SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Minggu, 23 November 2014

Edisi BBM 2014



Hak Anak Terus Tercerabut
Ratusan anak korban Pedofil di Bali, haknya untuk lepas dari ketakutan tercabut. Sudahkah kita memerhatikan hak-hak anak kita?

Anak-anak SD di Bantul, Yogyakarta. Foto: MySharing
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) End Child Prostitution, Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purpuses (ECPAT) Indonesia mencatat dalam kurun waktu lima tahun terakhir menemukan 365 anak-anak korban pedofilia di Bali dan sejak tahun 2013 ECPAT Indonesia telah memberikan pendampingan hukum terhadap 27 anak yang menjadi korban eksploitasi seksual.
Menurut laporan ILO pada tahun 2004, ada sekitar 7.452 anak yang melakukan aktifitas seksual komersil di kawasan Pulau Jawa seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, sedangkan di kawasan Jakarta dan Jawa barat ada sejumlah 14.000 anak. Hal tersebut membuktikan bahwa hak-hak anak belum terpenuhi dan menunjukan bahwa anak perlu dilindungi agar terhindar dari kejahatan seksual.
“Seperti yang kita ketahui bersama kasus penjualan anak yang diperkerjakan sebagai prostitusi, kasus kekerasan seksual anak di sekolah bertaraf international di Jakarta, kasus pedofil yang mengoleksi pornografi anak lewat internet yang dilakukan oleh seorang dosen.
Kasus emon- remaja yang menyodomi ratusan anak di sekitar tempat bermain anak, bahkan sampai eksploitasi seksual yang terjadi di sekolah atau lembaga pendidikan berbasis Agama, belum lagi banyaknya kasus inses dan kekerasan seksual yang dilakukan di dalam rumah sendiri oleh anggota keluarga terdekat, apakah itu Ayah, Paman maupun Saudara kandung.
Tidak ada lagi tempat yang aman bagi anak. Sekarang bukan saatnya kita diam membiarkan atau malah menyangkal kondisi ini terjadi di sekeliling kita.” ungkap Andy Ardian, Program Manager ECPAT Indonesia. Hal ini jelas menunjukan bahwa anak dan orang muda sangat rentan menjadi korban eksploitasi seksual dan perlu mendapatkan perlindungan. Baca juga: Perbankan Suburkan Kejahatan Seksual terhadap Anak.
Hari ini, Hari Anak Nasional
Padahal, PBB telah menetapkan tanggal 20 November sebagai Hari Anak Internasional dengan disahkannya Konvensi Hak Anak pada tanggal 20 November 1989 melalui resolusi No. 44/25. KHA merupakan konvensi yang banyak diratifikasi oleh berbagai Negara di Dunia, ada sekitar 192 negara yang telah meratifikasinya termasuk Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990 tanggal 25 Agustus 1990 dan semenjak tanggal 5 Oktober 1990 KHA berlaku di Indonesia.
Setelah 25 tahun sejak disahkannya KHA dan diratifikasi oleh banyak Negara, hal tersebut ternyata tidak menjamin hak anak terpenuhi, masih banyak pelanggaran yang terjadi sehingga diperlukan perhatian dan aksi dari semua kalangan terutama pemerintah agar cita-cita dari KHA untuk memenuhi hak anak bisa tercapai.
Untuk mendorong semua pihak terutama pemerintah agar membuat kebijakan yang ramah anak dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan hal ini, ECPAT Indonesia bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri Belanda dan Koalisi 18+ mengadakan kampanye dengan tema “Bebaskan Anak Dari Eksploitasi Seksual” pada 23 November 2014 di samping Gedung UOB, Thamrin pada acara Car Free Day.
Kampanye ini direncanakan akan dibuka oleh Kementrian Sosial, Kementrian PPPA, Seto Mulyadi (akifis anak) dan dihadiri oleh ECPAT Indonesia, Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Bandungwangi, Yayasan Kusuma Buana, Yayasan Dinamika, koalisi 18+, perwakilan sekolah-sekolah di Jakarta, Forum