SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Rabu, 05 November 2014

Rekonstruksi Paradigma Ekonomi Islam



Oleh: Eddy Suwarno

Beberapa dekade terakhir ini banyak para pemikir dan praktisi dalam berbagai bidang termasuk bidang ekonomi yang menilai telah terjadinya krisis global, kompleks, dan multidimensional. Dikatakan Fritjop, Krisis ini timbul tidak saja disebabkan kesalahan pada tingkat operasional tetapi bahkan lebih dahsyat pada tingkat konsepsional dan paradigmatic meliputi intelektual, moral, dan spiritual.
Dalam bidang ekonomi, Fritjop misalnya memberikan kritik terhadap para ekonom yang membicarakan ilmu ekonomi melalui pendekatan yang reduksionis dan terpecah-pecah dari bidang-bidang keilmuan dan bidang lainnya seolah-olah sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, statis dan stagnan. Padahal menurutnya, ilmu ekonomi adalah organisme yang hidup yang dalam perkembangannya mengalami evolusi yang dinamis. Bahkan ia juga memberikan penjelasan lebih lanjut, bahwa akibat dari pemahaman yang statis dan tidak mengakui adanya evolusi, perubahan, dan adaptasi, menimbulkan kekeliruan dikalangan ilmuwan ekonomi dan juga ilmu-ilmu sosial lain yang menganggap ilmu-ilmu tersebut “bebas nilai”. Padahal menurutnya “ nilai-nilai yang dijadikan pedoman oleh masyarakat akan menentukan pandangan dunia, lembaga keagamaan, perusahaan dan teknologi ilmiah, dan pengaturan-pengaturan politik dan ekonomi masyarakat itu. Sekali dikodifikasikan, perangkat tersebut akan menjadi kerangka persepsi, wawasan, dan pilihan-pilihan untuk inovasi dan adaptasi sosial masyarakat itu”. Sehingga dengan demikian, menurutnya, “…ilmu ekonomi merupakan ilmu yang paling bergantung pada nilai dan paling normative di antara ilmu-ilmu sosial lainnya. Model dan teorinya akan selalu didasarkan atas sistem nilai tertentu dan pada pandangan tentang hakikat manusia…”

          Sebenarnya, berbagai kritik dan kecaman terhadap kelemahan teori ekonomi atau teori pembangunan sosio-ekonomi yang menjadi acuan dalam proses pembangunan global selama ini, tidak saja Fritjop, tetapi sudah banyak pula dilontarkan oleh para ilmuwan lain. Mereka berpendapat bahwa kelemahan paling mendasar dari paradigma teori ekonomi tersebut adalah pengabaiannya terhadap dimensi moral, nilai-nilai sosial dan etika. Menyadari adanya kelemahan mendasar tersebut, mereka bukan hanya menyarankan agar digunakan pendekatan interdisipliner dalam mempelajari fenomena ekonomi, tetapi juga menyarankan agar dilakukan pendekatan holistik. Pendekatan ini mengintegrasikan kebutuhan material dan spiritual manusia, interaksi antara manusia, serta interaksi manusia dengan alam semesta.
Bahkan, Paul Omerod dan Paul Krugman, sebagaimana di kutip oleh Mubyarto, secara tegas menyatakan bahwa ada hubungan yang erat antara ilmu ekonomi dan sistem ekonomi yang dianut Indonesia dengan krisis ekonomi yang dialami sejak beberapa waktu lalu hingga saat ini.
          Untuk itu, sebuah tantangan dan kesempatan bagi komunitas intelektual khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya, untuk melakukan pekerjaan “besar” berupa pengembangan paradigma baru tentang pendekatan pembangunan ekonomi yang dilandaskan pada visi kemanusian dan Ketuhanan secara integral, yang dilandasi pada asas yang bersifat azali yang dapat menjaga keselamatan seluruh manusia dan alam semesta, yaitu yang didasarkan pada nilai-nilai syariah Islam.
Sebagai tahap awal, dalam upaya tersebut, berikut ini dijelaskan secara sekilas mengenai peta sejarah pemikiran ekonomi Islam. Di Indonesia untuk penyebutan ekonomi Islam sering disebut dengan istilah ekonomi syariah, sebagaimana secara kelembagaan ada bank syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, dll.
A. Sejarah Pemikiran Ekonomi:Persfektif Islam
1.Sejarah ekonomi yang a-historis
Dalam buku-buku sejarah ekonomi konvensional yang dipelajari oleh para mahasiswa ekonomi di seluruh belahan dunia sekarang ini, kita menemukan bahwa dalam rangkaian perjalanan sejarah tersebut ada masa “kekosongan” yang cukup lama yaitu sekitar 500 tahun. Penulis-penulis buku tersebut menilai bahwa seolah-olah Ilmu ekonomi ini menjelma dengan sendirinya ( mengalami reinkarnasi) dari masa Yunani kuno seperti Aristoteles (367-322 SM) ke St. Thomas Aquinas (1225-1274 M). Atau sejak abad 7-12M tidak ada masa diskurus intelektual berkaitan dengan ekonomi.
Di antara buku sejarah ekonomi ini adalah buku yang ditulis oleh Joseph Alois Schumpeter, History of Economic Analysis (1954). Dalam buku ini ia berpendapat bahwa ‘ analisa ekonomi dimulai sejak masa Yunani dan tidak dikembangkan beberapa lama hingga muncul ekonomi scholastic dengan tokohnya St. Thomas Aquinas (1225-1274 M). Masa kekosongan tersebut sering kemudian dinamakan “ great Gap of The Schumpeterian”.
Schumpeter hanya menulis tiga baris dalam catatan kakinya nama Ibn Sina dan Ibn Rusyd dalam kaitan proses transmisi pemikiran Aristoteles kepada St. Thomas tanpa sedikitpun menjelaskan kedudukan mereka dalam tansmisi tersebut termasuk kemungkinannya ia mengutip atau “mencuri” dari pemikiran mereka. Sekalipun sudah mulai banyak yang menentangnya terhadap pendapat ini, tetapi “great Gap” ini tetap dianggap suatu yang benar-benar terjadi.
Sebenarnya, adanya kekosongan pencatatan sejarah ekonomi tidak saja antara tahun pertama Masehi s/d ditemukannya pemikiran St. Thomas Aquinas tetapi juga terjadi kekosongan pencatatan antara tahun 1270 M s/d ditemukannya pemikiran Quesney (1758 M). Adanya kaitan yang lepas (missing link) dalam sejarah tersebut menunjukkan bahwa baik disengaja atau tidak disengaja, menimbulkan pertanyaan besar bagi kalangan sejarawan ekonomi khususnya. Ada apa dan kenapa hal itu bisa terjadi ?
Beberapa jawaban bisa dimunculkan atas pertanyaan tersebut, tetapi satu hal yang penting bahwa yang dianggap masa kekosongan atau great gap tersebut adalah masa dimana perdaban dunia diisi oleh umat Islam sejak mulai munculnya di Mekah pertengahan abad ke 6 dengan kelahiran Muhammad saw (570 M) sampai lemah dan terlepasnya kekhalifahan Usmani ke penjajahan Barat sekitar abad 12 Masehi. Kenyataan adanya penghilangan kronologis sejarah, tidak saja memberikan “kekaburan” terhadap fakta-fakta peradaban tetapi juga terjadinya penghilangan substansi peradaban itu sendiri. Esensi normatif berupa kebenaran dan kebijaksanaan (wisdom) yang sudah dikembangkan oleh para filosof pada masa Yunani dalam berbagai hal termasuk fenomena sosial dan ekonomi dan ditumbuhkembangkan oleh umat tidak mempunyai ikatan dengan yang dikembangkan setelahnya Islam, seolah-olah diputus dan.
Salah satu contoh substansi yang terputus dari adanya missing link ini adalah adanya larangan pembebanan riba (sebagai bentuk ketidakadilan) dalam Bible (perjanjian lama) tetapi tidak dijadikan acuan para pemikir ekonomi setelah St. Thomas Aquinas. Bahkan secara tidak langsung hal ini diakui oleh penulis ekonomi kontemporer yang juga penerima nobel bidang ekonomi yaitu Paul A. Samuelson. Samuelson dalam bukunya Economics, sebagaimana dikatakan Karnaen, edisi ke-9, Bab 42 dengan judul “ Wind of change : Evolution of Economic Doctrines”, antara lain mengatakan : But from its earliest beginnings, political economy was concerned with policy. Thus both Testament of Bible warns agains intrest or usury, as do Aristotle and St. Thomas Aquinas …”. Pada buku yang sama Edisi ke-14, Bab 22 dengan judul “ the Wind of Change : the Triumph of the market”, sub bab A dengan judul : Evolution of Economic Thought – Early Roots”, antara lain Samuelson kembali mengatakan : “Economic thinking began with Aristotle and continue through the teaching of medieval Scholastic. This early stirrings dealt largely with normative doctrines such as the idea of a “justice price”, which purpoted to tell the genuine value of commodity. The Scholastic rejected interest on loans as unjust “usury”, and prohibitions of usury survive to day as interset-rate ceilings in many states and countries”.
Dengan demikian, boleh jadi krisis global dan multidimensi terjadi sebagaimana dikatakan Fritjop di atas adalah karena hilangnya substansi peradaban yang mendasarkan pada normative doctrines dengan peradaban yang hedonis-materialistik yang banyak dikembangkan sekarang ini.

2. Pemikiran Ekonomi Islam
a. Proses transmisi dan diskursus awal
Fakta sejarah menunjukkan bahwa periode yang dianggap oleh Shumpeterian sebagai “great gap” adalah masa dimana umat Islam mengalami pertumbuhan, perkembangan , dan kemajuan atau umat Islam sering menyebut masa-masa the golden age sedangkan bagi Barat merupakan masa-masa the dark age.
Para pemikir muslim sejak awal terutama pada masa transmisi berbagai keilmuan yang dilakukan di masa Bani Abbas, terutama pada masa Pemerintahan Al-Ma’Mun (813-833 M) dengan lembaganya yang terkenal Bait al-Hikmah (Rumah kebijaksanan) hingga seterusnya tetap mengakui bahwa pernah mempelajari dan melakukan transmisi besar-besaran dari ilmuan Yunani dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Kemudian mereka melakukan penyesuaian dengan doktrin yang diajarkan Nabi Muhammad saw baik dalam al-Quran maupun Hadis-nya. Proses transmisi ini malahirkan penemuan-penemuan baru dan meletakkan kerangka dasar dalam pengembangan berbagai disiplin ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial. Mulai dari filsafat, matematika, astronomi, ilmu optik, biologi, kedokteran, sejarah, sosiologi, psikologi, pedagogi, sampai sastra termasuk juga tentunya ilmu ekonomi.
Para pemikir muslim klasik tidak terjebak untuk mengkotak-kotakan berbagai macam ilmu tersebut seperti yang dilakukan oleh para pemikir saat ini. Mereka melihat ilmu-ilmu tersebut sebagai ayat-ayat Allah yang bertebaran di seluruh alam. Dalam pandangan mereka, ilmu-ilmu itu walaupun sepintas terlihat berbeda-beda dan bermacam-macam jenisnya namun pada hakekatnya berasal dari sumber yang satu yaitu Tuhan. Mereka melakukan klasifikasi terhadap berbagai macam ilmu sebatas sebagai pembedaan bukan pemisahan. Karenanya tidaklah mengherankan bila para pemikir klasik muslim menguasai berbagai macam bidang ilmu. Ibn Sina (980-1037 M) sebagai contoh selain terkenal sebagai ahli kedokteran juga adalah ahli filsafat, bahkan ia juga mendalami psikologi dan musik. Al-Ghazali (1058 –1111 M), selain banyak membahas masalah-masalah fiqh (hukum), ilmu kalam (teologi), dan tasauf, beliau juga banyak membahas masalah filsafat, pendidikan, psikologi, ekonomi, dan pemerintahan. Ibn Khaldun (1332-1404) selain banyak membahas masalah sejarah juga banyak menyinggung masalah-masalah sosiologi dan antropologi budaya, ekonomi, geografi pembangunan dan perdaban bahkan futurology.
Dengan karakter pemahaman keilmuan tersebut, maka bidang ekonomi juga menjadi bagain dari diskurus pembahasan mereka. Namun secara umum, pemikiran ekonomi dimaksud terangkum dalam berbagai tema di bidang tafsir, fikih, ushul fikih, bahkan teologi. Ia belum berdiri sendiri. Dan seperti dikatakan oleh Muhammad Baqir Al-Shadr , kita harus membedakan antara ekonomi sebagai sistem, dan ekonomi sebagai ilmu. Sebagai sistem, ekonomi mengacu pada cara suatu masyarakat mengatur kehidupan ekonominya. Sedangkan sebagai ilmu ekonomi mengacu kepada upaya memahami berbagai peristiwa dan gejala ekonomi berdasarkan kerangka teori tertentu yang menjelaskan korelasi antara peristiwa dan gejala itu dengan berbagai faktor yang melatarinya. Yang dibakukan oleh ilmu fikih dari ekonomi ketika itu adalah aspek hukum yang kemudian membentuk sistemnya. Selain itu, sebenarnya ekonomi sebagai sebuh disiplin ilmu tersendiri baru muncul sekitar 4 abad yang lalu walaupun akar pemikirannya sudah lahir jauh sebelum itu.

b. Pertumbuhan dan Perkembangan Pemikiran Ekonomi Islam

Pemikiran ekonomi Islam sebagai sebuah sistem yaitu mengacu pada cara suatu masyarakat mengatur kehidupan ekonominya, sebagaimana dikatan Shadr di atas, pada dasarnya telah ada sejak ajaran Islam itu sendiri di bawa oleh Nabi Muhammad saw. Dengan mengutip ungkapan Siddiqie, pemikiran ekonomi Islam berusia setua Islam itu sendiri. Hal ini berdasarkan bahwa ajaran Islam, yang bersumber pada Al-Quran dan Hadis, sejak awal sangat mendorong dan berpandangan positif terhadap kegiatan ekonomi. Bahkan nabi Muhammad saw sendiri adalah sebagai palaku ekonomi. Begitu pula para sahabatnya pada generasi awal (masa Khulafa al-Rasyidin) sebagian besar terlibat dalam kegiatan ekonomi di samping kegiatan lainnya.
Pembahasan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Islam ini, sebenarnya sudah banyak dibahas oleh para penulis yang peduli pada pengembangan ekonomi Islam. Di antaranya Siddiqie, Akram Khan, Sabzwari, dan Kadim Sadr.
Siddiqie misalnya mencoba melakukan survey dengan urutan secara kronologis waktu dari pemikir-pemikir ekonomi Islam berikut dasar-dasar pemikirannya. Menurutnya, kronologis pemikir Islam dibagi pada 4 (empat) fase, yaitu fase pertama sejak awal Islam sampai 1058 M; fase kedua 1058-1446; fase ketiga dari tahun 1446 – 1932; dan Fase dari 1932 – sekarang. Di antara tokoh pemikir yang melakukan pembahasan ekonomi pada fase pertama adalah : Zaid bin Ali (699-738 M), Abu Hanifa (699-767M), al-Awza’I (707-774), Malik bin Anas (712-796), Abu Yusuf (731-796),. Muhammad bin Hasan al-shaibani (750-804), Abu Ubaid al-Qasim Ibn Sallam ( - 838 M), Haris bin Asad al-Muhasibi ( - 859), Junaid al-Baghdadi ( - 910), Ibn Miskawih ( - 1030 M), dan al-Mawardi ( - 1058 M).
Yang masuk fase kedua adalah : Al-Ghazali (1055-1111 M), Ibn Taimiyah (1263-1328 M), Ibn Khaldun (1332-1404 M). Yang masuk fase ketiga adalah : Shah Waliyullah (1703-1762M), Muhammad Iqbal (1873-1938 M). dan fase setelahnya dari tahun 1932 – sekarang di antaranya Yusuf Qardhawi, Muhammad A. Mannan, Khursid Ahmad, M. Nejatullah Siddiqie, dll.
Penulis tidak akan melakukan pembahasan masing-masing pemikiran mereka berkaitan dengan ekonomi kecuali hanya sekilas pada fase kontemporer yang akan dibahas pada sub berikutnya. Tetapi berdasarkan hasil survey di atas, kita dapat melakukan perbandingan mengenai sejarah perkembangan ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional. Karnaen, salah seorang yang mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia, telah melakukan penelitian mengenai perbandingan ini. Berikut adalah penjelasan perbandingan tersebut.
Kalau kita menyimak apa yang disebut “the main stream of economics” pada the family of economics-nya Paul A. Samuelson, segera kita akan jumpai kekosongan pemikiran ekonomi dari tahun pertama masehi sempai diketemukannya pemikiran St. Thomas Aquinas pada tahun 1270. Pada jeda waktu itu menurut “ the family trees of economics” diisi oleh para scholastic yang sifatnya normatif. Sementara itu menurut catatan para pengamat muslim, sejak datangnya agama Islam di abad ke-7, telah banyak para pemikir muslim yang memberikan sumbangannya. Para pemikir muslim ini adalah para fukaha, sufi, dan ahli filsafat yang memberikan sumbangan pemikirannya secara universal termasuk di dalamnya menyangkut masalah ekonomi. Mereka inilah yang merupakan peletak dasar pemikiran Islam tentang ekonomi. Sepanjang para scholastic dan para fukaha, sufi, dan ahli filsafat muslim ini mengacu kepada buku suci mereka mssing-masing, maka dalam hal pelarangan terhadap bunga atau riba mereka sama dan sejalan.
Kemudian antara ditemukannya pemikiran St. Thomas Aquinas di tahun 1270 dengan ditemukannya ekonomi Quesney di tahun 1758 terdapat jeda waktu 5 abad yang menurut “the family trees of economic” diisi oleh para Physiocrats dan para Merchantilis. Pandangan ekonomi mereka disebut aliran klasik (Classical School). Sementara itu pada abad ke 11 – 15 yang sama terdapat para pemikir muslim yang terkenal seperti al-Ghazali, Ibn Taimiyah, dan Ibn Khaldun. Pemikiran para pemikir Muslim ini memang komprehensif dan menyangkut juga tentang ekonomi. Mereka mewakili fase kedua dari pemikiran ekonomi dari sudut ajaran Islam.
Akhirnya pada waktu pemikiran ekonomi Adam Smith (1776 M) ditemukan dan diikuti oleh TR. Maltus (1798 M), David Ricardo, JS.Mill (1848 M), W. Marshal (1890 M) dan JM Keynes (1936) yang membentuk mazhab Kapitalis, dan Ilmu Ekonomi Neo-Klasik, yang kemudian dicoba ditandingi dengan pemikiran Karl Marx (1867 M), V. Lenin (1914) yang membentuk mazhab Sosialisme-Komunisme, muncul pula di abad ke 15 sampai abad ke 20 para pemikir ekonomi muslim seperti Shah Waliyullah, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Iqbal. Mereka mewakili fase ketiga dari pemikiran ekonomi dari sudut ajaran islam.
Untuk itu, dari kronologis kajian sejarah pemikiran ekonomi dapat diketahui bahwa adanya masa kekosongan (missing link atau great gap) merupakan absurditas dan tidak logis. Dengan tersambungnya kembali kronologis sejarah pemikiran ekonomi yaitu masuknya pemikiran-pemikiran muslim di bidang ekonomi, menjadi terbangun kerangka sejarah yang berkesinambungan (continuitas) dan menyatu (integrated) sekalipun ada cara pendekatan yang berbeda (difference approach).
Persoalan kemudian adalah bagaimana memahami kesinambungan kronologis tersebut juga secara bersamaan melakukan pemahaman terhadap pemikiran-pemikirannya. Misalnya, pada fase pertama pemikir ekonomi Islam ada Abu Yusuf (731-798) yang menulis kitab Al-Kharaj. Dalam buku tersebut, di antaranya ia membahas tentang bagaimana kebijaksanaan pengendalian harga, bagaimana harga ditentukan dan bagaimana pengaruh pajak terhadap harga. Dengan demikian jauh sebelum kaum skolastik yaitu St. Abertus Magnus (1206-1280) dan kaum Merkantilis, yaitu David Hume (1711-1776), bahkan kaum klasik, yaitu Adam Smith (1723-1790) serta kaum neo klasik, yaitu Alfred Marshal (1842-1924) membicarakannya, Abu Yusuf sudah membicarakannya. Bahkan apa yang ditulis oleh Adam Smith (1776M), yang dianggap sebagai bapak ekonomi Barat, diduga banyak mendapat inspirasi dari karya Abu Ubayd ( 838 M) yang bukunya berjudul Al-Amwal. Al-Amwal jika diartikan dalam bahasa Inggris artinya Wealth dan Judul buku Adam Smith adalah The Wealth of Nations. Dengan demikian, sekalipun adanya ketidakjujuran ilmiah yang dilakukan pemikir Barat, pemikir-pemikir ekonomi muslim telah mengidentifikasi banyak konsep, variabel, dan teori-teori ekonomi yang masih relevan hingga kini.

B. Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer
Babak baru perkembangan pemikiran mengenai Ekonomi Islam secara dramatik di tingkat internasional mulai timbul pada dasawarsa tahun 1970-an sekalipun secara lokal dan sporadis telah muncul sejak awal abad 20-an. Beberapa faktor yang memunculkan perkembangan baru ini, di antaranya adalah : Pertama, mulai terjadinya kemerdekaan negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim di hampir seluruh wilayah terutama wilayah Asia, Timur Tengah, dan Afrika. Kedua, timbulnya apa yang disebut sebagai kekuatan ekonomi petro dollar, yaitu dihasilkannya industri perminyakan yang berasal dari negara-negara Islam (Islamic countries) seperti Libia, Kuwait, Iran, Brunei Darussalam, Iraq, Persatuan Emirat Arab, Aljazair, Malaysia, dan Indonesia. Negara-negara tersebut oleh Bank Dunia disebut dengan “ Capital Surplus Oil Exporters”. Ketiga, Timbulnya kesadaran tentang “Kebangkitan Islam “ pada abad ke-14 Hijriyah yang melanda Dunia Islam pada dasawarsa tahun 1970-an. Dan keempat, lahirnya generasi baru intelektual Muslim yang mendapat pendidikan modern, baik di Barat maupun di negara-negara Islam. Di samping secara bersamaan adanya kebangkitan Dunia Ketiga dalam pembangunan yang didukung oleh lembaga-lembaga internasional seperti PBB, Bank Dunia, dan beberapa lembaga yang bersifat regional dan internasional lainnya seperti ADB (Asian development bank), IDB (Islamic Development Bank), dan OKI (Organisasi Konperensi Islam). Melalui OKI dan IDB-nya misalnya berbagai konperensi internasional tentang Ekonomi Islam diselenggarakan.
Dengan berbagai faktor dan kegiatan internasional tersebut, maka muncul berbagai literatur mengenai Ekonomi Islam dan derivasinya. Dalam literatur-literatur tersebut ditunjukkan pertumbuhan dan perkembangan cukup signifikan dalam pengembangan pemikiran Ekonomi Islam. Bukan saja pada tataran teoritis-konsepsional tetapi juga sudah masuk pada tataran praktis-operasional. Menurut Siddiqie, misalnya cakupan bahasan dalam literatur ekonomi Islam meliputi di antaranya dasar-dasar filosofis ekonomi Islam, perbandingan ekonomi antara sistem Islam dan “isme-isme” lainnya, kritik Islam terhadap sistem ekonomi kontemporer, analisa ekonomi dalam kerangka Islam, dan sejarah pemikiran Islam.
Berdasarkan survey yang dilakukan Siddiqie (1981) tersebut dan juga Akram Khan (1989) sebagaimana dijelaskan Haneef, terhadap literatur-literatur mengenai ekonomi Islam yang muncul sejak pertengahan abad 20, diketahui bahwa dalam perkembangan pemikiran ekonomi Islam para penulis muslim memiliki pendekatan dan tinjauanyang berbeda.
Secara garis besar peta pemikiran dan kecenderungan dalam memahami ekonomi Islam, menurut Siddiqie dan Khan, terdapat tiga bagian besar. Mereka adalah :
Pendekatan yuris. Mereka memberikan kontribusi dalam pembahasan ekonomi Islam melalui pendekatan legalistik dan membahas konsep-konsep dasar dari prinsip ajaran islam berkaitan dengan ekonomi, misalnya pembahasan masalah riba, zakat, bank, kemiskinan dan pembangunan.
Pendekatan modernis. Mereka tidak melakukan pendekatan legalistik, tetapi lebih kepada pendekatan rasionalitas-kritis terhadap term-term dan persoalan-persoalan ekonomi dan masyarakat yang langsung dari sumbernya yaitu al-Quran dan Hadis. Dengan proses ijtihad yang mereka lakukan memberikan kontribusi pada pengembangan pemikiran ekonomi yang lebih realistik dengan kenyataan sosial. Meskipun mendapatkan reaksi dari pihak-pihak lain yang tidak mengakui pendekatan metodologi yang dilakukannya.
Pendekatan yang dilakukan oleh para sarjana ekonomi yang belajar di barat dan mengembangkan pemikiran ekonomi Islam melalui istilah-istilah dan pendekatan ‘mainstream’ ekonomi konvensional (pendekatan neo-klasik dan sintesa keynesian). Analisa mereka menggunakan tehnik-tehnik pendidikan dan pelatihan ekonomi yang mereka pelajari.
Menurut Haneef, yang masuk kategori pertama di antaranya adalah Muhammad Baqir al-sadr dan Sayyid Mahmud Taleghani. Sedangkan yang masuk kategori ketiga adalah M.A. Mannan, M. Nejatullah Siddiqie, Syed Nawab Heidar naqvi, dan Monzer Kahf. Sedangkan yang masuk kategori kedua, Haneef nampaknya tidak secara jelas menyebutkan orang-orangnya. Namun dengan melakukan perbandingan terhadap ketegorisasi yang dilakukan oleh yang lainnya, yang termasuk kategori kedua di antaranya Timur Kuran, Jomo, Muhammad Arif, dll. Oleh karenanya, untuk memudahkan kategorisasi pemikiran ekonomi islam kontemporer ada yang mengklasifikasikan sebagai berikut : Mazhab Baqir as-sadr, mazhab alternatif kritis, dan Mazhab Mainstream.
Dari semua pendekatan tersebut, masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan di samping ada kesamaan dan perbedaan. Di antara persamaan dari pendekatan-pendekatan tersebut adalah mengenai dasar-dasar filosofi dari sistem ekonomi Islam. Dasar-dasar tersebut yaitu Tauhid, Khilafah, Ibadah, Takaful, dan ‘Adalah. Di samping mereka juga sepakat terhadap sumber hukum yaitu al-Quran dan Sunnah, serta prinsip-prinsip umum yang dijelaskan keduanya seperti kewajiban zakat dan pelarangan riba sebagai dasar dari sistem ekonomi islam.

Adapun beberapa perbedaan yang muncul di antara mereka adalah :
Penafsiran dari istilah-istilah dan konsep tertentu dalam al-Quran dan Sunnah.
Metodologi atau pendekatan yang digunakan untuk membangun kerangka teori atau sistem ekonomi Islam.
Sebagai akibat dari perbedaan kedua hal di atas, mereka juga berbeda dalam memberikan pandangan (views) dan karakteristik (features) dari sistem ekonomi islam.
Oleh karenanya dalam membicarakan pemikiran ekonomi islam, sekalipun dasar-dasarnya sama tetapi dalam pengaktualisasian dasar-dasar tersebut mengelami perbedaan karena berbeda latarbelakang pendidikan dan kecenderungan. Namun demikian, semua pemikiran yang ada, secara positif memberikan kontribusi yang luar biasa bagi kita dalam upaya memahami pemikiran ekonomi islam. Di samping juga sangat terbukanya bagi generasi selanjutnya untuk melakukan kajian ekonomi Islam.
Berikut sekilas perbedaan cara pandang pemikiran ekonomi Islam kontemporer.

1. Mazhab Baqir As-sadr
Mazhab ini berpendapat bahwa ilmu ekonomi (economics) tidak pernah bisa sejalan dengan Islam. Ekonomi tetap ekonomi, dan islam tetap Islam. Keduanya tidak akan pernah dapat disatukan karena keduanya berasal dari filosofi yang saling kontradiktif. Yang satu anti-Islam, yang lainnya Islam.
Perbedaan filosofi ini berdampak pada perbedaan cara pandang melihat masalah ekonomi. Misalnya, Mazhab Baqir menolak pernyataan bahwa sumber daya itu terbatas. Menurutnya, Islam tidak mengenal adanya sumber daya yang terbatas. Dll.

2. Mazhab Mainstream
Mazhab ini melihat masalah ekonomi hampir tidak ada bedanya dengan pandangan ekonomi konvensional. Mazhab ini tidak pernah membuang sekaligus teori-teori ekonomi konvensional ke keranjang sampah, tetapi mengambil hal-hal yang baik dan bermanfaat. Mereka berpendapat bahwa hikmah atau ilmu bagi umat islam adalah bagaikan barang yang hilang. Dimana saja ditemukan maka berhak mengambilnya. Tentu selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran islam.
3. Mazhab Alternatif kritis
Mazhab ini mengkritik kedua mazhab sebelumnya. Mazhab Baqir dikritik sebagai mazhab yang seolah-olah ingin menemukan sesuatu yang baru padahal sebenarnya sudah ada dan ditemukan orang lain. Sedangkan mazhab mainstream dikritiknya sebagai jiplakan dari ekonomi konvensional dengan menghilangkan variabel riba dan memasukkan variabel zakat serta niat.
Mazhab ini berpendapat, analisa kritis bukan saja harus dilakukan terhadap sosialisme dan kapitalisme, tetapi juga terhadap akonomi Islam itu sendiri. Proposisi dan teori yang diajukan oleh ekonomi Islam harus selalu diuji kebenarannya sebagaimana yang dilakukan terhadap ekonomi konvensional.

1. Berbagai kritik yang disampaikan oleh para pakar terhadap kelemahan teori ekonomi dan pembangunan dewasa ini menunjukkan perlunya terobosan dan keberanian berbagai pihak untuk tidak terpaku terhadap pakem atau arus utama (mainstream) pemikiran ekonomi yang ada dan mencoba menumbuh-suburkan teori lain yang didasarkan pada pendekatan holistik, yaitu nilai-nilai ajaran Islam.

2. Sejarah pemikiran ekonomi yang dipelajari selama ini ternyata memutus dan menghilangkan rangkaian atau kesinambungan peradaban manusia melalui tidak terelaborasinya pemikiran-pemikiran yang tumbuh dalam rentang waktu lama menjadi satu kesatuan sehingga adanya nilai-nilai luhur yang terkubur dari proses pemutusan tersebut.

3. Adanya upaya-upaya melahirkan kembali pemikiran yang terkubur tersebut, yaitu pemikiran ekonomi yang dikembangkan umat Islam, akan memberikan khazanah yang sangat berharga bagi peradaban umat manusia ke depan.

4. Perjalanan ekonomi Islam telah tumbuh sejak adanya Islam itu sendiri yaitu sejak Muhammad saw menyampaikan risalah-nya kepada umat-umatnya. Kemudian dikembangkan secara periodik oleh penerus dan peminat hingga sekarang.

5. Pemikiran ekonomi Islam kontemporer (sekarang) mengalami perkembangan yang dinamis, sehingga memberikan wacana yang sangat variatif. Meskipun menggunakan dasar filosofis yang sama, tetapi sesuai dengan pendekatan dan kecenderungan dalam aktualisasinya mengalami perkembangan yang dinamis pula bahkan sedikit perbedaan. Mereka berprinsip “ kesatuan dalam keragaman”.