maqashid al-syariah tidak saja menjadi faktor yang paling menentukan dalam melahirkan produk-produk hukum ekonomi syariah yang dapat berperan ganda (alat sosial kontrol dan rekayasa sosial) untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, tetapi juga lebih dari itu.
“Maqashid syariah bagi ulama dapat dapat memberikan dimensi filosofis terhadap produk-produk hukum ekonomi Islam yang dilahirkan dalam aktivitas ijtihat ekonomi syariah kontemporer,” tegas Agustianto.
Dalam konteks ranah industri ekonomi dan perbankan syariah di tanah air, tentu saja peran maqashid syariah sangat vital dan strategis di dalam mendukung pengembangan industri ini, disamping juga mengawal agar bisnis-bisnis dalam industri ini tidak malah terjerumus ke dalam bisnis yang merugikan masyarakat.
Sebab fenomenanya pada saat ini, dengan semakin menjamurnya bisnis-bisnis syariah di tanah air, ternyata cukup banyak bisnis yang mengaku berlabel syariah itu namun dalam praktik bisnisnya justru kurang, atau malah tidak mengedepankan prinsip-prinsip kesyariahannya, yang mengakibatkan kekecewaan di masyarakat yang sudah terlanjur mempercayai label syariah tersebut. Hal ini bisa terjadi, karena bisnis tersebut tidak menjalankan fungsi maqashid syariahnya. Atau maqashid syariahnya tidak diterapkan secara benar.
Karena itu, bagi mereka yang hendak berkecimpung, di lembaga keuangan syariah, atau di lembaga bisnis syariah, seyogyanyalah untuk bisa memahami arti dan makna dari maqashid syariah dengan sebaik-baiknya, dan mampu menjalankan prinsip itu dengan sebenar-benarnya, agar bisa menjaga integritas dirinya pribadi, maupun lembaga syariah tempatnya berkarir.