SEPUTAR EKONOMI ISLAM

SEPUTAR EKONOMI SYARIAH “Islamic Economics is Social science which studies the economics problems of a people imbued with the value of Islam.” (Abdul Mannan) By: EDWARN ABAZEL STYLE

Rabu, 05 November 2014

TEORI DAN ANALISIS PRODUKSI DALAM ISLAM[1]
(Studi Teoritis dan Empiris Perekonomian Nasional)

Oleh: Eddy Suwarno


A. Pendahuluan
            Produksi adalah bagian terpenting dari ekonomi Islam bahkan dapat dikatakan sebagai salah satu dari rukun ekonomi disamping konsumsi, distribusi, redistribusi, infak dan sedekah. Karena produksi adalah kegiatan manusia untuk menghasilkan barang dan jasa yang kemudian dimanfa’atkan oleh konsumen. Pada saat kebutuhan manusia masih sedikit dan sederhana, kegiatan produksi dan konsumsi dapat dilakukan dengan manusia secara sendiri. Artinya seseorang memproduksi barang/jasa kemudian dia mengonsumsinya. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu dan beragamnya kebutuhan konsumsi serta keterbatasan sumber daya yang ada (kemampuannya), maka seseorang tidak dapat lagi menciptakan sendiri barang dan jasa yang dibutuhkannya, akan tetapi membutuhkan orang lain untuk menghasilkannya. Oleh karena itu kegiatan produksi dan konsumsi dilakukan oleh pihak-pihak yang berbeda. Dan untuk memperoleh efisiensi dan meningkatkan produktifitas lahirlah istilah spesialisasi produksi, diversifikasi produksi dan penggunaan tehnologi produksi.  
Dalam Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, saw. konsep produksi barang dan jasa dideskripsikan dengan istilah-istilah yang lebih dalam dan lebih luas. Al-Qur’an menekankan manfa’at dari barang yang diproduksi. Memproduski suatu barang harus mempunyai hubungan dengan kebutuhan hidup manusia. Berarti barang itu harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan bukannya untuk memproduksi barang mewah secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia, karenanya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut dianggap tidak produktif. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an yang tidak memperbolehkan produksi barang-barang mewah yang berlebihan dalam keadaan apapun. (Afdzalurrahman, 1995; 193). Oleh karena itu, konsep produksi yang dianggap sebagai kerja produktif dalam Islam adalah proses produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang sangat dibutuhkan manusia. Dan kerja produktif semacam ini dapat diistilahkan sebagai ‘amal saleh’ yang mengandung banyak kemaslahatan dan keberkahan. 
Maka dalam hal ini, prinsip fundamental yang harus diperhatikan dalam produksi adalah prinsip tercapainya kesejahteraan ekonomi. Selanjutnya Mannan menyatakan: “Dalam sistem produksi Islam, konsep kesejahteraan ekonomi digunakan dengan cara yang lebih luas, konsep kesejahteraan Islam terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dari hanya barang-barang berfaedah melalui pemanfa’atan sumber-sumber daya secara maksimum baik manusia maupun benda demikian juga melalui ikut-sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi”. (Eko Suprayitno; 2008: 178-179). Dengan demikian semakin bertambahnya income pendapatan manusia dan semakin banyaknya unsure manusia yang terlibat dalam kegiatan produksi maka kesejahteraan manusia akan dapat terwujud secara lebih luas. Oleh karena itu strategi yang yang tepat dalam peningkatan kesesajahteraan manusia adalah strategi kelayakan hidup manusia dalam istilah ekonomi Islam disebut dengan “Haddul kifayah”. Karena dalam batas minimal inilah ekonomi Islam dapat dikatakan berhasil sebagai ilmu yang dapat mengantarkan manusia menuju kesejahteraan hidup.      

B. Definisi Produksi
            Untuk mengetahui konsep produksi dalam ekonomi Islam, maka dalam hal ini kita akan membahas tentang definisi produksi secara esoteris dan eksoteris, kemudian teori produksi dalam Al-Qur’anul Karim dan Sunnah Nabi, saw. dan pendapat-pendapat para pemikir ekonom muslim sebagai berikut:

a. Produksi Secara Esoteris dan Eksoteris
Dalam mendefinisikan produksi Dr. M. Rawwas Qalahji memberikan padanan kata “produksi” dalam bahasa Arab dengan kata: “al-intaj” secara esoteris dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min anashiril intaji dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia produksi diartikan dengan: “Menghasilkan barang dan jasa”. Hal senada juga dipaparkan oleh. Dr. Abdurrahman Yusri Ahmad dalam bukunya: “Muqaddimah Fi Ilmi al-Iqtishad al-Islami”. Abdurrahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfa’at (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut. Produksi dalam pandangannya harus mengacu pada value of utility dan masih dalam bingkai nilai “halal” serta tidak membahayakan bagi diri sendiri atau orang lain dan kelompok tertentu. Dalam hal ini, Abdurrahman merefleksi pemikirannya dengan mengacu pada QS. Al-Baqarah; 219 yang menjelaskan tentang pertanyaan dari manfa’at memproduksi khomer (minuman keras) yang mengindikasikan banyak madzaratnya dari manfa’atnya.
            Secara eksoteris produksi dapat didefinisikan dengan usaha manusia untuk memperbaiki kondisi fisik material dan spiritual moralitasnya sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidup sebagaimana digariskan dalam agama Islam, yaitu; kebahagiaan dunia dan akhirat. (Kahf; 1992). Sedangkan Mannan (1992) menekankan pentingnya motif altruisme bagi produsen yang Islami sehingga ia menyikapi dengan hati-hati konsep Pareto Optimality dan Given Demand Hypothesis yang banyak dijadikan sebagai konsep produksi dalam ekonomi konvensional. Sedangkan Rahman (1995) menekankan pentingnya keadilan dan pemerataan produksi (distribusi secara merata). Disisi lain Diyaul Haq (1996) menyatakan bahwa tujuan produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa yang menurutnya sebagai fardhu kifayah, yaitu kebutuhan pemenuhan bagi banyak orang yang hukumnya adalah wajib. Dan Siddiqi (1992) mendefinisikan kegiatan produksi sebagai penyediaan barang dan jasa dengan memperhatikan nilai keadilan dan kebajikan/kemanfa’atan (maslahah) bagi masyarakat. Dalam padangannya, sepanjang produsen telah bertindak adil dan membawa kebajikan bagi masyarakat maka ia telah bertindak Islami.
            Apabila diperhatikan dari berbagai definisi-definisi di atas dapat dikerucutkan bahwa kegiatan produksi dalam perspektif ekonomi Islam adalah menempatkan manusia sebagai pusat perhatian produksi, meskipun definisi-definisi itu berusaha mengelaborasi dari perspektif yang berbeda. Kahf, contohnya memberikan tekanan pada tercapainya tujuan kegiatan produksi yang harus selaras dengan tujuan hidup manusia, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat. Sedangkan Mannan, secara tegas menolak terhadap konsep Pareto Optimality yang pada akhirnya memberikan kesimpulan dengan mempromosikan sebuah ide mengenai pentingnya distribusi alokatif yang lebih adil diantara manusia yaitu untuk mengangkat harkat hidup manusia. Sedangkan Rahman, menekankan pentingnya pemerataan produksi untuk mencapai kesejahteraan manusia. Sedangkan Al-Haq, menekankan sebuah justifikasi proses produksi yang hukumnya adalah wajib kifayah. Karena justifikasi ini dianggap penting untuk menjaga berlangsungnya kegiatan produksi sebagai jalan untuk mencapai kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat.
            Dari berbagai definisi dan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kepentingan manusia yang sejalan dengan moral Islami haruslah menjadi target dan fokus kegiatan produksi, sehingga imbas dari produksi adalah untuk meningkatkan martabat dan eksistensi manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Maka produksi adalah proses mencari, mengalokasikan dan mengelola sumber daya ekonomi menjadi output dalam rangka meningkatkan maslahah bagi manusia. Dan oleh karena itu, produksi juga mencakup aspek tujuan kegiatan yang menghasilkan output serta karakter-karakter yang melekat pada proses dan hasilnya.          

b. Teori Produksi Dalam Al-Qur’anil Karim
            Al-Qur’anul Karim banyak berbicara tentang teori produksi dalam berbagai surat dan ayat dalam Al-Qur’an diantaranya adalah dalam QS. Az-Zalzalah; 7, QS. An-Nahal; 97,  QS. Al-Jasiyah; 13, QS. Al-Qashas; 77,  QS. Al-An’am; 165,  QS. Yunus; 14,  QS. Al-Hadid; 7,  QS. Al-Baqarah; 22, QS. Al-Hijr; 20, QS. Az-Zukhruf; 10, QS. Thaha; 53, QS. Al-A’raf; 10, QS. Al-Mulk; 15, QS. Al-Ambiya’; 94, QS. An-Najam; 39.  QS. Al-Jum’ah; 10, QS. Al-Muzammil; 20. yang kebanyakan menggunakan kata ‘amila’ yang berarti bekerja dan “samara-istismar” yang berarti investasi.
Allah, swt. akan menjamin pemenuhan rizki kepada semua hambanya, akan tetapi Allah, swt. pun memberi prasyarat untuk mendapatkan rizki ini harus dilakukan dengan usaha, karena rizki itu didapat dengan berusaha. Karena langit tidak akan berhujan emas ataupun perak, akan tetapi dengan usaha manusia yaitu dengan cara mengambil sebab (al-akhdzu bil asbab) untuk mendapatkan rizki ini, sebagaimana firman Allah, swt. QS. Al-Mulk; 15.

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (QS. 67: 15).

Para ulama’ mewajibkan bekerja bagi orang-orang yang mampu bekerja, statement ini disandarkan kepada firman Allah, swt. QS. Hud; 61:

“Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do'a hamba-Nya)". (QS. 11: 61).

Al-Jashash dalam “Ahkamul Qur’an”, menafsiri ayat ini (khususnya kata ista’marakum fiha) dengan memerintahkan kalian untuk membangun sesuai dengan yang dibutuhkannya. Hal ini menunjukkan kewajiban membangun bumi berupa: bercocok tanam, menyirami dan mendirikan bangunan”[2]. Itu semua adalah bentuk kerja.
Dari ayat tersebut mengindikasikan bahwa Islam sangat mengharamkan semua bentuk pengangguran, karena pengangguran adalah bagian dari tanda-tanda keterbelakangan yang menghinggapi komunitas masyarakat. Islam memandang bekerja adalah kewajiban dan menjadi hak sekaligus. Sebagaimana  hal ini dijelaskan Allah, swt. dalam firmannya QS. At-Taubah; 105:

“Dan katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu'min akan melihat perkerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan". (QS. 9: 105).

Ayat di atas menjelaskan kepada kita, menjadi wajib bagi semua manusia usia produktif untuk bekerja keras dengan memilih kerja yang sesuai dengan kompetensinya. Dalam memilih pekerjaan sangat dipertimbangkan sistem penggajian yang layak dengan usaha/pekerjaannya yaitu agar mendapatkan gaji yang sepadan, apabila hal itu tidak didapatkan, maka lebih baik berhijrah mencari tempat kerja yang lebih sesuai dengan usahanya. Maka dalam hal ini, negara harus membantu mencarikan/memposisikan warganya dalam mendapatkan pekerjaan dan pendapatan yang layak dalam rangka memerangi pengangguran dan kemiskinan sehingga ia mendapatkan pekerjaan yang halal[3] sehingga kemiskinan akan cepat terentaskan.
Islam memandang bekerja adalah asas mendapatkan kekayaan dan sebagai dasar produksi untuk memenuhi kelaziman hidup individu atau kebutuhan-kebutuhan umum masyarakat. Oleh karena itu, berusaha mencari rizki dalam Al-Qur’an itu harus disertai dengan niat jihad fisabilillah agar dalam bekerja dilakukan secara optimal sehingga menghasilkan output produk yang berkualitas tinggi. Maka ayat tersebut menjelaskan kepada kita betapa pentingnya urgensi kerja dalam Islam sehingga harus diniatkan dengan jihad. Hal ini juga dijelaskan Allah, swt. dalam QS. Al-Muzammil; 20:

...Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an…” (QS. 73: 20).

Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa semua manusia adalah unsur produksi dan sebagai pekerja dalam kehidupan ini, dan ia bekerja seakan-akan menyembah kepada Allah, Azza wa Jalla. Karena berusaha mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya dalam waktu bersamaan, ia dapat memenuhi keinginan orang lain dan dapat mengabulkan kebutuhan-kebutuhan mereka, maka proses pengelolaan finansial untuk pembangunan dan produksi sangat menyerupai shalat atau ibadah fardhu yang mana manusia sangat mengharapkan pahalanya di akhirat dan keridha’an Sang Pencipta Allah, swt[4].
Imam Syaibani menjelaskan: “Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada hambanya untuk mencari penghidupan agar dapat membantunya menjalankan keta’atan kepada Allah, swt”[5]. Berkaitan dengan hal ini, Abu Dzar, ra. berkata ketika beliau ditanya laki-laki tentang pekerjaan-pekerjan yang paling mulia setelah keimanan. Dia menjawab: “Shalat dan makan roti”, kemudian laki-laki melihatnya dengan penuh keheranan. Kemudian Abu Dzar mengatakan: “Seandainya tidak ada roti (makanan), maka hamba Allah akan kelaparan”. Berarti: memakan makanan (roti) dapat meluruskan tulang pinggangnya sehingga ia dapat menunaikan keta’atan”[6].    
Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan masalah pekerjaan, maka wajib bagi muslim untuk bekerja secara optimal dan maksimal, sesuai dengan firman Allah, swt. QS. Al-Kahfi; 7: “…Agar Kami menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. 18: 7). Maka bekerja yang optimal merupakan bagian dari pendekatan hamba kepada Tuhannya”[7].
Dan oleh karena itu, standar penerimaan para pegawai/karyawan dalam Islam adalah professional dan amanah, maka wajib untuk mengangkat orang yang terbaik, karena ini adalah amanah dan orang yang mencederainya adalah berhianat[8]. Dalam hal ini, Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan hal tersebut sesuai dengan firman Allah, swt. QS. Al-Qasash; 26:

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. 28: 26).

Ayat di atas mengandung nilai dasar: “Sebaiknya dalam memposisikan seseorang dalam jabatan tertentu itu dengan mengambil orang yang terbaik diantara manusia sekitarnya”. Karena sebuah jabatan/kekuasaan itu memiliki dua rukun: “professional dan amanah”[9]. Begitu halnya nasehat ekonomi Abu Yusuf yang disampaikan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid tetang urgensi terpenuhinya sifat professionalisme dan amanah bagi orang-orang yang akan diposisikan dalam sebuah jabatan atau pekerjaan[10].
            Oleh karena itu konsep profesionalisme dalam perspektif pemikiran Islam tidak hanya terbatas pada kekuatan fisik. Maka Ibnu Taimiyah menjelaskan dimensi-dimensi konsep profesionalisme dengan mengatakan: “Profesionalisme dalam semua hal”. Yaitu dengan terpenuhi kemampuan ilmiah, kemampuan kesehatan fisik, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan politik, tingkat pendidikan, tehnologi disamping dengan tercukupinya modal finansial yang digunakannya[11]. Unsur-unsur itu semua merupakan unsur pembentuk kualitas produksi sumber daya insani (SDI).
            Adapun konsep amanah mengandung ruh dan spiritualitas manusia yang diterapkan dalam prilakunya, karena prilaku manusia adalah perasaan spiritualitas (dzauqu ar-ruh). Hal ini sesuai dengan firman Allah, swt. QS. Al-Maidah; 44:

“… Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir. (QS. 5: 44).

Ibnu Taimiyah menjelaskan substansi dari sifat amanah adalah: “Sifat takut kepada Allah dengan meninggalkan takut terhadap manusia”[12]. Artinya adalah: tidak mengorbankan dasar-dasar agama dalam menjustifikasi kepentingan duniawi dan tetap merasa bertanggung jawab karena pengawasan Allah, swt. meliputi semua kerja dan amal manusia. Maka dalam bekerja itu harus  dilakukan dengan cara yang ikhlas yang disertai dengan ahlak dan etika mulia dalam bekerja[13]. Dengan demikian, sifat amanah memiliki urgensi yang sangat penting dalam meningkatkan kemampuan produksi pada sumber daya insani (SDI) [14].
            Dari penjelasan di atas, kami menyimpulkan bahwa bekerja dan berproduksi hukumnya adalah wajib bagi manusia usia produktif sedangkan kompetensinya harus dilakukan secara ‘profesional dan amanah’ yang berlandaskan kepada tauhid yang kuat sebagai defends of intern pribadi manusia. Dari sini maka bekerja dan berproduksi dalam Islam itu berpegang teguh pada asas kepercayaan dan asas kapabalitas secara bersamaan[15]. Maka ketersediaan SDI yang memiliki kualitas keilmuan, pengetahuan, pengalaman dan kemampuan untuk berinovasi dan berimprovisasi yang dibarengi dengan etika yang mulia merupakan prasyarat untuk menciptakan kemajuan pembangunan yang diharapkan.
            Sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang investasi adalah QS. Al-Kahfi; 34:

Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: "Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat".

Dari ayat diatas menjelaskan bahwa seseorang akan memiliki kekayaan yang besar tidak lain didapatkan melalu bekerja dan investasi. Ayat tersebut menggunakan kata bahasa Arab “samarun” yang berarti: hasil, keuntungan. Maka tidak lain keuntungan didapatkan kecuali melalui investasi. Karena bahasa Al-Qur’an tersebut menurut Prof. Dr. Syauqi Ahmad Dunya dalam bukunya: “Tamwilut Tanmiyah Fil Islam”, ada keuntungan pasti didapatkan melalui investasi karena investasi dalam bahasa Arab adalah ‘istasmara’ yang berarti menjadikan sesuatu mendapatkan keuntungan. Dengan demikian ayat tersebut berbicara masalah investasi, dan bagaimana cara sebuah sumber daya ekonomi dapat berkembang dan mendapatkan keuntungan yang besar sehingga kekayaannya menjadi besar dan banyak sesuai dengan teks ayat tersebut tidak lain salah satunya dengan melalui investasi.
Dengan demikian, dari penjelasan di atas dalam hal produksi Al-Qur’an berbicara masalah kerja dan investasi yang keduanya merupakan piranti untuk menghasilkan barang dan jasa. Yang menurut Al-Qur’an makna kerja dan investasi lebih dalam artinya karena keduanya memiliki makna dinamis dan bergerak sehingga lebih luas dan lebih dalam maknanya untuk mendorong manusia dapat mengelola aset modalnya dan mendapatkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

c. Teori Produksi Dalam Sunnah Nabi, saw.
            Dalam Sunnah Nabi, saw. menganjurkan umatnya untuk selalu bekerja dan berproduksi dalam rangka mencukupi kebutuhan matrial dan spiritualnya, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam Sabda Nabi, saw. sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Ibadah itu ada sepuluh bagian, dan sembilan dari sepuluh bagian tersebut adalah mencari rizqi yang halal”[16].

Mencari rizki dalam bidang ekonomi mencakup semua pekerjaan yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mulai dari bertani, berindustri, usaha jasa dan lain sebagainya. Dalam perspektif Islam semua usaha itu masuk dalam katagori ibadah. Bahkan hal itu menempati 90 % dari ibadah. Karena bekerja yang produktif akan membantu manusia dalam menunaikan ibadah-ibadah wajib, seperti; shalat, zakat, puasa, haji dan lain sebagainya, semua ibadah itu menempati 10 % dari ibadah[17]. Bahkan Rasulullah, saw. mendorong untuk bekerja dan berproduksi serta melarang pengangguran walaupun manusia memiliki modal financial yang mencukupi, sebagaimana sabda Rasul, saw. menjelaskan sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Yang paling pedih siksa manusia di hari kiamat adalah orang yang cukup yang menganggur”[18].

Hadis di atas sebagai landasan Imam Ja’far yang mengatakan kepada Mu’azd ketika ia tidak bekerja karena kecukupan financial dan menjadi kaya, dengan mengatakan: “Hai Mu’adz, apakah anda tidak bisa berdagang atau anda zuhud dalam hal itu?. Maka Mu’adz berkata: “Saya tidak berarti tidak bisa berdagang dan juga tidak zuhud. Karena saya memiliki banyak harta benda dan harta itu cukup sampai saya meninggal, kemudian Imam Ja’far berkata: “Jangan kau tinggalkan, karena hal itu akan menghilangkan nilai rasional anda”[19].
            Rasulullah, saw. mendorong kepada umatnya untuk selalu berusaha dan mencari rizki di bumi. Karena tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Sebagaimana hal itu dijelaskan Rasul, saw. dalam sabdanya sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Bekerja mencari kayu dengan membawanya di atas punggungya itu lebih baik daripada meminta kepada seseorang, mungkin akan diberi atau ditolak”. (HR. Bukhori).

Dalam hadis lain Rasul, saw. bersabda: “Sungguh sebagian dari dosa-dosa ada yang tidak dapat dilebur dengan shalat atau haji atau umrah, akan tetapi dapat dilebur dengan keprihatinan dalam mencari rizki”. (HR. Abu Dawud).

Rasulullah, saw. juga berpartisipasi dalam menggali parit pada perang Khandaq dan juga dalam pengumpulan kayu, beliau memakan makanan dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadisnya yang mengatakan:

Rasulullah, saw. bersabda: “Tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang memakan makanan, kecuali jika makanan itu diperolehnya dari hasil jerih payahnya sendiri. Jika seorang dintara kamu mencari kayu bakar, kemudian mengumpulkan kayu itu dan mengikatnya dengan tali lantas memikulnya di punggungnya, sesungguhnya itu lebih baik ketimbang meminta-minta kepada orang lain”. (HR. Bukhori Muslim).

Sebaliknya Rasulullah, saw. sangat mencela seorang muslim yang pekerjaannya meminta-minta pada orang lain sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah, saw. sebagai berikut:

Rasulullah, saw. bersabda: “Barangsiapa membuka pintu bagi dirinya untuk meminta-minta, maka Allah akan membukakan pintu kemelaratan baginya”. (HR. Ahmad).

            Disisi lain, selain Rasulullah, saw. mendorong umatnya untuk bekerja dan berproduksi, beliau juga menganjurkan umatnya untuk berinvestasi dan memberdayakan semua asetnya agar produktif dan menghasilkan keuntungan yang lebih sehingga dapat mencukupi kebutuhan hidupnya. Hal ini dijelaskan Rasulullah, saw. sebagai berikut:

Pada kesempatan lain, beliau menegur seorang yang malas dan meminta-minta, seraya menunjukkan kepadanya jalan ke arah kerja produktif. Rasulullah mengambil dua dirham dan memberikan kepada seorang laki-laki Anshar, dan berkata: “Satu dirham untuk membeli makanan dan berikan kepada keluargamu, dan satu dirham untuk membeli kapak, kemudian bawalah kemari”. Orang tersebut kemudian kembali kepada Rasulullah, saw. dengan membawa kapak, dan Rasulullah, saw. bersabda: “Pergilah mencari kayu, kemudian juallah kayu itu dan kamu jangan menampakkan dirimu di hadapanku selama lima belas hari”.

Dari hadis diatas menjelaskan kepada kita tentang pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dengan cara pengelolaan modal finansial yang dimilikinya, yaitu Rasulullah, saw. memberikan dana konsumtif untuk pembiayaan rumah tangganya dan dana produktif yang dibelikan sarana ekonomi berupa kapak sehingga dengan alat produktif ini dapat digunakan untuk menghasilkan pendapatan dengan mencari dan menebang kayu bakar di tempat bebas dan ia menjualnya ke pasar. Sehingga hasil yang didapatkannya untuk pembiayaan dalam memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya. Beliau pun tidak hanya sekedar memberikan dana produktif yang dibelikan alat ekonomi produktif, akan tetapi beliau juga memposisikan dirinya sebagai pendamping usaha untuk memonitor kinerjanya dalam memastikan keberhasilan usaha orang Anshar tersebut. Sehingga memberikan output bahwa ia telah dapat mengubah nasibnya dari meminta-minta menjadi mandiri berkat pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh Rasulullah, saw..
            Dalam hadis lain, menjelaskan bahwa Islam sangat memulyakan bagi orang yang bekerja keras dan ikhlas karena pekerja keras adalah wujud harga diri seseorang sehingga dengan saking muliyanya orang yang bekerja ini Rasulullah, saw. mencium tangan orang yang bekerja keras, sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi, saw. sebagai berikut:

“Suatu ketika di Kota Madinah yang sedang hiruk-pikuk aktifitas ekonomi. Rasulullah, saw. mencium tagan salah seorang umatnya. Maklum karena ia seorang buruh yang terbiasa bekerja keras, tentu saja telapak tangannya sangat kasar. “inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya”, demikian seru beliau pada khalayak yang hadir di tempat itu”.
            Dalam hadis Nabi, saw. sangat menganjurkan bekerja yang dibarengi dengan kejujuran bahkan beliau memberikan optimisme bahwa pedagang yang jujur akan masuk surga bersama para nabi, para syuhada’ dan orang-orang shaleh. Sebagaimana hadis Nabi, saw. menjelaskan sebagai berikut:

Dari Sofyan As-Sauri dari Abu Hamzah dari Abu Sa’id Rasulullah, saw. bersabda: “Pedagang yang jujur akan dikumpulkan di hari kiamat nanti bersama para nabi, orang-orang yang jujur  dan para syuhada”. (HR. Tirmidzi).

d. Produksi Dalam Pemikiran Ekonomi Islam
            Konsep produksi dalam perspektif pemikiran ekonomi Islam mengandung dua pengertian, yaitu bentuk pemikiran yang dihasilkan oleh para pemikir muslim yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, saw. secara langsung atau sebuah pemikiran ekonomi produksi yang dihasilkan oleh para sarjana muslim. Akan tetapi keduanya akan menemui titik temu karena seorang sarjana muslim akan menelurkan teori produksinya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana sejarah pemikiran ekonomi yang dilakukan para ulama’ setelah sepeninggalnya Rasulullah, saw. juga merujuk langsung pada sumber hukum Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, saw. akan tetapi dalam perkembangannya sejarah pemikiran produksi mengalami naik turun bersamaan dengan perkembangan peradaban umat Islam yang pada zaman kekhilafahan Islam pemikiran ekonomi mengalami kemajuan pesat, akan tetapi setelah runtuhnya kekhilafahan Islam yang pada saat bersamaan sistem kolonialisasi barat mensistemisasi pembodohan umat sehingga pemikiran ekonomi Islam tidak berkembang sehingga terjadi distorsi pemikiran ekonomi dan pada perkembangannya pemikiran para pemikir muslim telah terkontaminasi oleh pemikiran para pemikir ekonomi barat.
            Maka dalam hal ini kita akan mengkaji sejarah pemikiran produksi dalam ekonomi Islam yang selanjutnya akan kita korelasikan dengan pemikiran-pemikiran ulama kontemporer dalam bidang produksi, sebagai berikut:

1. Abu Hanifah (80-150 H/699-767M)
Abu Hanifah adalah seorang fukaha terkenal yang juga seorang pedagang di kota Kufah yang ketika itu merupakan pusat aktifitas perdagangan dan perekonomian yang sedang maju dan berkembang. Semasa hidupnya, salah satu transaksi yang sangat populer adalah sistem pembiyaan transaksi salam (akad pesan), yaitu menjual barang yang akan dikirimkan kemudian sedangkan pembayaran dilakukan secara tunai pada waktu akad disepakati. Abu Hanifah meragukan keabsahan akad tersebut yang dapat mengarah kepada perselisihan. Ia mencoba menghilangkan perselisihan ini dengan merinci lebih khusus apa yang harus diketahui dan dinyatakan dengan jelas di dalam akad, seperti; jenis komoditi, mutu, dan kuantitas serta waktu dan tempat pengiriman. Ia memberikan persyaratan bahwa komoditi tersebut harus tersedia di pasar selama waktu kontrak dan tanggal pengiriman sehingga kedua belah pihak mengetahui bahwa pengiriman tersebut merupakan sesuatu yang mungkin dapat dilakukan.
Disisi lain, menurut pemikiran Abu Hanifah dalam sistem jual-beli harus dilakukan dengan jelas sehingga tidak menimbulkan permasalahan dan perselisihan, karena ini adalah bagian dari tujuan syariah. Misalnya; dalam jual beli murabahah. Dalam murabahah prosentase pengambilan keuntungan harus sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak yang melakukan transaksi dan boleh dengan cara diangsur. Maka pengalaman dalam perdagangannya ini menjadikan beliau dapat menentukan mekanisme yang lebih adil dalam transaksi ini.

2. Abu Yusuf  (113-182 H/731-798 M)
            Penekanan terhadap tanggung jawab penguasa merupakan tema pemikiran ekonomi Islam yang selalu dikaji sejak awal. Tema ini pula yang ditekankan Abu Yusuf dalam surat panjang yang dikirimkannya kepada penguasa Dinasti Abbasiyah, Khalifah Harun Al-Rasyid. Di kemudian hari, surat yang membahas tentang pertanian dan perpajakan tersebut dikenal sebagai Kitab al-Kharaj.
            Abu Yusuf cenderung menyetujui negara mengambil bagian dari hasil pertanian dari para penggarap daripada menarik sewa dari lahan pertanian. Dalam pandangannya, cara ini lebih adil dan tampaknya akan memberikan hasil produksi yang lebih besar dengan memberkan kemudahan dalam memperluas tanah garapan.
            Dalam hal pajak, ia telah meletakkan prinsip-prinsip yang jelas yang berabad-abad kemudian dikenal oleh para ahliekonomi sebagai canons of taxaion. Kesanggupan membayar, pemberian waktu longgar bagi pembayar pajak dan sentralisasi pembuatan keputusan dalam administrasi pajak adalah beberapa prinsip yang ditekankannya.

3. Muhammad bin Hasan Al-Syaibani (132-189 H/750-804)
            Salah satu rekan sejawat Abu Yusuf dalam Mazdhab Hanafiyah adalah Muhammad bin Hasan Al-Syaibani. Risalah kecilnya yang berjudul “Al-Iktisabu fir-Rizki al-Mustathabi” yang membahas tentang pendapatan dan belanja rumah tangga. Ia juga menguraikan perilaku konsumsi seorang muslim yang baik serta keutamaan orang yang suka berderma dan tidak suka meminta-minta. As-Syaibani mengklasifikasikan jenis pekerjaan ke dalam empat hal, yakni: ijarah (sewa-menyewa), tijarah (perdagangan), zira’ah (pertanian) dan shina’ah (industri). Cukup menarik untuk dicatat bahwa ia menilai pertanian sebagai lapangan pekerjaan yang terbaik, padahal masyarakat Arab pada saat itu lebih tertarik untuk berdagang dan berniaga. Dalam suatu risalah yang lain, yakni Kitab al-Ashl, Al-Syaibani telah membahas masalah transaksi salam (prepaid order), musyarakah (pathnership) dan mudharabah (profit and loss sharing).
            Al-Syaibani mendefinisikan Al-Kasbu (kerja) sebagai mencari perolehan harta melalui berbagai cara yang halal (Rif’at Sayid Al-Audi). Dalam ilmu ekonomi, aktifitas yang demikian termasuk dalam aktifitas produksi. Definisi ini mengindikasikan bahwa yang dimaksud dengan aktifitas produksi dalam ekonomi Islam adalah berbeda dengan aktifitas produksi dalam ekonomi konvensional. Dalam ekonomi Islam, tidak semua aktifitas yang menghasilkan barang atau jasa disebut sebagai aktifitas produksi, karena aktifitas produksi sangat terkait erat dengan halal haramnya suatu barang atau jasa dan cara memperolehnya. Dengan kata lain, aktifitas yang menghasilkan barang dan jasa yang halal saja yang dapat disebut sebagai aktifitas produksi.  (Adiwarman Karim, Sejarah pemikiran ekonomi Islam, Raja Grafindo Persada, 2006; 257).
Produksi suatu barang atau jasa, seperti dinyatakan dalam ilmu ekonomi, dilakukan karena barang atau jasa itu mempunyai utilitas (nilai-guna). Islam memandang bahwa suatu barang atau jasa mempunyai nilai guna jika mengandung kemaslahatan. Seperti yang diungkapkan oleh Al-Syatibi, kemaslahatan hanya dapat dicapai dengan memeihara unsur pokok kehidupan, yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan dan harta benda. Dengan demikian, seorang muslim termotivasi untuk memproduksi setiap barang atau jasa yang memiliki maslahat tersebut. Hal ini berarti bahwa konsep maslahah merupakan konsep yang objektif terhadap perilaku produsen karena ditentukan oleh tujuan-tujuan (maqashid) syari’ah. Yakni memelihara kemaslahatan manusia di dunia dan di akhirat. Pandangan Islam tersebut tentu jauh berbeda dengan konsep ekonomi konvensional yang menganggap bahwa suatu barang atau jasa mempunyai nilai guna selama masih ada orang yang menginginkannya. Dengan kata lain, dalam ekonomi konvensional nilai guna suatu barang atau jasa ditentukan oleh keinginan (wants) orang per orang dan ini bersifat subjektif.
Dalam pandangan Islam, aktifitas produksi merupakan bagian dari kewajiban imaratul kaun, yakni menciptakan kemakmuran semesta alam untuk semua makhluk. Berkenaan dengan hal tersebut, Al-Syaibani menegaskan bahwa kerja yang merupakan unsur utama produksi mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan karena menunjang pelaksanaan ibadah kepada Allah, swt. dan karenanya, hukum bekerja adalah wajib.
Dalam pandangan Al-Syaibani orientasi bekerja adalah hidup untuk meraih keridhaan Allah, swt. Di sisi lain, kerja merupakan usaha untuk mengaktifkan roda perekonomian, termasuk proses produksi, konsumsi dan distribusi, yang berimplikasi secara makro meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Dengan demikian kerja mempunyai peranan yang sangat penting dalam memenuhi hak Allah, swt. hak hidup, hak keluarga dan hak masyarakat.
Dalam konteks tersebut, negara berkewajiban untuk memimpin gerakan produktifitas nasional. Dengan menerapkan instrument incentive-reward and punishment, setiap komponen masyarakat dipicu dan dipacu untuk menghasilkan sesuatu menurut bidangnya masing-masing. Sementara di sisi lain, pemerintah juga berkewajiban memayungi aktifitas produksi dengan memberikan jaminan keamanan dan keadilan bagi setiap orang.

4. Harith bin Asad Al-Muhasabi  (W. 243 H/859)
Seorang ulama terkemuka yaitu Harith bin Asad Al-Muhasabi telah menulis pemikiran-pemikirannya yang berkaitan dengan produksi yang beliau tuliskan dalam karyanya yang berjudul “Al-Makasib” yang membahas cara-cara memperoleh pendapatan sebagai mata pencaharian melalui perdagangan, industri dan kegiatan ekonomi produktif lainnya. Pendapatan harus didapatkan dengan cara yang baik dan tidak berlebihan. Disisi lain, Harith menganjurkan kepada manusia untuk bekerjasama dalam melakukan kegiatan produksi sehingga lebih mudah dan dapat melipatgandakan hasil produksinya.

5. Imam Al-Ghazali (451-505 H/1055-111 M)
            Imam Al-Ghazali adalah seorang ekonom muslim yang cukup menaruh perhatian pada teori produksi. Beliau telah menguraikan faktor-faktor produksi dan fungsi produksi dalam kehidupan manusia. Dalam uraiannya beliau sering menggunakan istilah al-kasbu dan al-ishlah. Istilah yang pertama berarti usaha fisik yang dikerahkan manusia, sedangkan yang kedua adalah upaya manusia untuk mengelola dan mengubah sumber-sumber daya yang tersedia agar mempunyai manfa’at yang lebih tinggi. Al-Ghazali memberikan perhatian yang cukup besar ketika menggambarkan bermacam ragam aktifitas produksi dalam masyarakat, termasuk hirarki dan hakikatnya. Ia mengklasifikasi aktifitas produksi menurut kepentingan sosialnya dan menitik-beratkan perlunya kerjasama dan koordinasi. Fokus utamanya adalah tentang jenis aktifitas yang sesuai dengan dasar-dasar etos Islam. (Adi Warman Karim; Ekonomi Mikro Islami; 2003: 158).
            Disisi lain Al-Ghazali banyak menyoroti tentang kegiatan-kegiatan bisnis yang dilarang dan yang diperbolehkan dalam Islam. Misalkan sistem ribawi adalah sistem sangat berbahaya bagi perputaran ekonomi masyarakat dan juga penimbunan barang-barang pokok untuk kepentingan-kepentingan individual. Beliau juga menyatakan bahwa korupsi dan penindasan merupakan faktor penyebab melemahnya perputaran ekonomi, oleh karena itu pemerintah berkewajiban untuk memberantasnya. Al-Ghazali juga mewajibkan kepada pemerintah untuk senantiasa menjaga stabilitas ekonomi dengan cara menyediakan suplai barang dan jasa tatkala masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi, dalam kondisi yang demikian ini, pemerintah harus memberikan jaminan ekonomi sehingga kesulitan masyarakat dapat terentaskan.

6. Ibn khaldun (732-808 H/1332-1404 M)
            Ibn khaldun barangkali merupakan ekonomi Muslim yang terbesar, karena sedemikian cemerlang dan luas bahasannya tentang ekonomi. Dialah satu-satunya ekonom Muslim yang secara jujur diakui integritas dan kualitas karyanya oleh ekonom Barat J.A. Schumpeter dalam bukunya History of Enonomic Analisis (1959). Menurut Spengler (1963-64,hlm. 269) pemikiran ekonomi Ibn Khaldun sangat penting tidak saja karena telah banyak mendahului pemikiran para ekonom modern (Barat), tetapi karena ia memilikin penguasaan berbagai ilmu pengetahun yang luas dan mendalam sehingga mampu menulis pemikiran ekonomi dalam perspektif yang lengkap. Dalam bukunya Muqadimah memaparkan pentingnya produksi serta peranan manusia.
            Manusia dibedakan dari makhluk hidup lainnya dari segi upaya(nya) mencari penghidupan dan perhatiaannya pada berbagai jalan untuk mencapai dan memperoleh sarana-sarana kehidupan(I : 69). Laba (produksi) adalah nilai utama yang dicapai dari tenaga manusia (2 : 272). Manusia mencapai produksi dengan tanpa upayanya sendiri, contohnya lewat perantara hujan yang menyuburkan ladang, dan hal-hal lainnya. Namun demikian, hal-hal ini adalah pendukung saja. Upaya manusia sendiri harus dikombinasikan dengan hal-hal tersebut (2: 273).
            Tenaga manusia sangat penting untuk setiap akumulasi laba dan modal. Jika (sumber produksi) adalah kerja, sedemikian rupa seperti misalnya kerajinan tangan, hal ini jelas. Jika sumber pendapatan adalah hewan, tanaman atau mineral, seperti kita lihat, tenaga manusia tetaplah penting. Tanpanya tidak ada hasil yang dicapai, dan tidak akan ada yang berguna (2:274).
            Disisi lain, Ibnu Khaldun juga menganalisis tentang teori perdagangan internasional yang beliau hubungkan antara perbedaan tingkat harga negara dengan ketersediaan faktor-faktor produksi. Dengan mengatakan bahwa penduduk merupakan terpenting dalam produksi dengan mengatakan bahwa semakin besar jumlah penduduk maka peluang pasar dan berproduksi akan semakin luas dan besar, sehingga menambah tingkat pendapatan ekonomi masyarakat.  

7. Shah Waliyullah (1114-1176 H/1703 – 1762 M)
            Shah Waliyullah dalam karyanya yang termasyhur “Hujjatullah al-Baligha” menjelaskan secara lebih luas tentang pemikiran ekonomi dan tatanan pembangunan sosial ekonomi masyarakat. Menurutnya manusia secara natural adalah makhluk sosial sehingga harus melakukan kerjasama antar sesama manusia. Bentuk kerjasama ekonomi ini diwujudkan dalam bentuk perdagangan melalui pertukaran barang dan jasa, kerja sama usaha dengan sistem mudharabah, musyarakah, kerjasama pengelolaan pertanian dan lain-lain.
            Shah Waliyullah juga berbicara masalah faktor produksi khususnya adalah tanah. Beliau menyatakan: “Sesungguhnya semua tanah sebagaimana masjid atau tempat-tempat peristirahatan diberika kepada wayfarers. Benda-benda tersebut dibagi berdasarkan prinsip siapa yang pertama datang maka dialah yang mengelola dan memanfa’atkannya (first come first served).

8. Para Pemikir Ekonomi Muslim Kontemporer
Banyak penulis berkeyakinan bahwa wilayah produksi tidaklah sesempit seperti yang dijadikan pegangan oleh kalangan ekonom konvensional yang hanya sekedar mengejar orientasi jangka pendek dengan materi sebagai titik acuannya dan memberikan peniadaan pada aspek produksi yang mempunyai orientasi jangka panjang. Selama ini yang kita fahami ketika membaca teks-teks buku ekonomi konvensional tidak jarang ditemukan adanya telaah terhadap kegiatan sebuah perusahaan untuk melakukan produksi dengan mengacu pada faktor produksi yang dimiliki oleh setiap perusahaan tersebut. Misal: perusahaan A akan mencapai tingkat produksi maksimal jika didukung oleh faktor produksi semacam modal (C), tenaga kerja (L), sumber daya alam (R), dan teknologi (T) yang difungsikan pada posisi yang optimal.
Dasar pemikiran yang dibangun dalam paradigma berfikir aliran konvensional dalam berproduksi adalah memaksimumkan keuntungan (maximizing of profit) dan meminimumkan biaya (minimizing of cost) yang pada dasarnya tidak melihat realita ekonomi dalam prakteknya berdasarkan pada kecukupan akan kebutuhan dan market imperfection yang berasosiasi dengan imperfect information. Hasil dari pencapaian produksi yang dilakukan oleh perusahaan konvensional adalah keinginan untuk mendapatkan profit (keuntungan) yang maksimal dengan cost (biaya) yang sedikit. Apa memungkinkan?. Gambaran di atas merupakan realita nyata yang terjadi di tataran aplikatif untuk melaksanakan teori produksi yang diacukan pada pemikiran konvensional.
Adapun aspek produksi yang berorientasi pada jangka panjang adalah sebuah paradigma berfikir yang didasarkan pada ajaran Islam yang melihat bahwa proses produksi dapat menjangkau makna yang lebih luas, tidak hanya pencapaian aspek yang bersifat materi-keduniaan tetapi sampai menembus batas cakrawala yang bersifat ruhani-keakheratan. Orang yang senantiasa menegakkan shalat dan melakukan ibadah lainnya merupakan wujud dari nilai produktifitas yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan ruhaninya. Seseorang yang betul-betul melaksanakan shalat dengan benar berarti ia telah melakukan aktifitas yang produktif yang selanjutnya akan membawa pada nilai lebih dalam mengarungi kehidupan di dunia ini.
Ada sebuah permata dalam bukunya DR. Monzer Kahf yang berjudul: “The Islamic Economy; Analytical of The Functioning of The Islamic Economic System” yang menyebutkan bahwa: “Tingkat kesalehan seseorang mempunyai korelasi positif terhadap tingkat produksi yang dilakukannya. Jika seseorang semakin meningkat nilai kesalehannya maka nilai produktifitasnya juga semakin meningkat, begitu juga sebaliknya jika keshalehan seseorang itu dalam tahap degradasi maka akan berpengaruh pula pada pencapaian nilai produktifitas yang menurun.
Sebuah contoh: Seorang yang senantiasa terjaga untuk selalu menegakkan shalat berarti ia telah dianggap shaleh. Dalam posisi seperti ini, orang tersebut telah merasakan tingkat kepuasan bathin yang tinggi dan secara psikologi jiwanya telah mengalami ketenangan dalam menghadapi setiap permasalahan kehidupannya. Hal ini akan berpengaruh secara positif bagi tingkat produksi yang berjangka pendek, karena dengan hati yang tenang dan tidak ada gangguan-gangguan dalam jiwanya ia akan melakukan aktifitas produksinya dengan tenang pula dan akhirnya akan dicapai tingkat produksi yang diharapkannya.
Selama ini kesan yang terbangun dalam alam pikiran kebanyakan pelaku ekonomi –apalagi mereka yang berlatar belakang konvensional- melihat bahwa keshalehan seseorang merupakan hambatan dan rintangan untuk melakukan aktifitas produksi. Orang yang shaleh dalam pandangannya terkesan sebagai sosok orang pemalas yang waktunya hanya dihabiskan untuk beribadah dan tidak jarang menghiraukan aktifitas ekonomi yang dijalaninya. Akhirnya mereka mempunyai pemikiran negatif terhadap nilai kesalehan tersebut. Mengapa harus berbuat shaleh, sedangkan kesalehan tersebut hanya membawa kerugian (loss) bagi katifitas ekonomi? Sebuah logika berfikir yang salah perlu dan perlu diluruskan. Pelurusan pemikiran tersebut akan membawa hasil jika diacukan pada nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam, baik yang termaktub dalam Al-Qur’an al-Karim atau As-Sunnah as-Sahihah.
Menurut Prof. Abdul Manan: Produksi tidak berarti menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada, karena tidak seorangpun dapat menciptakan benda. Dalam pengertian ahli ekonomi yang dapat dikerjakan manusia hanyalah membuat barang-barang menjadi berguna, yang biasa disebut dengan istilah “dihasilkan”. Sekarang kita perhatikan pembahasan prinsip produksi secara singkat.
Prinsip fundamental yang harus selalu diperhatikan dalam proses produksi adalah prinsip kesejahteraan ekonomi. Bahkan dalam sistem Kapitalis terdapat seruan untuk memproduksi barang dan jasa yang didasarkan pada asas kesejahteraan ekonomi. Keunikan konsep Islam mengenai kesejahteraan ekonomi terletak pada kenyataan bahwa hal itu tidak dapat mengabaikan pertimbangan kesejahteraan umum lebih luas yang menyangkut persoalan-persoalan tentang moral, pendidikan, agama dan banyak hal-hal lainnya. Dalam ilmu ekonomi modern, kesejahteraan ekonomi diukur dari segi uang seperti kata Profesor Pigou: “Kesejahteraan ekonomi kira-kira dapat didefinisikan sebagai bagian kesejahteraan yang dapat dikaitkan dengan alat pengukur uang”. “Karena kesejahteraan ekonomi modern bersifat materealistis, maka perlu membatasi ruang lingkup pokok persoalan yang sama itu.
Dalam sistem produksi Islam konsep kesejahteraan ekonomi digunakan dengan cara yang lebih luas. Bagi penulis, konsep kesejahteraan ekonomi Islam terdiri dari bertambahnya pendapatan yang diakibatkan oleh meningkatnya produksi dari hanya barang-barang yang berfaedah melalui pemanfa’atan sumber-sumber daya secara maksimum -baik manusia maupun benda- demikian juga melalui ikut sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi. Dengan demikian, perbaikan sistem produksi dalam Islam tidak hanya berarti meningkatnya pendapatan, yang dapat diukur dari segi terpenuhinya sumber daya ekonomi, tetapi juga perbaikan dalam memaksimalkan terpenuhinya kebutuhan kita dengan usaha minimal tetapi tetap memperhatikan tuntunan perintah-perintah Islam tentang konsumsi. Oleh karena itu, dalam sebuah negara Islam kenaikan volume produksi saja tidak akan menjamin kesejahteraan rakyat secara maksimum. Mutu barang-barang yang diproduksi yang tunduk pada perintah Al-Qur’an dan Sunnah, juga harus diperhitungkan dalam menentukan sifat kesejahteraan ekonomi. Demikian pula kita harus memperhitungkan akibat-akibat tidak menguntungkan yang akan terjadi dalam hubungannya dengan perkembangan ekonomi bahan-bahan makanan dan minuman terlarang dan lain sebagainya.
Terakhir, suatu negara Islam tidak hanya akan menaruh perhatian untuk menaikkan volume produksi tetapi juga untuk menjamin ikut sertanya jumlah maksimum orang dalam proses produksi. Di negara-negara kapitalis modern kita dapati perbedaan pendapatan yang mencolok karena cara produksi dikendalikan oleh segelintir kapitalis. Bahkan banyak negera muslim di dunia ini yang tidak luput dari kecaman itu. adalah menjadi tugas setiap negara Islam untuk mengambil segala langkah yang masuk akal dalam mengurangi perbedaan pendapatan akibat terpusatnya kekuasaan berproduksi dalam beberapa tangan saja. Hal ini diusahakan dengan (a) menjalankan sistem perpajakan progresif terhadap pendapatan, (b) dikenakannya pajak warisan terhadap hak milik yang diwariskan dengan perbandingan progressif, (c) distribusi hasil pajak terutama yang terkumpul dari golongan-golongan yang lebih kaya, untuk masyarakat yang lebih miskin melalui pengaturan dinas-dinas sosial.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa sistem produksi dalam suatu negara Islam harus dikendalikan oleh kriteria objektif maupun subjektif; kriteria yang objektif akan tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari terpenuhinya sumber daya ekonomi, dan kriteria subjektifnya dalam bentuk kesejahteraan yang diukur dari segi etika ekonomi yang didasarkan atas perintah-perintah Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah. (Manan; Teori dan Praktek Ekonomi Islam; 54-55).

C. Tujuan Produksi Dalam Islam
            Sebagaimana telah dibahas di muka bahwa kegiatan produksi merupakan jawaban terhadap kegiatan konsumsi atau sebaliknya. Karena produksi adalah kegiatan menciptakan suatu barang atau jasa, sedangkan konsumsi adalah kegiatan pemanfa’atan hasil produksi. Dengan demikian, aktifitas produksi dan konsumsi merupakan kegiatan yang sangat berkaitan yang tidak dapat dipisahkan karena satu sama lainnya saling berhubungan dalam sebuah proses kegiatan ekonomi. Oleh karena itu aktifitas produksi harus balance dengan kegiatan konsumsi. Apabila keduanya tidak balance maka akan terjadi ketimpangan dalam kegiatan berekonomi. Hal ini dapat dideskripsikan, apabila barang/jasa yang diproduksi itu lebih banyak dari permintaan konsumsi maka akan terjadi ketimpangan ekonomi yaitu berupa penumpukan output produksi sehingga terjadi kemubadziran hasil prooduksi. Inilah yang disebut israf (produksi yang berlebihan) yang dalam ekonomi Islam dianggap sebagai bentuk dosa yang menjadikan output produksi itu tidak ada nilai maslahah sehingga tidak berkah yang menjadikannya menjadi output produksi yang tidak produktif. Sebaliknya jika aktifitas konsumsi lebih banyak permintaannya dari aktifitas produksi maka akan menimbulkan problematika ekonomi yaitu berupa tidak terpenuhinya kebutuhan ekonomi yang berdampak pada kemiskinan dan malapetaka sosial dan ekonomi. Dalam permasalahan produksi dan konsumsi dapat dimisalkan; Kita tidak diperbolehkan memproduksi atau mengonsumsi produk/barang yang haram seperti alkohol, babi, anjing, bangkai, heroin, narkotika, binatang yang tidak disembelih atas nama Allah, dan binatang buas. Seorang konsumen ataupun produsen yang berprilaku Islami juga tidak boleh melakukan israf atau berlebih-lebihan, tetapi hendaknya dalam mengonsumsi atau memproduksi itu dilakukan dengan moderat. Sebagaimana sabda Nabi, saw. yang mengatakan: “Makanlah kalian sampai sebelum kenyang”. Jadi kegiatan produksi dan konsumsi harus dilakukan secara seimbang sehingga akan terwujud stabilitas ekonomi dalam pemenuhan kebutuhan hidup.

















 




                                                       
 




      
BERKAH
 
 





                                                                       

MASLAHAH
 
 



                                                                                      
 



                                                                                
                                                                       
 








Gambar 7. 0
Mata Rantai Kegiatan Konsumsi dan Produksi

            Tujuan konsumen dalam mengonsumsi barang dan jasa dalam perspektif ekonomi Islam adalah untuk mendapatkan kesejahteraan secara maksimum yang berdampak pada  kemaslahatan dalam kehidupan. Demikian halnya produsen dalan kegiatan produksinya bertujuan menyediakan barang dan jasa yang memberikan maslahah bagi konsumen. Secara lebih spesifik, tujuan kegiatan produksi adalah meningkatkan kemaslahatan sehingga mendapatkan keberuntungan (falah) di dunia dan di akhirat, yang tujuan ini dapat diakulturasikan dalam bentuk, yaitu:

1. Pemenuhan sarana kebutuhan manusia yang seimbang.
2. Menemukan kebutuhan masyarakat dan pemenuhannya.
3. Menyiapkan persediaan barang dan jasa.
4. Mensejahterakan tingkat kehidupan.
5. Sebagai sarana kegiatan sosial dan untuk beribadah kepada Allah, swt..

            Penjelasan dari tujuan produksi yang pertama, yaitu; pemenuhan sarana kebutuhan manusia yang seimbang. Dalam hal ini setidaknya akan menimbulkan dua implikasi. Pertama; produsen hanya menghasilkan barang dan jasa yang menjadi kebutuhan (needs), meskipun belum tentu merupakan keinginan (wants) konsumen. Barang dan jasa yang dihasilkan harus memiliki manfa’at riil bagi kehidupan yang Islami, tidak hanya sekedar untuk memberikan kepuasan maksimum bagi konsumen. Karenanya, prinsip costumer satisfaction atau given demand hipotesis yang banyak dijadikan pegangan produsen kapitalis tidak dapat diimplementasikan begitu saja, akan tetapi harus benar-benar memiliki value kemaslahatan yang syar’i. Kedua; kuantitas produksi tidak akan berlebihan, tetapi harus disesuaikan dengan kebutuhan konsumen sehingga tidak terjadi kemubadziran hasil produksi akibat produksi yang berlebihan. Ataupun sebaliknya, jangan sampai kuantitas produksi menjadi minus sehingga akan menimbulkan problematika ekonomi. Oleh karena itu bagaimana proses produksi itu seimbang dengan permintaan konsumen sehingga ketersediaan hasil produksi cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
            Dalam hal ini walaupun produksi hanya menyediakan sarana kebutuhan manusia, itu tidak berarti bahwa produsen sekedar memberikan respon reaktif terhadap kebutuhan konsumen. Akan tetapi yang dibutuhkan adalah sikap proaktif, kreatif dan inovatif untuk menemukan berbagai barang dan jasa yang sangat dibutuhkan manusia. Dengan adanya penemuan baru ini kemudian dipublikasikan atau dipromosikan kepada konsumen sehingga konsumen mengetahuinya. Dalam proses sosialisasi dan pemasaran ini tidak hanya membutuhkan sistem marketing yang handal untuk memasarkan produk penemuan baru ini, akan tetapi dibutuhkan pengemasan yang apik dan menarik bagi konsumen sehingga konsumen tertarik untuk mengonsumsinya. Setelah dikemas dengan apik dan konsumen tertarik pada hasil produk ini otomatis dengan harga yang dapat bersaing sehingga konsumen dapat menjangkaunya sembari meningkatkan kualitasnya agar konsumen juga merasa puas dengan produk tersebut. Sikap proaktif menemukan kebutuhan ini sangat penting, sebab kadang-kadang juga konsumen tidak mengetahui apa yang sesungguhnya dibutuhkannya. Oleh karena itu, sikap proaktif semacam ini juga harus berorientasi ke depan (future view) yang memiliki pengertian: Pertama, menghasilkan barang dan jasa yang bermanfa’at bagi kehidupan sekarang dan mendatang. Kedua, menyadari dengan benar bahwa sumber daya ekonomi, baik berupa sumber daya alam (natural resources) atau selain sumber daya yang bersumber dari alam (non-natural resources), tidak hanya diperuntukkan bagi manusia yang hidup sekarang, tetapi untuk generasi mendatang.
            Oleh sebab itu, orientasi ke depan harus dapat mendorong produsen untuk terus-menerus melakukan riset dan pengembangan (research and development) guna menemukan berbagai jenis kebutuhan, teknologi terapan yang tepat dan merancang kebutuhan masa depan, sehingga segala sesuatu yang menyangkut permasalahan ekonomi masa depan telah dipersiapkan dan dapat diberikan solusi dengan tepat dan akurat. Disisi lain, sistem efisiensi dalam pengelolaan sumber daya alam (SDA) juga harus diperhatikan sehingga tidak terjadi eksploitasi sumber daya alam (SDA) dan lingkungan yang berlebihan yang berdampak pada pencemaran lingkungan dan tidak memperhatikan sistem pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) untuk generasi mendatang. Dalam konteks ini, maka produksi yang berwawasan lingkungan (green production) akan menjadi konsekuensi logis, artinya menjadi solusi alternatif dalam pengelolaan sumber daya alam. Ajaran Islam telah memperingatkan dengan keras kepada para pelaku produsen agar tidak melakukan kerusakan terhadap lingkungan dan sumber daya alam demi keuntungan sesaat akan tetapi berdampak kemadzaratan yang lebih besar bagi diri mereka dan masyarakat lingkungannya.
            Sehingga dengan demikian akan terpenuhi ketersediaan kebutuhan manusia secara memadai baik sekarang maupun yang akan datang. Konsep pembangunan yang berkesinambungan (sustainable development) adalah konsep pembangunan yang memberikan persediaan memadai bagi generasi mendatang. Karena alam ini tidak hanya diperuntukkan bagi manusia dalam satu generasi saja, akan tetapi untuk manusia di sepanjang zaman hingga Allah, swt. menentukan akhir dari kehidupan duniawi ini (yaitu hari kiamat). Dengan demikian, tatkala kebutuhan manusia telah tercukupi baik lahiriah maupun bathiniyah maka dalam taraf inilah kesejahteraan secara optimum dapat tercapai. Karena Ilmu ekonomi Islam tidak hanya mengantarkan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhan secara matriil saja, akan tetapi tetap fokus pada kebutuhan spirituil manusia secara seimbang. Maka tatkala sebuah aktifitas produksi dapat memenuhi kebutuhan matriil dan spirituil manusia maka pada tahap inilah yang disebut dengan kesejahteraan maksimum telah tercapai. Dan pada tahap inilah manusia/masyarakat telah mencapai puncak kesejahteraan yang hakiki yang disebut dengan mujtama’ muttaqin (masyarakat yang bertaqwa).
            Sedangkan tujuan akhir dari kegiatan produksi adalah pemenuhan sarana bagi kegiatan sosial dan sebagai bentuk aktifitas untuk beribadah kepada Allah, swt.. Sebenarnya inilah tujuan produksi yang paling penting dari ajaran Islam. Dengan demikian, aktifitas produksi tidak lain adalah bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia yang berarti adalah berdampak kemaslahatan manusia. Dengan tercukupinya kebutuhan yang memiliki nilai maslahat sehingga akan mendapatkan keberkahan dalam kehidupannya yang berujung pada mendapatkan falah keberuntungan di dunia dan di akhirat. Selain daripada itu aktifitas produksi dalam Islam juga merupakan wahana kegiatan sosial karena manusia adalah human social yang membutuhkan muamalat sosial untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, proses produksi adalah wahana interaksi sosial yang juga merupakan sarana untuk beribadah kepada Allah, swt.. Karena manusia yang melakukan aktifitas produksi apabila diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, swt. maka nilainya adalah ibadah dan mendapatkan pahala disisih Allah, swt.. sebagai bekal untuk kehidupan akhirat.                      

D. Atribut Fisik dan Nilai Dalam Produk
            Suatu produk yang dihasilkan oleh produsen akan menjadi berharga atau bernilai jika produk tersebut memiliki atribut fisik dan nilai yang dipandang berharga bagi konsumen. Teori ini diperkenalkan pertama kali oleh Kelvin Lanscarter pada tahun 1966 M. maka sebelum teori atribut fisik ini dilahirkan, teori-teori sebelumnya masih menggunakan asumsi bahwa yang diperhatikan oleh konsumen adalah produknya. Maksud atribut fisik dalam suatu barang adalah; bahan baku barang, kualitas keawetan barang, bentuk atau desain barang dan lain-lain. Atribut suatu barang pada esensinya sangat menentukan peran fungsional dari barang tersebut dalam memenuhi kebutuhan konsumen. Sedangkan nilai suatu barang akan memberikan kepuasan pesikis kepada konsumen sebagai pemanfaat produk barang tersebut. Sedangkan nilai ini berbentuk dalam citra atau merk barang tersebut, sejarah, reputasi produsen, dan lain-lain.
            Misalkan; dua barang yang memiliki atribut fisik sama belum tentu memiliki harga sama di hadapan konsumen kerena perbedaan nilai yang ada dalam barang tersebut. Contoh saja dua stick olahraga golf yang memiliki spesifikasi teknis sama, tetapi harganya berbeda karena merknya berbeda. Stick olahraga golf bermerk terkenal harganya lebih mahal dibandingkan yang tidak terkenal, meskipun bahannya sama, desain modelnya sama dan tentu saja fungsinya sama. Tekadang harga barang bisa jauh melampui nilai fungsionalnya karena tingginya nilai non-fisik yang ada padanya. Sebagai contoh adalah stick pegolf terkenal tingkat dunia yang dilelang dengan harga yang sangat tinggi dan tidak masuk akal untuk sebuah stick olahraga golf. Maka dalam hal ini, konsumen tidak melihat stick golf ini sebagai atribut fisik yang berfungsi untuk olahraga golf saja, akan tetapi nilai sejarah yang melekat pada stick golf tersebut sebagai penyandang puncak kesuksesan pemiliknya. Maka dengan adanya nilai sejarah pada stick golf inilah yang menjadikan harga stick golf ini menjadi sangat mahal dan sangat berharga bagi konsumen.
            Atribut fisik suatu produk pada dasarnya bersifat objektif yang dapat dikomparasikan dengan jenis produk lainnya, akan tetapi nilai produk itu bernilai subjektif sehingga faktor inilah yang membedakan harga suatu produk. Dalam pandangan ekonomi Islam produk merupakan kombinasi dari atribut fisik dan nilai (value). Konsep ekonomi Islam tetang atribut fisik suatu produk tidak berbeda dengan pandangan ekonomi konvensional pada umumnya. Dalam teori ekonomi Islam tentang atribut fisik ini terdapat dalam Hadis Rasulullah, saw. yang telah dijadikan sebagai kaidah fiqih yang mengatakan: “Laa Dzarara Wa La Dzirara”, yang berarti: Tidak melakukan sesuatu yang bermadzarat dan tidak melakukan sesuatu yang menimbulkan kemadzaratan. Dari kaidah Fiqih ini, apabila kita aplikasikan dalam sistem ekonomi Islam maka akan melahirkan sebuah kaidah: “Tidak boleh melakukan transaksi ekonomi pada sesuatu yang bermadzarat dan tidak boleh melakukan sesuatu yang akan menimbulkan kemadzaratan”. Dari kaidah di atas ada dua hal yang patut dicermati bersama, yaitu: “Tidak boleh melakukan transaksi ekonomi pada sesuatu yang bermadzarat” berarti menjelaskan pada intrinsik produk ekonomi. Sedangkan “... dan tidak boleh melakukan sesuatu yang akan menimbulkan kemadzaratan”, kaidah ini dapat dikatakan bermaksud pada sebuah faktor eksternal diantaranya adalah atribut fisik suatu produk. Maka dalam hal ini secara mafhum mukholafah (konteks kontraproduktif) dalam sebuah transaksi ekonomi yang berkenaan dengan harga berarti boleh melakukan sesuatu yang menjadikan nilai itu bermanfaat, dalam sebuah statemen pasar berarti boleh menjual sesuatu yang mempengaruhi produk itu menjadi mahal. Otomatis atribut fisik ini boleh diperjual belikan yang melekat pada produk itu sehingga harga sebuah produk ini menjadi mahal karena faktor atribut fisik ini. 
Sedangkan konsep nilai yang harus ada dalam setiap barang harus sesuai dengan syariah. karena nilai suatu produk dalam Islam itu sangat berbeda dalam pandangan konvensional. Menurut ekonomi konvensional setiap produk yang dapat diperjual-belikan di pasar maka produk itu berarti memiliki nilai. Sedangkan dalam Islam tidak demikian, karena suatu produk bisa dikatakan bernilai apabila produk itu halal. Dan secara intrinsik produk itu halal secara syariah apabila tidak mengandung unsur-unsur yang diharamkan. Menurut Jumhur Ulama’ suatu produk bisa dikatakan bernilai apabila secara intrinsik produk itu halal artinya tidak kejadian dari suatu yang haram. Maka apabila produk itu kejadian dari yang haram maka produk itu dianggap tidak bernilai dan tidak bermartabat. Dengan demikian setiap barang dan jasa dalam Islam adalah bernilai dan bermartabat, maka barang/jasa itu mengandung keberkahan dan akibatnya membawa kemaslahatan bagi manusia. Maka setiap produk (barang/jasa) yang tidak bernilai, maka produk (barang/jasa) tidak mengandung keberkahan sehingga tidak dapat memberikan kemaslahatan, sebab berkah merupakan elemen penting dalam konsep maslahah.
            Dari sisi lain yang terdeskripsikan dalam proses pembuatan produk, misalkan adanya dua merk stick golf yang mana satu jenis stick golf diproduksi oleh sebuah perusahaan M yang melakukan eksploitasi terhadap tenaga kerjanya, sedangkan perusahaan yang lainnya T sangat menghargai tenaga kerjanya. Sebagaimana telah diketahui bahwa eksploitasi terhadap tenaga kerja sangat bertentangan dengan nilai-nilai dalam ekonomi Islam. Meskipun atribut fisik kedua stick golf tersebut sama, tetapi kedua raket tersebut akan dihargai berbeda. Stick golf yang diproduksi oleh perusahaan M tidak mengandung berkah karena proses produksinya tidak sesuai dengan syariah yaitu dengan melakukan bentuk eksploitasi, maka produk ini tidak berharga sehingga tidak mengandung maslahah, sehingga para konsumen emoh memilihnya.
            Dengan demikian sangat jelas bahwa suatu produk harus memiliki atribut fisik yang halal dan proses pembuatan produksi juga halal, sehingga akan menjadikan berkah yang membawa kemaslahatan bagi manusia dan lingkungannya. Dengan penjelasan di atas kuantitas produk dapat diekspresikan dalam sebuah rumus, sebagai berikut:

(Qm =   qf  +  qb)

Dimana

Qm      :   Barang yang memiliki maslahah
qf         :   Atribut fisik barang
qb        :   Berkah barang tersebut.


E. Input Produksi dan Berkah
            Aktifitas produksi membutuhkan berbagai jenis sumber daya ekonomi yang lazim disebut input atau faktor produksi, yaitu semua bentuk faktor yang memberikan kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam sebuah proses produksi. Maka faktor-faktor produksi ini terdeskripsikan dalam faktor sumber daya alam, faktor finansial, faktor sumber daya manusia dan faktor waktu. Misalkan dalam sebuah perusahaan produksi mobil. Pemroduksian mobil tidak bisa dibuat hanya dengan tersedianya besi atau karet saja, atau ada tenaga kerja saja, atau ada pengusaha mobil saja, tetapi merupakan kombinasi antara berbagai faktor produksi sebagai input produksi. Sebuah mobil dapat sampai ke tangan konsumen didukung oleh kombinasi dari berbagai macam faktor produksi diantaranya harus tercukupinya bahan-bahan; besi, karet, aluminium dan lain-lain yang diolah secara manual maupun dengan dibantu mesin, dan kemudian setelah menjadi mobil dijual atau disalurkan oleh para distributor kepada konsumen. Maka dalam proses pemroduksian mobil tersebut selain membutuhkan koordinasi manajerial seorang manajer dan juga gagasan-gagasan dan ide-ide para usahawan yang dalam hal ini adalah masuk dalam faktor sumber daya manusia. Dan untuk menggerakkan semua faktor itu membutuhkan modal finansial dalam rangka membiayai semua proses produksi tersebut. Demikian pula barang-barang sederhana lainnya yang bernilai rendah, misalnya benang jahit, sesungguhnya juga membutuhkan proses yang panjang dengan melibatkan berbagai faktor produksi untuk menghasilkannya.
            Dalam kaitannya dengan hal ini, sebenarnya tidak ada kesepakatan yang bulat tentang klasifikasi faktor produksi. Perbedaan dasar klasifikasi faktor produksi ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, contohnya ketidaksamaan dalam pembuatan definisi, karakteristik, maupun peran dari masing-masing faktor dalam menghasilkan output, atau bentuk harga atau biaya (cost) atas suatu faktor produksi. Contoh terakhir ini misalnya dalam ekonomi konvensional harga atau biaya dari tanah adalah sewa disebut dengan (rent), biaya yang dihasilkan dari tenaga kerja disebut upah/gaji (wage) dan biaya atau hasil dari investasi modal finansial adalah bunga (interest), yang menurut ekonomi Islam sistem bunga adalah haram hukumnya sehingga ekonomi Islam memberikan alternatif lain bahwa hasil dari investasi modal finansial adalah berupa bagi hasil kerugian dan keuntungan (profit and loss sharing).
            Secara mendasar, faktor produksi atau input ini secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu; input manusia (human input) dan input non-manusia (non human input). Yang termasuk dalam input manusia adalah semua bentuk manajerial, ide-ide, gagasan pemikiran, tenaga, perasaan dan hati yang bersumber dari diri manusia. Sedangkan yang termasuk dalam input non-manusia adalah sumber daya alam (natural resources), kapital (financial capital), mesin, alat-alat, gedung dan input-input fisik lainnya (physical capital). Maka klasifikasi input menjadi input manusia dan non-manusia ini didasarkan pada argumen-argumen sebagai berikut, yaitu:

1. Manusia adalah faktor produksi terpenting dari faktor-faktor produksi lainnya. Dan manusia juga dikatakan sebagai faktor produksi utama (main input), karena manusia adalah sebagai faktor produksi yang dapat menggerakkan semua faktor produksi lainnya termasuk menggerakkan faktor produksi manusia lainnya untuk dapat memberdayakan semua potensi ekonomi yang dimilikinya sehingga dapat bekerja sesuai dengan kompetensinya. Maka manusia adalah faktor produksi yang memiliki inisiatif atau ide, mengorganisasi, memproses dan memimpin semua faktor produksi sehingga menghasilkan suatu produk yang bermanfa’at untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan faktor non-manusia adalah input pendukung (supporting input) sebagai faktor terpenting kedua setelah manusia. Karena manusia tidak dapat hidup dan berekonomi kecuali didukung oleh faktor non-manusia (Faktor materiil). Oleh karena itu, dalam menghasilkan output secara maksimal manusia membutuhkan faktor produksi materiil, akan tetapi tanpa manusia barang dan jasa tidak akan optimal dalam memberikan manfa’at. Misalnya: Petroleom yang masih berada di dasar bumi dalam bentuk aslinya tidak akan memberikan manfa’at apabila tidak ditambang dan diolah oleh manusia. Demikian juga tambang batu bara yang masih berada di perut bumi tidak akan dapat memberikan kebermanfa’atan tanpa sentuhan tangan-tangan terampil manusia. Demikian juga tambang emas yang masih di dalam perut bumi tidak menjadi perhiasan yang berharga tinggi apabila tidak diolah dan dikelola oleh manusia yang terampil. Oleh karena itu usaha manusia adalah faktor terpenting dalam pengelolaan barang dan jasa sehingga benar apa yang dikatakan Ibnu Khaldun (1263-1328) yang menganggap bahwa manusia adalah faktor terpenting dan merupakan sumber utama nilai barang dan jasa.

2. Manusia adalah makhluk hidup yang memiliki berbagai macam karakteristik yang tidak dimiliki oleh faktor-faktor produksi lainnya. Manusia adalah ciptaan Allah yang diberikan kemulyaan Allah sebagai khalifah di muka bumi ini. Sehingga memiliki karakteristik yang sangat istimewa yang membedakan faktor-faktor produksi lainnya. Manusia pasti tidak dapat disamakan dengan sumber daya alam, gedung, uang dan faktor produksi fisik lainnya. Secara umum sumber daya non-manusia dapat diperdagangkan sesuai dengan mekanisme pasar maka sumber daya non-manusia dapat disebut sebagai barang/jasa. Sedangkan manusia adalah manusia yang tidak berupa harta benda (barang/jasa) maka tidak dapat diperjual-belikan dalam mekanisme pasar. Karena harta benda (barang/jasa) menurut definisi Mustafa Ahmad Zarqa’ adalah: Segala sesuatu yang mempunyai nilai materi di kalangan masyarakat. Maka manusia tidak termasuk di dalamnya, sehingga jika terjadi perdagangan manusia (human smugling) maka hukumnya haram dalam perspektif ekonomi Islam.

Maka ketika harta benda (barang/jasa) itu halalan tayyiban, keberkahan pun akan menyertainya. Halalan tayyiban maksudnya adalah halal secara nilai intrinsiknya, halal proses dan halal dampak dari proses transaksinya sehingga keberkahan akan menyertai barang dan jasa itu. sehingga menjadikan output bahwa barang/jasa yang berkah akan berdampak kepada kemaslahatan. Oleh karena itu, bagaimanapun sistem pengklasifisiannya bahwa berkah harus dimasukkan dalam input produksi. Karena berkah tersebut melekat pada setiap input yang digunakan dalam berproduksi dan juga melekat pada proses produksi sehingga output produksinya akan mengandung berkah. Memasukkan berkah sebagai input produksi adalah rasional, sebab berkah mempunyai andil (share) nyata dalam membentuk output. Dalam alam kasat mata input berkah memang tidak bersifat materi sebagaimana faktor-faktor produksi lainnya, akan tetapi input human capital juga tidak bersifat materi dan bisa dimasukkan dalam input produksi. Dengan demikian, produk yang dihasilkan dengan menggunakan human capital yang kualitasnya rendah akan menghasilkan produk yang berkualitas rendah juga, demikian juga sebaliknya, produk yang dengan mempergunakan human capital yang berkualitas tinggi akan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi. Demikian halnya, barang/jasa yang diproduksi dengan input berkah akan menghasilkan output yang bertambah berkah sehingga nilai kemaslahatannya semakin bertambah, demikian juga sebaliknya barang/jasa yang diproduksi dengan input yang tidak berkah akan menghasilkan output yang tidak berkah bahkan berdampak pada kemadzaratan dan kerusakan.

F. Kemuliayaan Harkat Kemanusiaan Sebagai Karakter Produksi
            Tujuan produksi dalam Islam adalah untuk memberikan kemaslahatan yang optimum kepada konsumen dan manusia secara umum. Dengan kemaslahatan yang optimum ini, bertujuan untuk mendapat falah  sebagai tujuan akhir dari kegiatan ekonomi yang juga merupakan tujuan akhir hidup manusia. Yang hal ini telah dijelaskan secara detail pada pembahasan terdahulu, dan falah adalah bentuk keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat yang akan memberikan kebahagiaan yang hakiki bagi manusia. Dan kebahagiaan yang hakiki inilah merupakan wujud dari tercapainya kemulyaan bagi kehidupan manusia. Maka dengan memahami alur tujuan kegiatan produksi ini, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa karakter penting produksi dalam ekonomi Islam adalah perhatiannya terhadap kemuliaan harkat dan martabat manusia, yaitu mengangkat kualitas dan derajat hidup kemanusiaan manusia. Kemuliaan harkat kemanusiaan harus mendapat perhatian besar dan utama dalam semua aktifitas produksi, maka keseluruhan kegiatan produksi yang tidak sesuai dengan pemuliaan harkat kemanusiaan dapat dikatakan kontradiktif dengan ajaran-ajaran Islam.
            Penjelasan karakter produksi diatas membawa implikasi penting dalam teori produksi, sebagai contohnya dalam memandang kedudukan manusia khususnya tenaga kerja (human capital) dengan modal finansial (financial capital). Dalam perspektif konvensional, tenaga kerja dan kaptal finansial memiliki kedudukan yang setara dimana keduanya adalah substitusi sempurna. Artinya penggunaan tenaga kerja sama dengan harga dalam penggunaan kapital finansial yang dapat dipergunakan secara penuh berdasarkan pertimbangan efesiensi dan produktifitas. Seandainya penggunaan teknologi padat kapital (capital intensive) lebih murah daripada teknologi padat tenaga kerja (labor intensive), maka produsen akan memilih dan mempergunakan teknologi yang padat kapital. Sebaliknya, jika teknologi padat tenaga kerja lebih menguntungkan, maka produsen akan lebih memilihnya daripada teknologi padat kapital. Dalam praktek empiris, implementasi konsepsi substitusi ini telah menimbulkan berbagai permasalahan ekonomi sosial yang kompleks. Eksploitasi upah buruh, pemutusan hubungan kerja dan berbagai bentuk dehumanisasi kegiatan produksi merupakan implikasi nyata dari konsep substitusi ini.
            Dalam ekonomi Islam, sangat berbeda dengan konsep ekonomi konvensional, karena ekonomi Islam lebih menitikberatkan faktor manusia sebagai perhatian terpenting dalam teori produksi. Maka dalam hal ini, ekonomi Islam lebih memilih faktor tenaga kerja (human capital) dari pada faktor modal finansial (financial capital). Karena dalam perspektif ekonomi Islam tenaga kerja memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada faktor modal finansial. Dan seandainya penggunaan teknologi padat capital (capital intensive) sama harganya dengan penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive), tentu lebih memilih penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive), karena penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive) lebih melihat pada sisi keuntungan dari berbagai dimensi, tidak hanya dari pihak produsen akan tetapi juga sangat memperhatikan pihak tenaga kerja, output tenaga kerja dan kepuasan konsumen. Di pihak produsen bagaimana proses produksi ini harus tetap menguntungkan secara finansial kepada produsen. Dalam ekonomi Islam, tidak melihat pada nilai finansial keuntungan produsen saja akan tetapi produsen juga akan mendapatkan pahala akhirat karena telah dapat memberikan penghidupan bagi tenaga kerjanya secara ikhlas. Disisi lain, kebahagiaan bathiniyah bagi produsen telah terpenuhi karena telah memberikan kontribusi untuk kehidupan para tenaga kerjanya dan juga sekaligus mereka menjadi teman kerja yang dapat membantu kegiatan proses produksi para produsen.
            Dari sisi pihak tenaga kerja, ekonomi Islam memandang bahwa penggunaan teknologi padat tenaga kerja (labor intensive) memiliki nilai keberkahan yang lebih dari teknologi yang hanya mengandalkan mesin padat capital, karena sentuhan tangan manusia yang ikhlas lebih memberikan rasa lebih terhadap keberkahan dan keuntungan output produksi. Dengan semakin banyaknya teknologi yang berbasiskan padat tenaga kerja akan dapat memberikan income pendapatan bagi kehidupan manusia yang sekaligus menyelamatkan mereka dari kemiskinan dan ketidakberdayaan ekonomi yang sekaligus menyelamatkan aqidah mereka. Dan ini merupakan bagian dari tujuan-tujuan ekonomi Islam. Disisi lain, karena para tenaga kerja yang ikhlas dan profesional akan selalu mendo’akan keberhasilan proses produksi sehingga keberkahannya melekat pada hasil produksi yang akan memiliki daya tarik tersendiri dalam hati para konsumen.
            Berkaitan dalam hal ini dapat diklasifikasikan bahwa substitusi antara manusia/tenaga kerja dengan modal kapital dibagi menjadi dua jenis, yaitu: (1) Substitusi natural dan (2) Substitusi yang dipaksakan (forced substitution).
            Untuk mendapatkan deskripsi yang lebih jelas tentang jenis substitusi tersebut dapat kita gambarkan kembali pada masa kehidupan kuno tatkala manusia masih rendah kualitas ketenagakerjaannya. Dapat kita asumsikan bahwa manusia dalam kondisi tersebut jumlahnya amat banyak sehingga tingkat upah yang didapatkannya sangatlah rendah. Maka dalam situasi seperti ini kegiatan produksi akan menggunakan banyak tenaga kerja. Selanjutnya ketika manusia-manusia tersebut telah mampu hidup lebih baik dari hasil pendapatan yang mereka peroleh sehingga dapat meningkatkan kualitas ketenagakerjaan anak-anaknya melalui pendidikan dan peningkatan keahlian, maka mereka akan bisa lebih menggunakan sumber daya ketenagakerjaan mereka dengan lebih baik. Seorang anak petani yang diberi bekal baik tidak akan lagi bekerja di sektor pertanian yang hasilnya minim karena mereka mampu memasuki pasar tenaga kerja yang memberikan kompensasi yang lebih tinggi. Sebagai konsekuensinya mereka akan memperoleh kompensasi yang lebih besar atas pekerjaan mereka. Proses tersebut terjadi terus menerus dari generasi ke generasi sehingga jumlah manusia yang mempunyai keahlian yang rendah menjadi sangat sedikit. Sebagai akibatnya, pada suatu saat tingkat pemberian kompensasi menjadi sangat tinggi.
            Dengan kualifikasi manusia yang sudah tinggi seperti ini, maka menjadi tidak bijaksana jika manusia-manusia dengan kualifikasi tinggi ini digunakan untuk memproduksi barang-barang yang remeh, bernilai rendah. Mereka tentu akan diarahkan untuk memproduksi barang-barang yang mempunyai nilai tinggi sehingga bisa meningkatkan harkat hidup dan kemanusiaan. Pada tahap ini maka akan timbul masalah, yaitu ketika setiap manusia sudah dimanfa’atkan untuk produksi yang menciptakan nilai kemaslahatan yang tinggi, maka siapa yang akan menangani pekerjaan-pekerjaan yang remeh atau bernilai rendah di atas?. Disinilah manusia menciptakan peralatan, yang notabene sebagai kapital, untuk menggantikan manusia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan remeh yang sudah ditinggalkan manusia. Kalau kita melihat pada titik terakhir ini saja tanpa melihat proses yang terjadi di belakangnya, maka kita hanya bisa melihat bahwa telah terjadi substitusi dari kapital untuk manusia (tenaga kerja). Namun, jika kita lihat dalam perspektif yang panjang sebagaimana yang dipaparkan di muka maka sebenarnya yang tampak sebagai substitusi ini hanyalah equipping.
            Hal ini manusia dibekali/dilengkapi (equipped) dengan peralatan agar bisa mengatasi masalah yang dihadapi dalam rangka menciptakan nilai maslahah yang lebih tinggi. Tanpa adanya equipping ini maka bisa dipastikan akan terjadi pemborosan sumber daya. Sumber daya manusia yang bernilai sangat tinggi dalam contoh ini terpaksa harus menjalankan produksi barang-barang yang remeh (meskipun remeh, tetapi tetap juga menjadi kebutuhan manusia sehingga tetap harus diproduksi).
            Dengan melihat ilustrasi di atas, kita dapat mengatakan bahwa equipping tersebut sebagai substitusi yang natural. Substitusi natural ini banyak dijumpai dalam banyak kehidupan manusia. Islam sangat merekomendasikan terjadinya substitusi natural ini karena sifat substitusi natural ini adalah untuk mendapatkan maslahat yang lebih besar bagi manusia secara keseluruhan. Sebaliknya Islam tidak merekomendasikan adanya substitusi yang dipaksakan (forced). Hal ini disebabkan karena substitusi yang dipaksakan akan menimbulkan kesengsaraan hidup manusia yang justru menurunkan harkat kemanusiaan manusia, yang tentu saja bertentangan dengan tujuan Islam itu sendiri. Pandangan konvensional tentang tenaga kerja adalah substitusi sempurna, hal ini merupakan bentuk substitusi yang dipaksakan. Ketika ketersediaan tenaga kerja masih cukup banyak, tingkat upah yang manusiawi juga masih bisa dijangkau, dan perusahaan tidak dalam kondisi darurat, maka penggunaan kapital untuk mensubstitusi tenaga kerja adalah merupakan bentuk substitusi yang dapaksakan.
            Dengan mendasarkan diri pada hal ini, maka perlu dicari atau dibentuk suatu konsep produksi yang mendudukkan manusia sebagai pusat dari semua kegiatan produksi. Substitusi natural prosesnya terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, konsep produksi yang menunjukkan adanya substitusi natural antara kapital dan manusia (tenaga kerja) adalah merupakan konsep dengan horison waktu jangka sangat panjang. Sementara paradigma berproduksi sebenarnya adalah paradigma jangka pendek atau bahkan jangka sangat pendek. Dengan demikian, menjadi tidak tepat jika konsep produksi jangka sangat panjang digunakan untuk menggambarkan perilaku yang sebenarnya jangka pendek.
  
G. Eksplorasi dan Pembentukan Konsep Produksi
            Dengan memperhatikan penjelasan-penjelasan di atas, maka dibutuhkan sebuah konsep yang sama sekali lain dari apa yang selama ini sudah ada. Konsep ini dilandaskan pada nilai-nilai Islam yang kemudian dirumuskan menjadi suatu konsep produksi.

1. Eksplorasi Nilai dan Prinsip Islam dalam Produksi
            Semangat produksi untuk menghasilkan maslahah maksimum perlu dituntun dengan nilai dan prinsip ekonomi Islam. Nilai dan prinsip pokok dalam produksi adalah amanah dan profesionalisme. Dua prinsip pokok ini diambil dari ayat Al-Qur’an yang mengatakan: “..."Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS. 28: 26).
            Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan ayat diatas bahwa maksud dari kuat (al-qawiyyu) lagi dipercaya (al-amin) adalah profesional dan amanah (trust). Yang kedua prinsip pokok ini merupakan sebuah piranti untuk mewujudkan maslahah yang maksimum, yang akan kita jelaskan sebagai berikut:

a. Amanah untuk Mewujudkan Maslahah Maksimum
            Sifat amanah adalah salah satu nilai penting dalam Islam, yang diambil dari nilai dasar kekhilafahan, yang harus terus dijunjung tinggi. Pengertian amanah dalam konteks ini adalah penggunaan sumber daya ekonomi untuk mencapai tujuan hidup manusia yaitu keberuntungan (falah). Sedangkan sumber daya yang ada di alam semesta ini oleh Allah diamanahkan kepada manusia. Manusia tidak diperbolehkan untuk mengeksplorasi/mengeksploitasi sumber daya ekonomi ini dengan cara yang bathil. Selanjutnya, pemanfa’atan sumber daya tersebut tidak boleh digunakan untuk usaha-usaha yang bertentangan dengan tujuan khilafah, yaitu: terciptanya kemakmuran di atas bumi. Untuk mewujudkan kemakmuran, manusia diberi hak penguasaan dan kebebasan dalam memanfa’atkan sumber daya yang semua itu akan dipertanggungjawabkan kepada Allah, swt. sebagai pemberi amanah. Secara singkat, dapat diatakan bahwa amanah di sini dimaknai sebagai usaha untuk memanfa’atkan sumber daya yang ada dengan cara yang sebaik-baiknya dalam arti sesuai dengan syariah untuk mencapai kemakmuran manusia di muka bumi.
            Dengan demikian, sebagai konsekuensi dari nilai amanah tersebut, maka manusia butuh pemanfa’atan sumber daya yang ada sebagai input dalam berproduksi. Memang, dalam nilai amanah ini tidak disebutkan sebagai sumber yang membawa maslahah. Sumber daya bisa berasal dari tempat yang dekat maupun dari tempat yang berjarak jauh. Namun, Islam mengajarkan manusia agar memulai suatu kebaikan berasal dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar dan seterusnya meluas hingga masyarakat luas dalam sekup negara dan bangsa. Dengan berdasar pada prinsip ini, maka manusia akan terbantu dalam memilih sumber daya mana yang akan dipilih menjadi input produksi. Kegiatan produksi harus memanfa’atkan dengan sebaik-baiknya sumber daya yang melimpah yang ada di sekitarnya. Ketika di lingkungan sekitar tidak ada sumber daya yang bisa dimanfa’atkan, maka manusia bisa mencari sumber daya pada lingkungan yang lebih luas dan pada sektor lain yang lebih luas, demikian seterusnya. Sehingga prioritas produksi dalam Islam adalah dengan memanfa’atkan sumber daya lokal yang melimpah.

b. Profesionalisme
            Dalam ajaran Islam, setiap muslim dituntut untuk menjadi pelaku produksi yang profesional, yaitu memiliki profesionalitas dan kompetensi di bidangnya. Segala sesuatu harus dikerjakan dengan baik, karenanya setiap urusan harus diserahkan kepada ahlinya. Hal ini memberikan implikasi bahwa setiap pelaku produksi Islam harus mempunyai keahlian standar untuk bisa melaksanakan kegiatan produksi. Implikasi lebih jauh dari hal ini adalah bahwa produsen harus mempersiapkan karyawannya agar memenuhi standar minimum yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan produksi. Maka tidak lain dengan cara menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan secara intensif sehingga profesionalitas dapat tercapai bagi sumber daya manusia yang dibutuhkan.        
            Dalam kaitannya dengan meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia, yang mana walaupun setiap tenaga kerja sudah memenuhi standar minimum dalam melaksanakan produksi, namun ia harus selalu belajar terus untuk meningkatkan kemampuannya dalam hal-hal yang terkait dengan produksi. Pembelajaran ini merupakan amanat sepanjang hidup (long life learning) dari ajaran Islam, artinya: bahwa setiap agen muslim perlu terus-menerus belajar. Adapun media untuk belajar bisa berupa pendidikan formal dan informal dimana dan kapanpun dia berada, misalnya tempat bekerja (working place). Dari tempat bekerja ini berangsur-angsur tenaga kerja akan bisa memperoleh keahlian dalam berproduksi sehingga kemampuan kerjanya semakin meningkat. Dengan semakin meningkatnya kemampuan, maka jumlah barang/jasa yang bisa dihasilkan juga semakin besar, sebab ia bekerja semakin efisien. Selain itu frekuensi kesalahan dalam melaksanakan kegiatan produksi juga semakin menurun. Akibatnya jumlah barang yang gagal (cacat) menjadi semakin kecil yang berarti penggunaan input per unit output juga semakin menurun. Hal ini semua yang disebut sebagai efek learning curve yang bisa ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut:



 


















Gambar  7.1.
  Learning Curve
           
Dengan demikian, dapat kita perhatikan bahwa sumbu vertikal dalam kurva di atas menunjukkan jumlah input yang digunakan untuk menghasilkan output, sementara sumbu horizontal menunjukkan jumlah output. Jika input, misalnya tenaga kerja, bersedia untuk melakukan kegiatan pembelajaran terus-menerus, maka produktifitasnya akan semakin meningkat. Untuk menghasilkan lebih banyak output, maka jumlah input yang digunakan semakin sedikit. Ajaran Islam mengharuskan umatnya untuk melakukan long life learning sehingga meningkatkan produktifitasnya sebagaimana telah diilustrasikan dalam learning curve di atas, yang hal ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi, saw. “Carilah kalian ilmu pengetahuan dari ayunan sampai ke liang kubur”.

H. Produksi Dengan Teknologi Konstan
            Berdasarkan semua pembahasan di atas, didapatkan bahwa konsep produksi yang sesuai dengan nilai Islam adalah konsep yang menganggap bahwa teknologi berproduksi adalah sudah ‘given’ atau konstan, dalam arti bahwa teknologi yang digunakan adalah teknologi yang memanfa’atkan sumber daya manusia sedemikian rupa sehingga manusia-manusia tersebut mampu meningkatkan harkat kemanusiaannya. Selain itu sebagai implikasi dari nilai amanah, maka kegiatan produksi harus menggunakan input setempat (locality) yang tersedia baik dalam bentuk sumber daya mentah, setengah jadi atau yang sudah jadi (siap pakai).
            Sebagai konsekuensi dari premis dasar di atas, maka permasalahan produksi tidaklah mencari teknologi produksi sedemikian rupa sehingga memberikan keuntungan maksimum, melainkan mencari jenis ouput apa, dari berbagai kebutuhan manusia, yang bisa diproduksi dengan teknologi yang sudah ada tersebut. Permasalahan produksi akan memfokus pada pemilihan kombinasi output, berapa jumlah output yang satu dan yang lainnya harus diproduksi sehingga dapat memperoleh nilai maslahah yang maksimum. Pengertian maksimum di sini tentu saja ada faktor kendalanya, yaitu input yang jumlahnya sudah tertentu. Dengan lebih tegas bisa dikatakan bahwa permasalahan produksi di sini adalah mencari kombinasi produk yang bisa dihasilkan dengan sumber daya yang ada guna memperoleh maslahah yang maksimum. Misalnya, adanya sumber daya yang tersedia berupa batu hitam. Alternatif produk yang bisa diproduksi dengan menggunakan batu tersebut adalah bermacam-macam, antara lain adalah untuk digunakan sebagai sebagai batu pondasi rumah, untuk koral campuran aspal, koral campuran beton cor, pasir giling sebagai bahan campuran cor kualitas tinggi sampai digunakan untuk batu aksesoris dinding atau lantai rumah. Pemilihan mengenai produk mana dan dengan kuantitas berapa yang akan diproduksi dengan batu tersebut tentu akan didasakan pada alternatif maslahah yang terbaik yang bisa dihasilkan.
            Contoh lain bisa dideskripsikan bahwa ketika seorang agen melihat banyaknya tenaga kerja di daerahnya, maka dia akan berpikir bagaimana memanfa’atkan tenaga kerja tersebut agar mereka bisa memperoleh pendapatan yang layak untuk mempertahankan hidup dan kehidupannya sebagai makhluk Allah yang tertinggi. Ada banyak alternatif yang bisa dipilih dari pertanian, perkebunan, kerajinan, industri, perdagangan dan jasa-jasa lainnya. Begitu juga ketika agen ekonomi Islam melihat banyaknya insan yang mempunyai kualitas tinggi dan menguasai teknologi, dia akan berpikir bagaimana memanfa’atkan faktor produksi yang berupa skill tersebut. Ada beberapa pilihan produk yang bisa dihasilkan oleh faktor produksi tersebut, mulai produk-produk berteknologi rendah sampai produk berteknologi tinggi.

1. Kurva Isoinput
            Dengan mendasarkan pada konsep seperti di atas, maka kita dapat mendeskripsikan konsep tersebut menjadi suatu gambaran yang lebih konkret, misalnya dalam bentuk grafis sebagaimana gambar 7.2. Kita asumsikan produsen memiliki dua alternatif barang yang bisa dihasilkan dengan menggunakan input tertentu, yaitu barang X dan barang Y. Sumbu vertikal menunjukkan jumlah barang Y, sementara sumbu horisontal menunjukkan jumlah barang  X. Selanjutnya kita dapat menggambarkan kurva isoinput, yaitu kurva yang menggambarkan alternatif produk yang bisa dihasilkan (X dan Y) dengan input tertentu. Untuk mengetahui seluk-beluk mengenai kurva isoinput ini, maka dibawah ini disajikan pembahasan mengenai sifat dan karakteristik kurva isoiput.
 















Gambar  7.2


a. Input yang Sama
            Isoinput adalah persamaan input (karena iso berarti sama), maka semua titik di sepanjang kurva isoinput menunjukkan jumlah input yang digunakan untuk produksi adalah sama. Dengan jumlah input yang sama ini produsen bisa menghasilkan berbagai kombinasi output sepanjang kurva tersebut, yaitu  Y saja, atau  X  saja, atau sejumlah kombinasi  X  dan  Y. Dengan kata lain, kurva isoinput bisa didefinisikan sebagai tempat kedudukan (locus) dari berbagai output yang berbeda yang bisa dihasilkan oleh jumlah input yang sama.
            Pada gambar  7.3. bisa dilihat bahwa setiap titik yang berada sepanjang kurva isoinput, diantaranya adalah titik  A  dan  B, menunjukkan kombinasi output  X  dan  Y yang menggunakan semua input yang tersedia untuk produksi. Dengan kata lain, input telah digunakan secara optimal untuk menghasilkan output. Sementara itu, titik yang berada di dalam kurva insoinput, katakanlah titik C, belum menggunakan semua input yang tersedia untuk berproduksi sehingga pada kondisi seperti ini masih ada sisi input yang belum digunakan. Jika produsen memilih kombinasi ini (C) maka bisa dikatakan bahwa produsen belum memanfa’atkan semua input yang tersedia secara maksimum, dan oleh karenanya bisa dikatakan bahwa dia tidak mencapai maslahah yang maksimum. Sementara kombinasi produk yang berada di luar kurva isoinput, sebut saja kombinasi D, merupakan kombinasi yang tidak mungkin dicapai oleh produsen karena jumlah input yang tersedia untuk memproduksinya tidak mencukupi.

 



















                                                                                                
Gambar  7. 3.



b. Output yang Lebih Besar Memerlukan Input yang Lebih Besar
            Secara intuisi dikatakan bahwa jumlah input yang lebih banyak yang dimasukkan ke dalam produksi akan menghasilkan jumlah output yang lebih banyak. Sebaliknya juga bisa dikatakan dengan sama benarnya jika dikehendaki jumlah output yang lebih besar, maka pasti memerlukan jumlah input yang lebih besar pula. Hal ini bisa dilihat dalam gambar 7. 4. Pada titik A jumlah yang bisa diproduksi dari input yang ada adalah sebanyak X1 untuk barang  X  dan sebanyak  Y1 untuk produk Y.  Pada titik  A’ jumlah yang bisa diproduksi adalah sebanyak  X2 untuk barang  X  dan sebanyak  Y1 untuk produk  Y.  Jika kita bandingkan antara kombinasi output yang ada pada titik  A dan titik A’ maka secara pasti dikatakan bahwa kombinasi A’ mempunyai kandungan output yang lebih besar. Hal ini disebabkan karena keduanya mempunyai kandungan Y  yang sama, namun kombinasi  A’  mempunyai kandungan  X  yang lebih besar dari kombinasi A.

 





















c. Kurva Isoinput yang Lebih Tinggi Menyediakan Input yang Lebih Tinggi
            Berdasar pada sifat kedua di atas bisa disimpulkan bahwa kombinasi A’  mempunyai kandungan output yang lebih besar dari kombinasi A. Konsekuensinya kurva isoinput dimana kombinasi A’ berada menyediakan input yang lebih besar dibanding dengan kurva isoinput dimana kombinasi A berada. Dalam gambar terlihat bahwa kurva isoinput dimana kombinasi A berada menyediakan jumlah input sebanyak 10 (IT10), sementara kurva isoinput dimana kombinasi A’ berada menyediakan input sebesar 20 (IT20). Dengan melihat posisi kurva isoinput  (IT30)  yang lebih tinggi, maka bisa dikatakan bahwa semakin tinggi posisi kurva isoinput (IT), maka semakin besar input yang tersedia bagi produsen untuk melakukan kegiatan produksi.



d. Transformasi Input
            Pada gambar-gambar kurva isoinput tersebut di atas terlihat bahwa kurva isoinput ini mempunyai slope yang negatif. Slope negatif ini memberikan makna adanya substitusi antara barang   X  dan barang  Y.  Pada gambar terlihat bahwasanya pergerakan dari titik  A  ke titik  B  telah terjadi substitusi dari barang  X  untuk barang Y. Pada titik  A  jumlah barang  X  dan  Y  yang bisa diproduksi adalah sebesar  (X1, Y1). Pada titik B jumlah barang  X  dan  Y  yang bisa diproduksi adalah sebesar  (X2, Y2). Padahal, pada kedua titik  A  dan  B  tersebut  jumlah input  yang dipakai adalah sama. Oleh karena itu, gambar tersebut mengatakan bahwa pergerakan dari titik A ke titik B mengakibatkan turunnya jumlah barang  Y  yang bisa diproduksi yaitu dari  Y1 ke  Y2. Sebaliknya pergerakan ini di lain pihak menyebabkan naiknya jumlah barang  X  yang bisa diproduksi yaitu dari  X1  ke   X2. Disini bisa disimpulkan bahwa kenaikan jumlah barang X  yang diproduksi adalah merupakan kompensasi atas turunnya jumlah barang  Y  yang diproduksi.  Dengan demikian, terlihatlah di sini adanya substitusi dari barang  X, yang meningkat, untuk barang Y  yang menurun. Sebagai implikasi dari adanya substitusi ini adalah input yang dipakai untuk memproduksi barang Y ditransformasikan sebagai input yang digunakan untuk memproduksi barang  X.

e. Tingkat Marginal Transformasi Input
            Kurva isoinput pada dua gambar di atas berlereng negatif yang menunjukkan adanya substitusi antara kedua barang  X  dan  Y. Hal ini juga berarti bahwa telah terjadi transformasi input, yaitu dari penggunaan input untuk memproduksi Y  menjadi penggunaan input untuk memproduksi barang  X. Dengan kata lain, terjadi transformasi penggunaan input dari barang X ke barang Y. Tingkat transformasi input marginal/marginal rate of input transformation (MRIT) menunjukkan besarnya jumlah input yang digunakan untuk memproduksi barang Y yang ditarik dan kemudian digunakan untuk memproduksi barang X. kemampuan ini ditunjukkan oleh besarnya slope dari kurva isoinput di atas. Secara aljabar, slope dari kurva isoinput bisa dilihat pada penurunan ekspresi di bawah ini:


                                   Slope IT =  dY   =  MRIT                            (7.6)   
                                                                      dX           

Jika mengambil derivative  total dari fungsi isoinput di atas maka diperoleh:

dI =    I    dX  +    I      dY
X              Y

Maka dapat disimpulkan bahwa derivative total di atas menunjukkan perubahan yang terjadi pada input sepanjang kurva isoinput. Padahal perubahan input sepanjang kurva isoinput adalah sebesar nol, karena jumlah input yang tersedia adalah sama di semua titik pada kurva tersebut. Dengan demikian, bisa kita lanjutkan lagi penurunan tersebut menjadi:
    0  =  dI  =   I    dX   +       dY
                      X                X
              dY   =   I     dX
             Y              X
                                I
                dY   =      X
                dX          I
                              Y

dY    =  slope IT  =   Input marginal  X/  Input  marginal  Y
dX
            Dengan demikian dapat dilihat bagaimana perubahan slope tersebut di atas jika jumlah produksi barang   X   meningkat.  Hal ini bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

 






















Gambar  7. 5.

            Gambar anak tangga diatas menunjukkan besarnya slope dari kurva isoinput. Jika kita berada pada posisi Y  yang tinggi, pada kiri atas, dan kemudian berjalan menuruni anak tangga tersebut terlihat bahwa anak tangga tersebut semakin lama semakin landai dan rendah. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah input yang diambil dari produksi barang  Y dan dialihkan untuk memproduksi barang  X  sebesar satu unit semakin menurun. Hal ini sebenarnya menunjukkan adanya efek dari learning curve dari input sebagaimana ditunjukkan pada gambar  7.1. Learning curve ini juga sekaligus menunjukkan adanya efisiensi penggunaan input. Namun, karena kemampuan manusia terbatas maka efek learning curve pada jumlah produksi semakin lama juga semakin menurun. Dan pada titik tertentu yang ditunjukkan oleh titik besar efek tersebut sudah menjadi nol. Pertambahan produksi barang  X  pada tahap selanjutnya dilakukan dengan efisiensi yang menurun. Dalam gambar 7.5. penurunan efisiensi tersebut mulai terjadi setelah melalui titik belok (pada titik besar). Setelah titik belok tersebut maka jumlah input yang harus diambil dari produksi barang  Y menjadi semakin besar untuk memproduksi barang X sebesar satu unit.

2. Implikasi Konsep Produksi Islam Pada Kegiatan Produksi
            Ajaran-ajaran Islam yang dipaparkan di depan akan memberi dampak pada produksi yang dilakukan oleh agen muslim. Beberapa dampak yang langsung dari hal ini adalah adanya penurunan tambahan penggunaan input (marginal input) dan efisiensi produksi.

a. Penurunan Input Marginal
            Sebagaimana disebut di depan ketika output produksi meningkat, maka penggunaan input juga meningkat. Namun, jumlah tambahan input untuk memproduksi satu unit output ini, yaitu marginal input, semakin lama akan semakin menurun sebagai akibat dari adanya efek learning curve. Penurunan ini akan berhenti dan berubah menjadi menaik ketika efek learning curve sudah berhenti, sebagaimana tampak pada gambar.

b. Efisiensi dan Tingkat Efisiensi Penggunaan Input
            Penurunan marginal input juga mengimplikasikan telah terjadi efisiensi penggunaan input, sebab dengan output yang sama jumlah input yang dibutuhkan semakin sedikit. Dengan kata lain, efisiensi ini adalah merupakan tingkat penurunan dari marginal input. Karena penurunan marginal input ini terjadi karena efek learning curve, maka dapat juga dikatakan bahwa efek learning curve meningkatkan efisiensi. Perlu dicatat lagi disini bahwa efek dari learning curve tidak terjadi terus-menerus sepanjang waktu, namun learning curve mempunyai batas-batas. Ketika kemampuan tenaga kerja telah mencapai tingkat jenuh maka efek learning curve sudah menjadi nol. Dengan kata lain, tenaga kerja sudah tidak bisa meningkatkan kemampuan mereka di luar batas tersebut, dengan demikian kemampuannya menjadi stagnan dan terjadi penurunan.
            Dengan mempertimbangkan batas-batas (boundary) dari efek learning curve, maka bisa dikatakan bahwa efisiensi terjadi pada rentang produksi dimana tenaga kerja masih bisa meningkatkan kemampuan mereka. Pada rentang ini tingkat efisiensi bisa ditunjukkan oleh adanya penghematan input yang ditunjukkan oleh menurunnya tingkat penggunaan input pada masing-masing unit produksi terakhir. Secara Aljabar, hal ini bisa ditunjukkan oleh ekspresi di bawah ini:

d²I   =    d     dI    <   0
dX       dX    dX


Sebagaimana bisa dilihat dari sifat derivative di atas bahwa tingkat penurunan dari input marginal semakin lama akan menjadi semakin berkurang, dan pada titik tertentu hal ini akan berhenti turun. Dalam kondisi seperti ini nilai marginal input sudah akan tidak berubah, berapapun jumlah barang yang diproduksi.


3. Kombinasi Output Maksimum
Setelah mendiskusikan semua hal yang perlu, maka sampailah kita pada masalah utama, yaitu menggambarkan bagaimana proses produsen muslim dalam mencapai mashlahah yang maksimum melalui kegiatan produksi yang mereka lakukan.
            Tujuan dari produsen yang ingin memaksimumkan mashlahah bisa diekspresikan menjadi :

            M = f (X,Y)                                                                                                    (7.5)
           
Pada fungsi diatas ditunjukkan bahwa mashlahah yang diperoleh oleh produsen bersumber dari produksi barang X dan barang Y yang dihasilkannya. Perlu di lihat di sini bahwa fungsi mashlahah diatas sama seperti fungsi mashlahah yang ada pada teori konsumen. Hanya saja, dalam kasus sekarang  ini terma – terma X dan Y menunjukkan jumlah barang yang diproduksi, tidak terdapat pada jumlah barang yang dikonsumsi. Dengan demikian, presentasi geometris dari fungsi mashlahah ini sama dengan yang ada dalam teori konsumsi, yaitu yang ditunjukkan oleh kurva iso- mashlahah, yaitu kurva yang menunjukkan kombinasi barang X dan Y yang memberikan tingkat mashlahah  yang sama.
            Disisi lain, kondisi input yang dihadapi oleh produsen diasumsikan konstan sehingga fungsi kendalanya adalah banyaknya input  yang besarnya sudah tertentu, yaitu kurva isoinput. Fungsi kendala ini bisa di ekspresikan sebagai berikut ini :

                        I = i (X, Y)
           
Secara grafis proses maksimisasi mashlahah ini disajikan dalam gambar 7.6. anggaplah dalam upaya mencapai maksimum mashlahah dalam kegiatan produksinya, seorang produsen menghadapi pilihan arrangement mashlahah yang besarnya bertingkat-tingkat, sebagaimana ditunjukkan oleh kurva iso- mashlahah IM1, IM2, IM3. Tentu saja produsen akan memilih tingkat mashlahah  yang paling tinggi yaitu kombinasi produk yang berada pada kurva iso- mashlahah IM3, anggap misalnya D. Namun, tentu saja usaha produsen tersebut terkendala dengan jumlah imput yang tersedia. Jumlah input yang tersedia sudah tertentu besarnya yang ditunjukkan oleh kurva isoinput. Dengan demikian, pilihan untuk berproduksi pada kombinasi output D merupakan pilihan yang tidak realistis karena pilihan tersebut tidak bisa dicapai.
            Dalam keadaan seperti ini alternatif terbaik yang memberi mashlahah optimum bagi produsen adalah kombinasi B karena kombinasi B tepat berada pada kurva isoinput. Meskipun sama-sama berada pada kurva isoinput yang sama dengan kombinasi B, kombinasi A,  dan C tidak merupakan kombinasi yang tepat karena keduanya berasal dari kurva iso- mashlahah yang lebih rendah yang berarti menawarkan jumlah mashlahah yang lebih rendah dibanding dengan jumlah mashlahah yang ada pada kombinasi B. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa untuk memperoleh mashlahah yang optimum, maka teknik yang perlu dipakai adalah mencari titik singgung antara kurva iso- mashlahah dan kurva isoinput. Pada titik singgung ini slope (gradient) dari kedua kurva adalah sama. Sifat inilah yang nantinya bisa dikembalikan untuk memperoleh rumusan perilaku produsen.

 




















Gambar 7.6.
Titik Maslahah Optimum Produsen

Maka, setelah menelusuri proses yang ditempuh oleh produsen dalam melakukan usaha optimalisasi mashlahah kegiatan produksi, sekarang kita perlu untuk mengetahui rumusan baku yang bisa dimengerti mengenai bagaimana seorang produsen melakukan hal tersebut. Mengingat bahwa pemaparan geometri seperti di atas tidak bisa memberikan tuntutan yang tegas mengenai hal ini, maka bisa digunakan pendekatan matematis.
            Untuk memperoleh nilai mashlahah yang maksimum, maka fungsi tujuan dan fungsi kendala perlu dipadukan dalam satu fungsi lagrangian berikut ini :

L     =   m  (X, Y)  +  l [ I -  i  (X, Y) ]                                                                          (7.8)

L   =  m’  (X)   -    li’ (X)  =  0                                                                                    (7.9)
X

L    m’  (Y)  -  l i’   (Y)  =  0                                                                                 (7.10)
Y

L   =  I  -  i  (X, Y)  =   0                                                                                           (7. 11)
l

Persamaan (7. 9) dan persamaan (7.10) bisa ditulis kembali menjadi:

m’ (X)   =    l                                                                                                             (7. 12)
i’ (X)

m’ (Y)   =    l                                                                                                              (7. 13)
i’   (Y)


Menyamakan persamaan (7. 12) dan persamaan (7. 13) didapat:
m’ (X)   =   m’  (Y)                                                                                                      (7. 14)
i’ (X)          i’   (Y)

atau

m’  (X)   =     i’ (X)                                                                                                      (7. 15)
m’ (Y)            i’ (Y)


            Nilai-nilai m’(X)  dan m’(Y) adalah nilai mashlahah marginal yang diperoleh dari memproduksi barang X dan barang Y berturut-turut. Adapun terma-terma            

i’ (X)  =    dl    dan    i’   (Y)  =     dl                                 
               dX                                dY

adalah nilai-nilai input marginal dari barang X dan barang Y  berturut-turut.

            Berdasar definisi tersebut bisa diberikan penafsiran terhadap persamaan (7.15) yaitu bahwasannya jika perusahaan ingin memaksimumkan mashlahah yang mereka peroleh dari kegiatan produksinya, maka kondisi yang harus dipenuhi adalah bahwa dia harus mampu menyamakan nilai rasio mashlahah marginal barang X dan mashlahah marginal barang Y sama dengan rasio input marginal dalam memproduksi barang X dan input marginal dalam memproduksi barang Y. Inilah optimum mashlahah condition yang harus dipenuhi oleh produsen.
            Selanjutnya, marilah kita cari alternatif lain dalam menafsirkan hasil yang disajikan pada persamaan (7.15). untuk keperluan ini persamaan (7.15) diubah menjadi :
                    dl
i’   (X)  =   dX
i’  (Y)         dl
                 dY

i’  (X)  =   dY
i’  (Y)       dX

i’ (X)  d X   =    i’   (Y)  dY                                                                                    (7. 16)
           
Penafsiran yang bisa diberikan kepada persamaan (7.16) diatas adalah jika perusahaan ingin mencapai mashlahah yang maksimum maka mereka harus menetapkan tambahan mashlahah yang dihasilkan dari tambahan satu unit input terakhir untuk memproduksi masing-masing barang harus sama. Dengan kata lain, satu unit input terakhir harus menghasilkan mashlahah yang sama baik jika digunakan untuk memproduksi barang X ataupun barang Y.

I. Produksi Dengan Modal Tetap
            Maka di depan sudah dijelaskan argumen mengenai mengapa Islam tidak memperkenankan substitusi yang dipaksakan antara modal (capital intensive) dan manusia (tenaga kerja/labor intensive). Sebagai implikasi dari hal ini, maka disini akan di eksplorasi lebih jauh mengenai teknologi berproduksi yang memposisikan modal sebagai input tetap dan manusia (tenaga kerja/labor intensive) sebagai input variabel.

1.   Fungsi Produksi
Dalam hal ini, fungsi produksi menunjukkan berapa besar output, dengan kandungan berkah tertentu, bisa diproduksi dengan input-input yang disuplai kedalam  proses produksi dan dengan jumlah modal/kapital yang tertentu. Fungsi produksi seperti ini bisa dilihat di bawah ini :

ßQ   =   T   f (K, HK, L, E, M, B)                                                                                 (7.17)

Fungsi produksi sebagaimana yang disampaikan di atas bisa direduksi, untuk keperluan analisis, menjadi sebagai berikut :

ßQ   =   T  f (K, HK, L, B)                                                                                           (7. 18)

Mengingat bahwa human capital melekat kepada tenaga kerja, maka ekspresi diatas bisa ditulis dalam bentuk sebagai berikut :

ßQ  =  T  f (K, L, B)

Selanjutnya dengan mengingat bahwa berkah melekat pada setiap input yang lain, maka fungsi produksi bisa ditulis menjadi :

ßQ   =   ßf (ßK, ßL)

Foresubcript B dalam ekspresi di atas menunjukkan adanya kandungan berkah di masing – masing input.
Selain keberadaan berkah yang harus ada dalam setiap produksi, Islam memandang bahwa manusia merupakan faktor produksi yang sangat penting. Manusia mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan input-input yang lain.

2. Produktivitas Rata-Rata
            Produktivitas rata-rata biasanya selalu terkait dengan produktivitas dari suatu input. Produktifitas rata-rata input ini menunjukkan kemampuan suatu unit input tertentu dalam mengasilkan output, secara rata-rata. Definisi dari Produktivitas rata-rata adalah sebagai berikut :
APi =   Q                                                                                (7.22)
           Ii  

Karena dalam produksi semua input digunakan secara bersama-sama (simultan), maka konsep Produktivitas rata-rata ini akan menghasilkan suatu ukuran yang kurang teliti, sebab kontribusi dari faktor dengan faktor lain diasumsikan sama. Mengenai hal tersebut bisa dilihat dalam pembahasan selanjutnya.
            Perlu dilihat di sini bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja secara langsung akan meningkatkan ataupun menurunkan nilai Produktivitas rata-rata dari tenaga kerja tergantung pada tahap mana produksi berada. Sementara di pihak kapital hal ini justru meningkatkan nilai produktivitas kapital rata-rata. Untuk mengetahui hal ini marilah kita ambil lagi persamaan (7.19) dengan mempertimbangkan aspek fisiknya saja.

                        Q = f(K,  L)                                                                                         (7.23)
           
Dengan ekspresi seperti pada persamaan (7.23) di atas, maka bisa diperoleh Produktivitas rata-rata kapital sebagai berikut :

AP1 K1  Q   :   1  f  (K,  L)                
          K            K


AP1 L1  Q   :   1  f  (K,  L)                                                                                     (7. 24)
          L            L


            Marilah sekarang kita telusuri akibat yang ditimbulkan dari peningkatan tenaga kerja pada nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja. Hal ini bisa dilihat pada pemaparan berikut ini :

d   APL      =    f(K, L) L-f (K, L)
dL                        L

d     AP=   1    [   f (K,  L)  -  f   (K,  L)  ]
dL                L                                  L

  APL   =   1   (f (K,  L) -   APL )                                                                               (7. 25)
dL               L
           
Dari ekspresi dalam persamaan (7.25) di atas terlihat bahwa setiap kenaikan tenaga kerja satu unit akan menambah nilai produk sebesar nilai produk marginal fisik di satu pihak sebagaimana diperlihatkan terma pertama dalam ruas kanan. Namun, kenaikan tersebut berjalan dengan tingkat kenaikan yang menurun. Di lain pihak peningkatan jumlah tenaga kerja ini akan menurunkan nilai Produktivitas rata-rata tenaga kerja sebagaimana terlihat pada terma kedua dalam ruas yang sama. Tanda negatif yang ada pada terma tersebut menunjukkan penurunan nilai. Ekspresi di atas menunjukkan bahwa sebagai akibat tambahan jumlah tenaga kerja maka perilaku dari nilai Produktivitas rata-rata tenaga kerja akan mengalami kenaikan pada awalnya dan kemudian akan mengalami penurunan sebagaimana disebutkan di depan. Secara grafis hal ini bisa di paparkan dalam gambar berikut ini :
 

















                                                                                    
Gambar 7.7
Produktifitas Rata-rata dan Marginal (MP)


3. Marginal Physical Of Input Dalam Islam
             Marginal Physical Of Input (MPP) adalah kenaikan jumlah output fisik sebagai akibat dari adanya kenaikan salah satu input fisik, sementara jumlah input fisik lainnya adalah konstan.

a. Penyebab Berubahnya Marginal Physical Of Input
            untuk melihat hal ini marilah kita ambil derivitive total dari persamaan (7.17) diatas sebagai berikut :

dQ  =       dK  +      dHK   +   f   dL  +    f   dE   +    f   dM  +    f  dB
              K             HK                L                E              M            

Anggap bahwa hanya tenaga kerja saja yang mengalami perubahan sementara yang lain jumlahnya tetap. Dengan situasi yang seperti ini maka ekspresi diatas akan menjadi :

dQ  =    f   dL
             L
dQ  =     f
dL         L

dengan cara yang sama kita bisa memperoleh ekspresi dari nilai produk fisik marginal sebagai berikut :

dQ    =   f
dK         K
dQ    =     f
dHK      HK
dQ    =    f
dL          L
dQ    =    f
dE         E
dQ   =   f
dM       M

Dengan demikian, ekspresi dalam persamaan 7. 27 diatas menunjukkan nilai produk marginal fisik dari tenaga kerja, kapital, human capital, energi dan material yang nyata-nyata diperoleh dengan cara meningkatkan jumlah masing-masing input dan membiarkan jumlah input yang lain tetap konstan.
Sebagai ilistrusi adalah suatu proses produksi yang menggunakan dua tahap : tahap I dan tahap II. Dalam tahap I peralatan yang digunakan adalah adalah peralatan I dan pada tahap II peralatan yang digunakan adalah adalah peralatan II. Asumsikan bahwa waktu yang digunakan menyelesaikan pada masing-masing tahap adalah sama dan jumlah tenaga kerja yang dipakai dalam proses produksi ini hanya satu. Dalam situasi seperti ini maka bisa dibayangkan bahwasannya terdapat kapitas peralatan yang menganggur. Ketika tenaga kerja sedang menangani proses pada tahap I, maka peralatan II menganggur demikian juga ketika tenaga kerja sedang menangani proses tahap II pelatan tahap I menjadi tidak terpakai. Dengan cara produksi seperti ini, maka jumlah produksi adalah 10 unit per hari.
            Sekarang dengan tambahan tenaga kerja satu orang lagi, sementara hal-hal yang lain tetap konstan, maka jumlah produksi bisa meningkat sebesar 18 unit dalam satu hari. Kita lihat disini terjadi adanya peningkatan output dari 10 unit menjadi 18 unit. Peningkatan ini mudah ditelusuri asal-muasalnya. Hal ini berasal dari terpakainnya semua peralatan baik peralatan I maupun peralatan II sepanjang waktu secara bergantian diantara semua tenaga kerja yang ada. Ketika tenaga kerja pertama mengerjakan proses I dan menggunakan peralatan I, pada waktu yang sama pekerja kedua mengerjakan proses II dan menggunakan peralatn II, atau sebaliknya. Hal ini terjadi terus menerus secara bergantian yang menyebabkan semua peralatan terpakai sepanjang waktu.
            Dalam situasi seperti ini besarnya nilai produk fisik marginal adalah 8 unit. Hal ini berarti bahwa tambahan satu unit tenaga kerja dalam proses produksi mampu menambah 8 unit output. Ini bisa dikatakan bahwa tenaga kerja terakhir yang masuk memberikan konstribusi dalam produksi sebesar 8 unitboutput per hari.

b. Penurunan Marginal Physical Product
            Dijelaskan bahwa nilai produk marginal fisik dari suatu input akan mengalami penurunan sebagai akibat dari penambahan jumlah input tersebut ke dalam produksi. Sebagai ilustrasi marilah kita lihat kembali ilustrasi di atas. Dengan menambah satu unit  (orang) tenaga kerja, maka pekerja I tidak bisa lagi sebebas sebagaimana pada waktu sebelumnya dalam hal menggunakan peralatan yang ada. Adakalanya bahwa dia harus menunggu sebentar untuk menggunakan peralat yang ada karena peralatan yang bersangkutan masih dalam pemakaian oleh pekerja lainnya. Munculnya waktu tunggu inilah yang menyebabkan jumlah output fisik marginal turun. Jika jumlah pekerja ditambah lebih banyak lagi, maka akan menyebabkan semakin panjangnya waktu tunggu tersebut. Hal ini akan menyebabkan output per kepala menurun dan secara praktis bisa dikatakan bahwa tambahan tenaga kerja yang terakhir dalam proses produksi menyumbangkan tambahan jumlah produksi yang semakin sedikit. Inilah yang menjadi latar belakang menurunnya jumlah nilai produk marginal fisik. Hal ini bisa ditunjukkan melalui ekspresi berikut ini :

Q       >   0
Ii

²    <  0                                                                                                                (7. 28)
I²i

c. Hubungan Antara Produktivitas Rata-Rata Dan Produktivitas Marginal
            Dalam kesempatan ini, marilah kita melakukan analisis mengenai tambahan tenaga kerja sebagaimana ilustrasi yang telah disampaikan di atas. Jika dalam kasus tersebut kita hadapkan kepentingan tenaga kerja di satu sisi, dengan kepentingan pemilik modal  di sisi lain, akan terlihat bahwa marginal produk fisik dari tenaga kerja mengalami penurunan dengan semakin bertambahnya jumlah tenaga kerja dalam proses produksi. Sebaliknya, di pihak pemilik modal akan mengalami peningkatan efesiensi penggunaan modal yang semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena modal yang dalam kasus di atas adalah peralatan produksi akan terpakai sepanjang waktu bahkan tanpa terjadi waktu tunggu bagi peralatan tersebut. Gambaran ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah produk marginal fisik dari tenaga kerja sebagai akibat dari penambahan tenaga kerja justru meningkatkan produktivitas rata-rata dari modal. Untuk melihat hal ini, marilah kita lihat lagi fungsi produksi pada persamaan (7.19) dalam perspektif jangka pendek dan melihat dari sisi fisiknya saja sehingga :

Q  =    f (K, L)                                                                                                             (7. 29)

Dengan ekspresi seperti pada persamaan (7.29) di atas, maka bisa diperoleh nilai produktivitas rata-rata kapital sebagai berikut :

AP1k   =   1   Q   =    1   f  (K, L)                                                                                (7. 30)
               K               K

Jika sekarang jumlah tenaga kerja ditambah sebanyak dL menjadi L’, maka output akan bertambah sebanyak dQ menjadi Q’. padahal pertambahan Q sebanyak dQ bisa dilihat melalui cara yang lain yaitu :
dQ  =     dK  +  f     dL                                                                                       (7. 31)
           K              L
            Dalam kasus ini tenaga kerja bertambah sementara jumlah kapital di kekang untuk tidak bertambah (Dk = 0) sehingga persamaan (7.31) akan berubah menjadi :

dQ  =        dL                                                                                                          (7. 32)
              L
dengan menggunakan persamaan 7.32 kita bisa mendapatkan nilai Q’.   Q’ =  Q  +  dQ

Q’  =   Q  +        dL                                                                                                (7. 32)
                      L

Dari persamaan (7. 33) bisa diperoleh nilai produktivitas rata-rata dari kapital yag baru yaitu:

1  Q’ =    1      {   Q  +  f   dL  }
K            K                    L


1  Q’  =    1     Q   +    1      f    dL
K              K                K     L


Hasil dari ekspresi (7.35) bisa ditulis kembali menjadi :

AP2k  =  AP1k  +   1      f     dL
                           K     L

Dari persamaan (7. 35) di atas bisa dilihat bahwa trjadi peningkatan produktivitas kapital dari nilai yang semula (sebelum terjadinya kenaikan jumlah tenaga kerja), AP1K. namun, sekaligus bisa dilihat adanya kenyataan bahwa kenaikan produktivitas kapital rata-rata ini berasal dari tambahan jumlah tenaga kerja, dL pada terma kedua diruas kanan dalam persamaan (7. 35). di sini menunjukkan bahwa penambahan jumlah tenaga kerja disatu pihak menurunkan nilai produk marginal fisik dari tenaga kerja, tetapi di pihak lain justru meningkatkan nilai produktivitas rata-rata kapital. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kenaikan produktivitas rata-rata kapital tidak bisa dilepaskan begitu saja dari kenaikan jumlah tenaga kerja yang mengoperasikan kapital, peralatan produksi, tersebut.
Dari pembahasan diatas menyajikan diskusi mengenai akibat yang diciptakan oleh penambahan jumlah input tenaga kerja pada nilai produk marginal tenaga kerja dan pada nilai produktivitas rata-rata dari kapital. Maka, sekarang akan di lihat lebih jauh bagaimana dampak dari penambahan jumlah tenaga kerja tersebut pada nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja sendiri. Untuk kepentingan ini marilah kita ambil lagi persamaan (7.19) dengan mempertimbangkan aspek fisiknya saja. Dengan demikian, kita bisa memperoleh nilai produktiviatas rata-rata kapital sebagai berikut :

AP1K  =    1  Q    =      1   f  (K, L)
                K                K
                                                                                                                                   (7. 36)
AP1L  =    1  Q    =     1   f  (K, L)
                 L               L

Dengan penjelasan di atas, sekarang kita telusuri akibat yang ditimbulkan dari peningkatan tenaga kerja pada nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja. Hal ini  bisa dilihat pada pemaparan berikut ini:

d   APL  =    fL   (K,  L) L  -  f  (K, L)
dL                                  L²

d   APL  =   1     [   fL  (K,  L)    f  (K, L)  ]
dL              L                                 L

d   APL  =    1   ( fL  (K,  L) – APL)
dL               L                                                                                                             (7. 37)


Dari penjelasan persamaan (7. 37) tersebut dapat kita simpulkan bahwa setiap kenaikan dari tenaga kerja satu unit akan menambah nilai produk sebesar nilai produk marginal fisik tenaga kerja sebagaimana diperlihatkan oleh terma pertama dalam tanda kurung pada ruas kanan. Namun, kenaikan tersebut berjalan dengan tingkat kenaikan yang menurun sebagaimana diterangkan dalam seksi sebelumnya. Di lain pihak peningkatan jumlah tenaga kerja ini akan menurunkan nilai produktivitas rata-rata tenaga kerja sebagaimana terlihat pada terma kedua dalam ruas yang sama. Tanda negatif yang ada pada terma tersebut menunjukkan penurunan nilai. Ekspresi di atas menunjukkan bahwa perilaku dari nilai produktivitas rata-rata input akan mengalami kenaikan pada awalnya dan kemudian akan mengalami penurunan ketika tambahan yang dihasilkan oleh nilai produk marginal fisik sudah tidak mampu lagi mengurangi penurunan yang disebabkan oleh penurunan nilai produktivitas rata-rata dari input yang bersangkutan.

J. Faktor Produksi Dalam Perekonomian Nasional Indonesia
            Dalam menganalisa studi empirik tentang proses produksi di Indonesia dilihat dari penggunaan faktor produksi yang terdiri dari tiga faktor, yaitu: (a) Faktor Sumber Daya Alam (SDA), berupa tanah dan hutan. (b) Faktor Tenaga Kerja dan (c) Faktor Modal. Yang ketiga faktor tersebut diaplikasikan dalam tiga bidang terbesar perekonomian nasional yaitu; dalam bidang Industri, Pertanian dan Jasa, yang secara tafshilnya akan kita bahas sebagai berikut:

1- Faktor Alam:
Berdasarkan data hasil sensus pertanian yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2003 diketahui bahwa rata-rata luas usaha pertanian di Indonesia relatif sempit, hanya sekitar 0,367 ha/kk untuk rumah tangga padi dan 1,28 ha/kk untuk rumah tangga selain padi (Tabel 1). Di Pulau Jawa yang penduduknya sudah sangat padat, rata-rata luas usaha tersebut sangat sempit, yaitu 0,29 ha/kk dan 0,587 ha/kk. Dengan demikian faktor produksi tanah menjadi pembatas utama dalam upaya peningkatan produksi terutama di bidang pertanian.

Tabel 1. Luas Tanah dan Rumah Tangga Pertanian

      Pulau
Rumah Tangga
 (ribu kk)
Luas Tanah
(ribu ha)
Rata-rata Luas (ha/kk)

Padi
Selain-Padi
Sawah
Selain Sawah
Padi
Selain Padi
Sumatera
2.343
2.465
1.103
4.725
0,471
1,917
Kalimantan
   959
  416
   487
1.652
0,507
3,972
Jawa
7.124
3.892
2.066
2.283
0,290
0,587
Sulawesi
   841
1.198
  504
1.765
0,599
1,474
Bali
  114
  186
   39
  140
0,345
0,753
Nusa Tenggara
  665
  451
  221
  682
0,332
1,513
Maluku
   33
  247
     8
 343
0,228
1,391
Papua
   18
  306
   16
 132
0,884
0,432
INDONESIA
12.098
      9.160
 4.443
    11.722
0,367
1,280
  Sumber Data : BPS, Sensus Pertanian, 2003.

            Dari faktor produksi yang berupa hutan dapat diketahui dari Tabel 2 bahwa 28,3 juta ha hutan alam, atau 21,1% dari total luas hutan di Indonesia, berada dalam konsesi hutan alam yang dipegang oleh para pengusaha hutan yang sewaktu-waktu siap untuk menebang kayu.
 Berdasarkan data Statistik Kehutanan yang diterbitkan oleh Departemen Kehutanan dapat diketahui bahwa sejak terbitnya PP 21/1970 tentang Hak Pengusahaan Hutan dan Hak Pemungutan Hasil Hutan maka areal HPH meningkat terus sampai mencapai puncaknya pada tahun 1981 mencapai 75,59 juta ha dengan jumlah pemegang HPH sebanyak 682 unit. HPH adalah izin yang diberikan untuk melakukan pembalakan mekanis di atas hutan alam yang dilakukan dengan sistem Tebang Pilih Indonesia, yang kemudian disempurnakan lagi menjadi Tebang Pilih Tanam Indonesia. Sejak tahun 1983 areal HPH berkurang terus sehingga pada pada tahun 2001 mencapai terendah, hanya 36,42 juta ha atau 48% dari areal tertinggi pada tahun 1981. Setelah HPH diganti namanya menjadi IUPHHK pada tahun 2002, jumlah areal IUPHHK berkisar 28 juta tetapi dengan jumlah pemegang IUPHHK yang tampak meningkat. Statistik Kehutanan tahun 2007 menunjukkan jumlah IUPHHK sebanyak 324 unit dengan areal 28,27 juta ha atau hanya 37,4% dari luas HPH tertinggi pada tahun 1981.

Tabel 2. Luas Hutan Indonesia, 2007


Luas
Penetapan
Luas Konsesi (ribu ha)
Pinjam
Pulau
Hutan
(ribu ha)
Kawasan
(ribu ha)
Hutan
Alam
Hutan
Tanaman
Pakai
(ha)
 Sumatera
27.639
1.126
2.141
4.309
49.615
Jawa
 3.040
3.145


  3.871
 Kalimantan
40.892
2.541
12.864
3.848
     217.623
 Sulawesi
11.738
2.617
1.918
   250
  7.408
 Bali
    127
   106


     321
 Nusa Tenggara
2.565
1.296

    55
  7.637
 Maluku
7.146
1.425
1.762
    87
12.158
 Papua
40.546
1.982
9.587
1.334
  1.130
Indonesia
133.695
14.239
28.271
9.883
299.763
   Sumber Data : Kementerian Kehutanan RI, Statistik Kehutanan, 2009.

Dari areal HPH tahun 1982 seluas 75,59 juta ha menjadi areal IUPHHK seluas 28,08 juta ha pada tahun 2002, berarti telah terjadi pengurangan areal seluas 47,51 juta ha dalam kurun waktu 20 tahun atau rata-rata 2,38 juta ha per tahun. Jumlah HPH tertinggi sebanyak 710 unit pada tahun 1978 turun dratis menjadi 270 unit IUPHHK pada tahun 2002. Pengurangan areal HPH tersebut sebagian disebabkan adanya pelanggaran hukum oleh pemegang konsesi HPH dan sebagian lainnya karena nilai tegakan pohon di banyak konsesi HPH menurun (Brown, 1999). Dengan kata lain para pemegang HPH atau IUPHHK meninggalkan hutan karena kayunya sudah habis ditebang.
Para pemegang HPH atau IUPHHK yang tidak menjalankan usahanya dengan sebaik-baiknya mempunyai kontribusi terhadap peningkatan lahan kritis. Menurut Departemen Kehutanan penetapan lahan kritis mengacu pada lahan yang telah sangat rusak karena kehilangan penutupan vegetasinya, sehingga kehilangan atau berkurang fungsinya sebagai penahan air, pengendali erosi, siklus hara, pengatur iklim mikro dan retensi karbon. Berdasarkan kondisi vegetasinya, kondisi lahan dapat diklasifikasikan sebagai: sangat kritis, kritis, agak kritis, potensial kritis dan kondisi normal. Data luas lahan kritis yang tersedia di Departemen Kehutanan tahun 1998 merupakan penjumlahan lahan yang termasuk klasifikasi kritis dan sangat kritis, sedangkan untuk tahun 2006 terdapat rinciannya yang termasuk dalam klasifikasi agak kritis, kritis, dan sangat kritis. Untuk mengetahui kenaikan lahan kritis, data yang dibandingkan adalah jumlah lahan dengan klasifikasi kritis dan sangat kritis. Tabel 3 menunjukkan bahwa selama kurun waktu 1998-2006 telah terjadi kenaikan tanah kritis yang sangat dramatis (105%) di Indonesia, terutama terjadi di Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Riau. Konsekuensinya, kemampuan penampungan air hujan menurun sehingga mudah menimbulkan bahaya banjir dan tanah longsor. Disamping itu upaya peningkatan produksi pertanian semakin sulit dicapai.

Tabel 3. Kenaikan Tanah Kritis di Indonesia (ribu ha)

Provinsi
1998
2006
Kenaikan
(2006-1999)
Sangat kritis
2006
1. Kalimantan Timur
1.779
9.542
7.763
8.526
2. Kalimantan Barat
3.066
    10.044
6.978
8.204
3. Riau
   335
7.008
6.673
4.701
4. Sumatera Utara
   469
4.784
4.315
3.257
5. Kalimantan Tengah
1.759
4.912
3.153
2.973
6. Papua
3.369
5.886
2.517
2.185
7. Jambi
   716
2.201
1.485
1.587
8. Kalimantan Selatan
   575
2.044
1.468
1.532
9. Sulawesi Tenggara
   242
2.440
2.198
1.520
10. Lainnya
     10.933
    22.055
      11.123
        13.125
Jumlah
     23.243
    70.916
      47.673
        47.610
   Sumber: Kementerian Kehutanan RI, Statistik Kehutanan, 2000 dan 2009.

Berdasarkan UU Penanaman Modal 1/1967 dan UU Pertambangan 11/1967 para investor asing dapat berusaha di bidang pertambangan dengan membentuk perseroan terbatas (PT) dalam wilayah hukum negara Indonesia. Khusus untuk pertambangan batubara, PT tersebut dapat beroperasi atas Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dengan PT. Tambang Batubara, sedangkan untuk pertambangan mineral PT tersebut melakukan Kontrak Karya (KK) dengan PT. Aneka Tambang. Data statistik dari Direktorat Jenderal Pertambangan Mineral dan Batubara pada tanggal 5 November 2007 menunjukkan bahwa luas areal konsesi PKP2B mencapai 2,61 juta ha dan areal KK mencapai 3,26 juta ha sehingga areal konsesi pertambangan mencapai 5,87 juta ha. Areal konsesi ini belum termasuk areal Kuasa Pertambangan (KP) yang izinnya dikeluarkan oleh Menteri Pertambangan dan Energi, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
Proses penambangan batubara secara terbuka (Gambar 1) pada umumnya menghasilkan kubangan yang sangat luas. Dengan metode gali lubang tutup lubang, maka menurut informasi dari seorang ahli pertambangan di Dinas Pertambangan Provinsi Kalimantan Timur, jika areal yang tertutup kembali mencapai 80% secara teknis sudah dapat dikatakan baik sekali. Hal ini berarti setiap ada pertambangan batubara dengan sistem terbuka hampir pasti akan tercipta kubangan seluas paling tidak 20% dari areal yang ditambang. Data empiris dari Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan Timur menunjukkan bahwa pencapaian areal reklamasi dari luas lahan yang terganggu dalam kawasan pertambangan batubara di Provinsi Kalimantan Timur berkisar 15,9-90,1% atau rata-rata hanya 38,2%. Hal ini menunjukkan bahwa proses pertambangan batubara belum disertai dengan upaya reklamasi yang selayaknya.

Gambar 1, Penambangan Batubara Secara Terbuka

Walaupun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) (UU Nomor 5 Tahun 1960)  pasal 15 menyatakan bahwa: “Memelihara tanah, termasuk menambah kesuburannya serta mencegah kerusakannya adalah kewajiban tiap-tiap orang, badan hukum atau instansi yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah itu, dengan memperhatikan pihak yang ekonomis lemah”, tetapi perusakan tanah karena pertambangan terus terjadi. Bahkan penambangan batubara di Kalimantan Timur telah merubah areal tanah pertanian dan pemukiman warga transmigran menjadi kubangan-kubangan yang sangat luas. Ternyata proses penambangan yang menghasilkan banyak kubangan tersebut dapat terjadi berdasarkan Undang-Undang (UU) Pertambangan (UU Nomor 11 Tahun1967) pasal 30 yang menyatakan bahwa: “Apabila selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan, pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya lainnya bagi masyarakat sekitarnya.” Dengan demikian antara UU Pertambangan dan UUPA telah terjadi disharmoni karena dalam mencegah kerusakan tanah hukumnya wajib pada UUPA, dan tidak wajib pada UU Pertambangan tahun 1967. Yang wajib dalam UU Pertambangan adalah tidak menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya lainnya bagi masyarakat sekitarnya. Dengan kata lain ketentuan pasal 30 UU Pertambangan tidak sejalan dengan ketentuan pasal 15 UUPA.
2- Faktor Tenaga Kerja
Mulai awal tahun 1970-an sampai dengan pertengahan 1990-an (era orde baru) Indonesia telah mengalami transformasi ekonomi yang sangat nyata dibarengi dengan perpindahan penduduk dari bidang pertanian terutama ke bidang jasa (Gambar 2). Namun selama kurun waktu 1998-2009 (era reformasi) pergeseran tenaga kerja dari bidang pertanian ke bidang jasa dan industr1 ternyata berjalan sangat lamban, sehingga pada tahun 2009 sebagian besar (sekitar 40%) tenaga kerja Indonesia masih bergantung di bidang pertanian. Dengan kata lain bidang pertanian masih merupakan tumpuan harapan bagi kehidupan para petani dan tenaga kerja pertanian. Secara absolut tenaga kerja di bidang pertanian masih tumbuh sekitar 0,49% per tahun, sedangkan bidang industri dan jasa berturut-turut tumbuh sekitar 2,47% dan 2,41% per tahun (Tabel 4).
Mayoritas tenaga kerja Indonesia adalah karyawan atau buruh tetap yang jumlahnya tumbuh 3,29% per tahun, sedangkan tenaga kerja yang berusaha dibantu oleh karyawan tetap, berarti para pengusaha,  jumlahnya kurang dari 3% total tenaga kerja dan tumbuh 2,40% per tahun (Tabel 5).



Gambar 2. Perkembangan Pangsa Jumlah Tenaga Kerja Indonesia, 1970-2009
Sumber Data : BPS.

Tabel 4. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja di Bidang Pertanian,
Industri, dan Jasa di Indonesia (juta orang), 1999-2009

Tahun
Pertanian
Industri
Jasa
Total
1999
38,4
15,8
34,6
88,8
2001
39,7
17,0
34,0
90,8
2003
42,0
15,9
32,9
90,8
2005
41,3
17,6
35,0
94,0
2007
41,2
18,8
39,9
99,9
2009
41,6
19,7
43,6
104,9
Pertumbuhan 1999-2009 (%)
0,49
2,47
2,41
1,60
        Sumber Data : BPS.


Tabel 5. Perkembangan Jumlah Tenaga Kerja Menurut Status Pekerjaan
di Indonesia (juta orang), 1999-2009

Tahun

Berusaha Sendiri
Tenaga Keluarga
Berusaha + Buruh Tidak Tetap
Berusaha + Karyawan Tetap
Buruh/
Karyawan
Total

1999
21,7
16,3
18,9
2,6
29,4
88,8
2001
17,5
17,6
20,3
2,8
32,7
90,8
2003
16,7
17,7
22,0
2,7
31,6
90,8
2005
17,3
16,9
21,0
2,8
35,9
94,0
2007
20,3
17,3
21,0
2,9
38,4
99,9
2009
21.0
18.2
21.9
3.0
40.7
104.9
Pertumbuhan 1999-2009 (%)
0,75
0,29
0,72
2,40
3,29
1,60
Sumber Data : BPS, Sensus Pertanian, 2003

3- Faktor Modal
Modal Usaha dapat dipenuhi dari pengusaha sendiri maupun dari dana pinjaman. Berdasarkan Laporan Keuangan Tahun 2009 dari 50 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia terus menerus selama kurun waktu 1989-2009, dapat diketahui bahwa (Tabel 6):
  1. Sepuluh perusahaan dengan modal pemegang saham (equitas) terkecil hanya menguasai 0,7 % dari total nilai equitas, 1,6 % dari total kredit bank, dan menerima 0,4 % dari total profit;
  2. Semakin besar equitas, yang mengindikasikan semakin besar perusahaan, ternyata juga semakin dipercaya untuk menggunakan kredit bank yang semakin besar dan akhirnya memperoleh profit yang semakin besar juga;
  3. Sepuluh perusahaan dengan modal pemegang saham yang tertinggi, ternyata menguasai 78,3% dari total equitas, memperoleh kredit bank sebanyak 62,2% dari total kredit bank, dan meraup profit sebanyak 85,2% dari total profit;
  4. Ketimpangan equitas dan profit perusahaan sangat signifikan, dan hal ini difasilitasi oleh kredit perbankan.
Fakta tersebut di atas memberikan gambaran bahwa perusahaan yang semakin besar justru mendapatkan dukungan dana bank yang semakin besar pula, sehingga sebagian besar modal berputar di sekitar perusahaan besar dan akhirnya meraup sebagian besar profit yang dihasilkan dalam perekonomian.


Tabel 6. Hasil Pengelompokan 50 Perusahaan Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Berdasarkan Ranking Nilai Equitas, 2009

 Kelompok
 Equitas
Kredit Bank 
Profit

Milyar Rp
%
Milyar Rp
%
Milyar Rp
%
I    (20% pertama)
    1088
0,7
    777
1,6
      83
0,4
II   (20% kedua)
    3587
2,1
  1477
3,0
    332
1,5
III  (20% ketiga)
  10513
6,3
  7086
14,2
    688
3,2
IV  (20% keempat)
  21104
12,6
  9471
19,0
  2072
9,7
V   (20% kelima)
130850
78,3
30962
62,2
18296
85,2
Total
167142
100,0
49773
100,0
21471
100,0
Sumber Data : Laporan Keuangan 50 Perusahaan Sampel.

            Selama kurun waktu 1975-2010 dapat diketahui bahwa kredit perbankan dialokasikan 54,7% untuk bidang jasa, 37,1% untuk bidang industri dan hanya 8,2% untuk bidang pertanian (Gambar 3). Dengan demikian telah terjadi bias dalam alokasi kredit di Indonesia, yaitu bidang pertanian yang masih menampung sebagian besar tenaga kerja justru hanya memperoleh sedikit pembiayaan dari kredit perbankan.
J- Keragaan Produksi
Dengan luas tanah yang sangat terbatas, tenaga kerja yang berpendidikan relatif  rendah, dan alokasi kredit yang sangat sedikit, maka dapat diduga bahwa bidang pertanian menghasilkan produk (output) yang tidak menggembirakan. Perkembangan produksi kalori nabati per kapita per hari di Indonesia tampak terus meningkat dalam kurun waktu 1971-1997, tetapi kemudian mengalami stagnasi dalam periode sesudahnya (Gambar 4). Perkembangan produksi kalori hewani tampak terus meningkat dalam kurun waktu 1971-2007, tetapi karena jumlah relatif jauh lebih rendah daripada produksi kalori nabati, maka produksi kalori total (nabati + hewani), juga tampak stagnan dalam kurun waktu 1998-2007.
Gambar 4. Perkembangan Produksi Kalori (kkal/kapita/hari) di Indonesia,
1971-2007
Sumber Data : BPS.

Produksi protein nabati per kapita per hari tampak mengalami kenaikan selama kurun waktu 1971-1992, tetapi kemudian cenderung menurun sampai dengan tahun 2007. Walaupun produksi protein hewani telah mengalami kenaikan terus menerus ternyata hanya mampu mengimbangi penurunan produksi protein nabati, sehingga produksi protein total (nabati+hewan) tetap mengalami stagnasi dalam kurun waktu 1996-2007 (Gambar 5).


Gambar 5. Perkembangan Produksi Protein (g/kapita/hari) di Indonesia,
1971-2007
Sumber Data : BPS.

            Jika dilihat dari data Produksi Domestik Bruto (PDB) yang diterbitkan oleh BPS ternyata pangsa PDB bidang pertanian sudah tampak turun drastis selama kurun waktu 1962-2008, dan sebaliknya bidang industri tampak meningkat signifikan, sedangkan bidang jasa hanya sedikit mengalami peningkatan (Gambar 6). Sebagai konsekuensinya, PDB per kapita di bidang industri tampak meningkat jauh lebih cepat dan menjadi semakin lebih tinggi bila dibandingkan dengan PDB per tenaga kerja di bidang jasa. Dan semakin jauh meninggalkan PDB per tenaga kerja bidang pertanian (Gambar 7).
Dari perkembangan PDB per tenaga kerja bidang pertanian, industri, dan jasa memberikan bukti bahwa distribusi pendapatan antar bidang ekonomi semakin timpang. Hal ini semakin memperkuat argumen bahwa ketimpangan ini disebabkan oleh pengelolaan sumberdaya alam, khususnya tanah dan hutan, dan tenaga kerja, serta alokasi kredit perbankan yang semuanya tidak memihak kepada golongan ekonomi lemah.





 



           

















Gambar 6. Perkembangan Pangsa PDB Bidang Pertanian, Industri, dan Jasa
Di Indonesia (%), 1960-2008

Gambar 7. Perkembangan PDB per Tenaga Kerja Bidang Pertanian, Industri, dan Jasa di Indonesia (juta Rp), 1960-2008
Bila perekonomian Indonesia selama 10 tahun era reformasi dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya, secara umum menunjukkan kinerja yang lebih buruk (Tabel 9), yaitu bahwa:
      1. Inflasi lebih tinggi;
      2. Pertumbuhan ekonomi lebih rendah;
      3. Ketimpangan pendapatan cenderung semakin timpang;
      4. Konsumsi kalori cenderung menurun, protein meningkat;
      5. Persentase penduduk miskin lebih besar;
      6. Transformasi ekonomi berjalan lamban.

Tabel 9. Perbandingan Kinerja Ekonomi Indonesia, Sebelum dan Sesudah Reformasi

  Indikator Ekonomi
 1987-1996
 2000-2009
Dasar Perhitungan 
  Inflasi (%)
7,8 
8,6
  IHK
 Pertumbuhan Ekonomi   (%)
 6,9
5,1 
  PDB harga konstan 
  Ketimpangan Pendapatan
       40% bawah
       40% tengah
       20% atas
       Indeks Gini
 20,7
36,5
42,8
0,335
20,1
36,9
43,0
0,343 
  Susenas




  Konsumsi
        Kalori (kkal/kapita/hari)
        Protein (g/kapita/hari)
1990
49 
1985
56 
  Susenas

   
  Penduduk Miskin (%)
 15,9
 17,0
 Susenas 






Gambar 3. Perkembangan Pangsa Alokasi Kredit Perbankan di Indonesia, 1974-2009
Sumber Data : Bank Indonesia.

Rangkuman:
1- Dalam mendefinisikan produksi, secara esoteris “produksi” dalam bahasa Arab disebut: “al-intaj” yang memiliki makna ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan produk) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdamin muzayyajin min anashiril intaji dhamina itharu zamanin muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas). Lebih jauh dikatakan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfa’at (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut. Produksi dalam pandangannya harus mengacu pada value of utility dan masih dalam bingkai nilai “halal” serta tidak membahayakan bagi diri sendiri atau orang lain dan kelompok tertentu.

2. Teori Produksi telah banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, saw. akan tetapi dengan bahasa yang lebih tajam dan dinamis yaitu dengan bekerja dan beinvestasi. Karena keduanya merupakan faktor tepenting untuk menghasilkan pendapatan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Bahkan Al-Qur’an dan Sunnah sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berinvestasi dengan memberikan justifikasi wajib bagi manusia untuk melakukan produksi. Disisi lain Sumber hukum Islam ini memulyakan manusia yang bekerja dan berproduksi sehingga manusia yang berproduksi dengan cara jujur akan mendapatkan kemulyaan di akhirat nanti bersama para nabi, para syuhad’ dan shalihin.

3. “Tingkat kesalehan seseorang mempunyai korelasi positif terhadap tingkat produksi yang dilakukannya. Jika seseorang semakin meningkat nilai kesalehannya maka nilai produktifitasnya juga semakin meningkat, begitu juga sebaliknya jika keshalehan seseorang itu dalam tahap degradasi maka akan berpengaruh pula pada pencapaian nilai produktifitas yang menurun.

4. Sistem produksi dalam suatu negara Islam harus dikendalikan oleh kriteria objektif maupun subjektif; kriteria yang objektif akan tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang dapat diukur dari terpenuhinya sumber daya ekonomi, dan kriteria subjektifnya dalam bentuk kesejahteraan yang diukur dari segi etika ekonomi yang didasarkan atas perintah-perintah Kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah.

5. Sebuah produk menjadi sangat berharga atau tidaknya itu disebabkan tidak hanya adanya atribut fisik yang melekat pada produk tersebut. Akan tetapi peran nilai yang melekat pada produk tersebut memberikan kontribusi yang dipandang berharga oleh konsumen. Konsep ekonomi Islam tentang atribut fisik suatu barang tidak berbeda, akan tetapi nilai-nilai yang melekat kepada produk harus sesuai dengan islamic values. Sehingga dengan adanya nilai itu menjadikan barang dan jasa itu berkah sehingga bermaslahah pada penggunanya.

6. Semua kegiatan produksi membutuhkan sumber daya ekonomi yang biasa disebut dengan input atau faktor produksi. Secara garis besar faktor produksi dapat diklasifikasikan ke dalam input manusia dan input nonmanusia. Dan berkah adalah komponen terpenting dalam menjadikan produk itu memiliki nilai maslahah, oleh karena itu harus melekat pada setiap input yang digunakan dalam berproduksi dan proses produksi sehingga output produksi itu bernilai berkah di sisih Allah, swt..

7. Sebuah karakter terpenting produksi dalam perspektif ekonomi Islam adalah menempatkan manusia sebagai titik central perhatiannya sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat kualitas kehidupannya. Maka Islam lebih memulyakan sistem produksi yang mengedepankan labor intensive dari pada capital intensive sehingga semua manusia akan mendapatkan income pendapatan yang cukup seimbang dengan capital intensive yang didapatkan berujung pada tercukupinya kesejahteraan bagi setiap manusia.   

8. Konsep produksi yang sesuai dengan nilai Islam adalah konsep tehnologi konstan, yang bermakna bahwa teknologi yang digunakan itu dapat memanfa’atkan sumber daya manusia secara maksimal sehingga sumber faktor produksi ini mampu meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaannya. Oleh karena itu, permasalahan produksi tidaklah mencari tehnologi produksi secara maksimal yang berdampak pada mendapatkan keuntungan maksimum, melainkan mencari jenis output dari berbagi kebutuhan manusia yang dapat diproduksi dengan tehnologi yang sudah ada ini sehingga diperoleh maslahah maksimum.

9. Kemaslahatan akan dicapai secara optimal apabila pada saat slope (gradient) antara kurva iso-maslahah dan kurva iso input adalah sama. Secara matematis produsen harus mampu menyamakan nilai rasio maslahah marginal barang X dan maslahah marginal barang  Y  sama dengan rasio input marginal dalam memproduksi barang  X  dan input marginal  dalam memproduksi barang Y.
10. Secara empiris dalam perekonomian nasional dari sisi produktifitas alam telah mengalami kritis pemberdayaan, dan dari sisi tenaga kerja sektor jasa yang telah menyerap tenaga kerja terbesar kemudian disusul sektor pertanian dan industri menurut data  BPS pertumbuhan tenaga kerja tahun 1999-2009. sedangkan dari sisi modal, dalam sektor pertanian yang menyerap tenaga kerja yang besar akan tetapi diberikan peluang yang kecil terhadap akses modal.

11. Dalam perjalanan perekonomian Indonesia selama 10 tahun era reformasi dibandingkan dengan 10 tahun sebelumnya, secara umum menunjukkan kinerja yang lebih buruk (Tabel 9), yaitu bahwa: Inflasi lebih tinggi, Pertumbuhan ekonomi lebih rendah, Ketimpangan pendapatan cenderung semakin timpang, Konsumsi kalori cenderung menurun, protein meningkat, Persentase penduduk miskin lebih besar, Transformasi ekonomi berjalan lamban.


Referensi:

ü  Afzalurrahman, “Doktrin Ekonomi Islam Jilid I”, PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995. Yogyakarta.
ü  Al-Jamal, Muhammad, “Mausu’atu al-Iqtishad al-Islamy”, Dar al-Kitab al-Mashry, tahun 1980.
ü  Al-Masry, Rafiq Yunus, “Ushulul Iqtishad al-Islamy”, hal. 89.
ü  Al-Washoby, Abdul Wahab, “Al-Barakah Fi Fadhli as-Sa’yi wal Harakah”, Maktabah Khanji, Kairo, Dar Syuruq, tahun 2005.
ü  Ar-Razy, Abu Bakar Ahmad bin Ali, “Al-Jashash Fi Ahkamil Qur’an”, juz. 3, hal. 165.
ü  Chapra, M. Umar, “Islam dan Tantangan Ekonomi”, GIP dan Tazkia Institute, cet. I, tahun 2000, Jakarta.
ü  Dunya, Syauqi Ahmad, “Al-Islam wa at-Tanmiyah al-Iqtishadiyah”, hal. 28.
ü  Eko Suprayitno, “Ekonomi Mikro Perspektif Islam”, UIN-Malang  Press, Cet. I 2008, Malang.
ü  Fanjary, Muhammad Syauqi, “Al-Madzhab al-Iqtishadi Fil Islam”, Al-Haiah Al-Mashriyah Al-Ammah, 2006, Kairo.
ü  Hamzah Al-Jumai’I ad-Damuhy, “Awamilul Intaj Fil-Iqtishad al-Islamy”, Dar Thib’ah Wan-Nasyr al-Islamiyah.
ü  Ibnu Taimiyah, Imam, “As-Siyasah as-Syar’iyah”. Tanpa tahun.
ü  Ibrahim Lubis. “Ekonomi Islam Suatu Pengantar”, Kalam Mulia, Cet.I, 1995, Jakarta.
ü  Kahf, Monzer, “Ekonomi Islam; Telaah Analitik Terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam”, Pustaka Pelajar, Cet. I, 1995, Yogyakarta.
ü  Karim, Adiwarman Azwar, “Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam”, Raja Grafindo Persada, 2006, Jakarta.
ü  Mahmud, Mushtafa, “Al-Marksiyah Fil Islam”, hal. 75.
ü  Manan, M. Abdul, “Teori dan Praktek Ekonomi Islam”, PT. Dhana Bhakti Wakaf, Yogyakarta.
ü  Masyhur, Nikmat Abdul Lathif, “Az-Zakat; Al-Asar al-Inmaiy wa at-Tauzi’I”, hal. 143.
ü  Misanan, Munrokhim, dkk. “Ekonomi Islam”, P3EI, UII Yogyakarta, cet. Raja Grafindo, Jakarta, 2008.
ü  Muhammad, Abdul Halim Umar, “Al-Manhaj al-Islamy Fi Majali al-Intaj”, dalam Kitab al-Qiyam al-Ahlaqiyah al-Islamiyah wal Iqtishad”. Pusat Riset Ekonomi Islam, Shaleh Kamil, Univ. AL-Azhar, April, tahun 2000.
ü  Mustafa Edwin Nasution, Budi Setyanto, dkk. “Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam”, Kencana Prenada Media Group, Cet. II, 2007, Jakarta.
ü  Syaibani, Muhammad Imam, “Al-Iktisab Fir Rizqi al-Mustathab”, Maktabah Nasyru Saqafah Islamiyah, Kairo, tahun 1357 H/1938 M.
ü  Yusuf, Abu, “Al-Khorroj”, hal. 93  dan setelahnya.
ü  BPS, Sensus Pertanian, 2003.
ü  Kementerian Kehutanan RI, Statistik Kehutanan, 2009.
ü  Kementerian Kehutanan RI, Statistik Kehutanan, 2000 dan 2009









































[1]. Disusun dan dipresentasikan oleh. Lathif Hakim, Lsq. M.I.Ec. dan  Prof. Dr. Tumari Jatileksono
[2].  Ar-Razy, Abu Bakar Ahmad bin Ali, “Al-Jashash Fi Ahkamil Qur’an”, juz. 3, hal. 165.
[3]. Hamzah Al-Jumai’I ad-Damuhy, “Awamilul Intaj Fil-Iqtishad al-Islamy”, Dar Thib’ah Wan-Nasyr al-Islamiyah, hal. 210. 
[4].  Mushtafa Mahmud, “Al-Marksiyah Fil Islam”, ibid. hal. 75.
[5]. Muhammad Syaibani, “Al-Iktisab Fir Rizqi al-Mustathab”, Maktabah Nasyru Saqafah Islamiyah, Kairo, tahun 1357 H/1938 M, cet. I, hal. 14.
[6].  Muhammad Syaibani, “Al-Iktisab Fir-Rizqi al-Mustathab”, ibid. hal. 35.
[7].  Nikmat Abdul Lathif Masyhur, “Az-Zakah; Al-Asar al-Inmaiy wat Tauzi’I”, ibid. hal. 141.
[8].  Rafiq Yunus Al-Masry, “Ushulul Iqtishad al-Islamy”, ibid. hal. 89.
[9].  Imam Ibnu Taimiyah, “As-Siyasah as-Syar’iyah”, ibid. hal. 26.
[10].  Abu Yusuf, “Al-Khorroj”, ibid. hal. 93  dan setelahnya.
[11].  Syauqi Ahmad Dunya, “Al-Islam wa at-Tanmiyah al-Iqtishadiyah”, ibid. hal. 28.
[12].  Imam Ibnu Taimiyah, “As-Siyasah Syar’iyah”, ibid. hal. 27.
[13].  Syauqi Ahmad Dunya, “Al-Islam wa at-Tanmiyah al-Iqtishadiyah”, ibid. hal. 150-151.
[14].  Nikmat Abdul Lathif Masyhur, “Az-Zakah; Al-Asar al-Inmaiy wa at-Tauzi’I”, ibid. hal. 142.
[15].  Nikmat Abdul Lathif Masyhur, “Az-Zakat; Al-Asar al-Inmaiy wa at-Tauzi’I”, ibid. hal. 143.
[16]. Abdul Wahab al-Washoby, “Al-Barakah Fi Fadhli as-Sa’yi wal Harakah”, Maktabah Khanji, Kairo, Dar Syuruq, tahun 2005, hal. 57-58.
[17]. Muhammad Abdul Halim Umar, “Al-Manhaj al-Islamy Fi Majali al-Intaj”, dalam Kitab al-Qiyam al-Ahlaqiyah al-Islamiyah wal Iqtishad”. Pusat Riset Ekonomi Islam, Shaleh Kamil, Univ. AL-Azhar, April, tahun 2000, hal. 12.
[18]. Hadis dikeluarkan oleh Ad-Dailamy dalam “Musnad al-Firdaus”.
[19]. Muhammad Al-Jamal, “Mausu’atu al-Iqtishad al-Islamy”, Dar al-Kitab al-Mashry, tahun 1980, hal. 147.