SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Rabu, 05 November 2014

ANTARA TEORI DAN REALITA BANK SYARIAH

Oleh : Eddy Suwarno

I.             Pengertian dan Sejarah Bank Syariah

Sejak awal kelahirannya, perbankan syariah merupakan upaya kaum muslimin untuk mendasari segenap aspek kehidupan ekonominya berlandasakan al-Qur’an dan as_Sunnah. Penolakan atas  bunga merupakan salah satu pemicu berdirinya bank berlandasakan prinsip syari’ah. Penolakan atas bunga tersebut memunculkan pertanyaan tentang apa yang dapat menggantikan mekanisme penerapan suku bunga dalam sebuah kerangka kerja islam. Disinilah Profit dan Loss Sharing masuk menggantikan sistem bunga dengan sistem bagi untung dan rugi. Sistem bagi untung dan rugi tersebut terus dikembangkan hingga lahirnya bank dengan prinsip syariah.

Jauh sebelum lahirnya bank syariah sistem profit sharing dipastikan sudah ada sebelum datangnya islam. Di Timur Tengah pra-Islam, kemitraan bisnis yang berdasarkan atas konsep bagi hasil tetap berjalan berdampingan dengan konsep pinjaman sistem bunga sebagai cara untuk membiayai berbagai aktivitas ekonomi. Setelah kedatangan islam, transaksi keuangan berbasis bunga pun dilarang dan semua dana harus disalurkan atas dasar prinsip profit sharing. Teknik kemitraan bisnis dengan menggunakan prinsip bagi hasil telah diparktikkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW ketika bertindak sebagai mudharib (wakil atau pihak yang dimodali) untuk istrinya Siti Khadijah. Sementara Khalifah kedua, Umar bin Khatab menginvestasikan uang anak yatim kepada para saudagar yang berdagang di jalur perdagangan antara Madinah dan Irak.

Istilah lain yang digunakan untuk sebutan Bank Islam adalah Bank Syariah.  Menurut UU No. 10 tahun 1998 “Bank Syariah” adalah Bank Umum yang melaksanakan kegiatan uasahanya berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.



II.          Prinsip - Prinsip Dasar Produk Bank Syariah

Pada perbankan syariah semua produknya harus berlandasakan al-Quran dan as-Sunnah yang tertuang dalam fiqih mu’amalah. Sebagai agama yang universal, Islam mengatur segala sesuatunya secara komprehensip termasuk dalam kegiatan perbankan terutama Bank Syariah.

 Produk perbankan secara umum dibagi dua yaitu Pendanaan dan Pembiayaan, karena sebagaimana fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi antara deficit unit dan surpluss unit.  

Untuk sisi pendanaan terdapat 2 prinsip dasar sebagai berikut :

1.                     Wadi’ah (titipan) adalah titipan murni dari satu pihak ke pihak lain baik individu maupun badan hukum yang harus di jaga dan dikembalikan kapan saja. Sebagaimana firman Allah “sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (titipan) kepada yang berhak menerimanya…….” (An-Nisaa :58).
2.                     Profit Sharing (Bagi Hasil), adalah Keuntungan dari usaha yang dibagi menurut kesepakatan pihak-pihak yang terlibat dalam usaha tersebut. “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian lainnya kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” (Shaad : 24).

Bank syariah merupakan bank yang sangat kaya akan produk penyaluran dana karena terdapat banyak skema yang dapat di aplikasikan dalam kegiatan penyaluran dana. Diantara prinsip-prinsip penyaluran dana pada Bank syariah, yaitu :

1.                        Bagi Hasil (Profit Sharing), adalah Keuntungan dari usaha yang dibagi menurut kesepakatan pihak-pihak yang terlibat dalam usaha tersebut. “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian lainnya kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh” (Shaad : 24).
2.                        Jual Beli (Ba’i), yaitu proses pemindahan barang dari satu orang ke orang lain dengan adanya kesepakatan harga antara dua belah pihak. Dalam jual beli  terdapat keuntungan yang diperoleh penjual berdasarkan kesepakatan dengan pembeli. Keuntungan tersebut berbeda dengan kelebihan yang diperoleh dari pinjaman uang. Sebagaimana firman Allah : “ …… Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…. (al-Baqarah :275)
3.                        Sewa (Ijarah), yaitu pemindahan hak penggunaan /pemanfaatan atas barang atau jasa melalui pembayaran sewa. Allah berfirman : …….. “ dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain….. (al-Zukhruf :32).

III.       Realita & Aplikasi Kegiatan Perbankan Syariah   

Prinsip Wadi’ah dalam aplikasi perbankan berupa Tabungan dan Giro, dimana bank sebagai penerima simpanan. Sebagai konsekuensi semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank, namun bank dapat memberikan fee atau bonus atas titipan dana kepada nasabah namun hal tersebut tidak boleh di perjanjikan di awal.

Sedangkan prinsip Bagi hasil pada umumnya di aplikasikan dalam produk deposito. Nasabah sebagai pemilik dana menginvestasikan dananya pada bank syariah guna dikelola dan disalurkan kepada usaha-usaha yang baik dan halal serta sesuai dengan prinsip syariah. Dari hasil pengelolaan dana tersebut bank syariah akan mendapatkan keuntungan, sebagai pemilik dana nasabah berhak atas keuntungan tersebut. Pembagian keuntungan didasarkan pada nisbah bagi hasil yang telah di sepakati di awal pada saat nasabah mendepositokan dananya.

Dari sisi pendanaan atau penghimpunan dana Bank Syariah pada umumnya perbankan syariah di Indonesia sudah menerapkan kedua prinsip pendanaan tersebut, namun sebagian besar masyarakat kita beranggapan bahwa menabung di bank syariah tidak menguntungkan karena tidak mendapatkan bunga hal tersebut perlu diberi penjelasan kepada nasabah mengenai prinsip dasar tabungan.

Dalam perbankan syariah kegiatan penyaluran dana sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dapat di aplikasikan sebagai berikut :

  1. Bagi Hasil (Profit Sharing)
    • Pembiayaan Musyarakah, dimana Bank dan nasabah bersyarikat untuk mengerjakan suatu proyek atau usaha, masing-masing memiliki kontribusi modal  dan amal dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai kesepakatan yang tertuang dalam nisbah bagi hasil dan sesuai dengan analisa bank.
    • Pembiayaan Mudharabah, Dalam akad mudharabah ini bank hanya bertindak sebagai pemilik dana karena 100 % modal dari bank sedangkan pengelolaan usaha sepenuhnya diserahkan kepada nasabah selaku pemilik usaha. Karena pengelolaan diserahkan sepenuhnya kepada nasabah, maka skema ini seringkali disebut Trust Financing. Keuntungan dibagi sesuai kesepakatan  dan resiko akan ditanggung oleh pemilik modal.

  1. Jual Beli (Ba;i), terdapat beberapa produk jual beli yang dapat di aplikasikan dalam Bank Syariah antara lain :
    • Murabahah, yaitu Jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Harga pokok dan keuntungan yang akan diperoleh bank harus diketahui oleh nasabah begitu juga cara pembayarannya.
    • Ba’I As-Salam, adalah jual beli dimana barang diserahkan dikemudian hari sedangkan pembayaran dilakukan dimuka.
    • Ba’I al-Isthisna’, Jual beli berdasarkan pesanan, dimana barang yang akan dibeli dipesan terlebih dahulu sesuai dengan spesifikasi yang jelas. Pembayaran boleh dilakukan di awal, tengah dan akhir sesuai dengan kesepakatan.

  1. Sewa (Ijarah), produk yang umum dilakukan oleh bank syariah dengan prinsip Ijarah adalah Ijarah Muntahiyah bi Tamlik, yaitu sewa barang yang diakhiri dengan pemindahan kepemilikan ke tangan penyewa dalam hal ini nasabah.

D sisi penyaluran dana perlu disadari bahwa praktek yang dilakukan masih belum sempurna sesuai dengan ketentuan syari’ah, hal tersebut memang tidak mudah karena system Bank Syariah merupakan suatu hal yang baru sehingga perlu waktu yang cukup lama untuk menanamkan pemahanan kepada masyarakat.

Dalam mengaplikasikan produk musyarakah bank seringkali tidak ikut andil dalam pengelolaan usaha hal tersebut karena keterbatasan tenaga kerja dan waktu, sehingga hal ini dapat mengakibatkan adanya ketidakjujuran nasabah dalam mengelola usahanya. Sudah seharusnya bank ikut serta memonitor usaha nasabah secara langsung jangan hanya menerima laporan keuangan saja. Lain halnya dengan Mudharabah yang pengelolaan usahanya diserahkan kepada nasabah sehingga benar-benar harus diserahkan kepada orang yang dapat dipercaya.

Sebagian besar Jual beli yang dilakukan oleh Bank Syariah merupakan jual beli yang dikuasakan pembeliannya kepada nasabah, padahal jual beli khusunya Murabahah merupakan portofolio pembiayaan terbesar pada bank syariah. Pemberian kuasa tersebut sama sekali tidak menyalahi aturan syariahnya, namun bank tetap harus mengetahui spesifikasi barang yang akan dibeli baik kwalitas maupun kwantitasnya. Masih sangat sedikit Bank syariah yang mengaplikasikan prinsip as-Salam dan al-Isthisna’. Untuk mengaplikasikannya Bank syariah perlu bekerjasama dengan supplier untuk pengadaan barang-barang yang akan di perjualbelikan.

Ijarah Muntahiyah bi Tamlik (IMBT) yang sering dipraktekkan adalah kepemilikan kendaraan atau yang lebih dikenal dengan Leasing. Bank akan mendapatkan uang sewa atas barang disewakannya sebagai pendapatan bagi bank. Bank berhak untuk menarik barang yang disewa apabila nasabah tidak membayar sewa barang tersebut. Sekarang ini sedang berkembang produk Ijarah Multi Jasa yang telah dikeluarkan fatwanya oleh DSN. Produk Ijarah Multi Jasa di arahkan untuk orang-orang yang sedang membutuhkan dana untuk membayar jasa rumah sakit, sekolah, dll.

Ketidak sempurnaan Bank Syariah saat ini dalam menerapkan prinsip-prinsip syariah bukanlah suatu kesalahan, namun hal tersebut merupakan tantangan bagi praktisi perbankan untuk memperbaiki dan menyempurnakannya. Hal tersebut memang tidak mudah terlebih di tengah-tengah keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai perbankan syariah. Insya Allah dengan kerja keras dan twakal kepada Allah SWT kesempurnaan akan tercapai.